Slot Header 970×90

10 Tari Tradisional Bali yang Wajib Dikenal Wisatawan

Oleh Putri · null

21 Oktober 2026 pukul 12.51 WITA · 8 menit baca

Pertunjukan Tari Kecak di panggung terbuka Pura Luhur Uluwatu, Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.
Pertunjukan Tari Kecak di panggung terbuka Pura Luhur Uluwatu, Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. — Foto: Midori/Wikimedia Commons (CC BY 3.0)

Bagi masyarakat Bali, tari bukan sekadar tontonan. Banyak tarian lahir dari upacara di pura, menjadi persembahan kepada para dewa, penolak bala, atau penanda sempurnanya sebuah yadnya, sementara yang lain tumbuh sebagai hiburan rakyat dan seni pertunjukan istana. Kekayaan inilah yang membuat Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO, dalam sidang ke-10 di Windhoek, Namibia, pada 2 Desember 2015, menetapkan tiga genre tari tradisi Bali sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.

Ketiga genre itu adalah tari wali (sakral), tari bebali (semi-sakral), dan tari balih-balihan (hiburan). Tari wali dipentaskan di halaman paling suci pura, tari bebali mengiringi upacara di halaman tengah, sedangkan balih-balihan digelar di halaman luar atau panggung pertunjukan. Berikut 10 tari tradisional Bali yang wajib dikenal wisatawan, mulai dari yang bisa disaksikan di panggung wisata hingga yang hanya hadir dalam upacara, ditutup dengan tips menonton dengan hormat di bagian akhir artikel.

1. Tari Kecak

Gambar berita

Foto: Anom Harya/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Puluhan penari pria duduk melingkar bertelanjang dada dengan kain kotak-kotak hitam putih di pinggang, lalu serempak menyerukan "cak" sambil mengangkat kedua lengan. Tanpa gamelan, hanya suara para penari dan gemerincing kincringan di kaki pemeran tokoh, Kecak menghidupkan kisah Ramayana, saat pasukan kera membantu Rama merebut kembali Dewi Sita dari Rahwana.

Kecak berakar dari ritual sanghyang, tarian kerauhan untuk berkomunikasi dengan dunia niskala. Sekitar tahun 1930-an, seniman Wayan Limbak bersama pelukis Jerman Walter Spies mengolah tradisi itu dengan petikan kisah Ramayana, lalu Limbak mempopulerkannya lewat lawatan ke berbagai negara. Kini Kecak menjadi salah satu pertunjukan paling dicari wisatawan, terutama dengan latar senja di tebing Uluwatu.

Tempat menyaksikan: Panggung terbuka Pura Luhur Uluwatu, Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, menjelang senja. Pertunjukan Kecak juga digelar di Panggung Budaya Pantai Melasti, Desa Ungasan, Kuta Selatan.

2. Tari Barong

Gambar berita

Foto: Michael Gunther/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Tari Barong menampilkan pertarungan abadi antara Barong, makhluk mitologis pelambang kebaikan (dharma), melawan Rangda, sosok menyeramkan bertaring yang melambangkan keburukan (adharma). Pertarungan yang tak pernah benar-benar dimenangkan salah satu pihak ini mencerminkan konsep Rwa Bhineda, keyakinan masyarakat Hindu Bali bahwa baik dan buruk selalu hadir berdampingan.

Kostum Barong Ket memadukan wujud singa, harimau, dan lembu, dihiasi ukiran kulit, kepingan cermin, dan bulu dari serat daun pandan. Satu Barong digerakkan oleh dua penari: seorang di depan memainkan kepala dan kaki depan, seorang lagi di belakang menggerakkan kaki belakang serta ekornya. Salah satu lakonnya, Barong Ket "Kuntisraya" dari Kabupaten Badung, termasuk sembilan tari Bali yang diakui UNESCO.

Tempat menyaksikan: Desa Seni Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, yang dikenal dengan pertunjukan Tari Barong untuk wisatawan.

3. Tari Legong Keraton

Gambar berita

Foto: Arian Zwegers/Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

Nama Legong berasal dari kata "leg" atau "oleg" yang berarti gerak luwes, dan "gong" yang berarti gamelan. Tarian klasik ini memang dikenal dengan gerak yang rumit dan terikat erat pada aksen gamelan Semar Pagulingan yang mengiringinya. Legong dikembangkan di keraton-keraton Bali pada paruh kedua abad ke-19; kisahnya bermula dari seorang pangeran Sukawati yang, saat sakit keras, bermimpi melihat dua gadis menari dengan gemulai.

Legong Lasem atau Legong Keraton adalah versi yang paling populer dalam pertunjukan wisata. Dua penari legong yang membawa kipas tampil bersama seorang condong, membawakan cerita Panji tentang Raja Lasem yang hendak meminang Putri Rangkesari. Legong Kraton dari Kota Denpasar termasuk dalam berkas tari Bali yang diakui UNESCO pada 2015.

Tempat menyaksikan: Halaman Puri Saren Agung, Jalan Raya Ubud, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, yang menggelar pementasan tari Bali pada malam hari, termasuk Legong.

4. Tari Pendet

Gambar berita

Foto: Hendri Suhandi/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Pada awalnya, Pendet adalah tari pemujaan yang dipentaskan di pura untuk menyambut turunnya para dewata ke dunia. Para penari putri mengenakan busana upacara dan membawa perlengkapan sesajen seperti sangku, kendi, dan cawan, lalu menari menghadap ke arah pelinggih atau area suci pura, biasanya setelah Tari Rejang.

Seiring waktu, seniman Bali mengolah Pendet menjadi tari "ucapan selamat datang" tanpa menghilangkan unsur sakral-religiusnya. Bentuk modernnya digarap oleh maestro I Wayan Rindi bersama Ni Ketut Reneng, dan para ahli seni pertunjukan Bali sepakat menjadikan 1950 sebagai tahun kelahiran Tari Pendet. Pada 1961, perintis sendratari Bali I Wayan Beratha mengolahnya kembali dengan tambahan gerak dan jumlah penari. Taburan bunga yang menjadi ciri khasnya membuat Pendet kerap tampil sebagai tari pembuka.

Tempat menyaksikan: Acara penyambutan tamu dan pentas seni di berbagai daerah di Bali; dalam fungsi aslinya, Pendet hadir di halaman pura saat upacara.

5. Tari Baris

Gambar berita

Foto: Hendri Suhandi/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Baris adalah tari perang tradisional Bali yang menggambarkan perasaan seorang pahlawan muda sebelum maju ke medan laga, memancarkan kejantanan dan kemantapan kepemimpinan. Dalam bahasa Bali, baris berarti barisan, khususnya barisan prajurit yang berbakti kepada raja. Masyarakat Bali memperkirakan tarian ini sudah ada sejak abad ke-16.

Selain Baris tunggal yang sering tampil di panggung, ada Baris Upacara, seperti Baris Gede, yang ditarikan berkelompok oleh penari pria dengan membawa senjata dalam upacara Dewa Yadnya. Tarian ini melambangkan widyadara yang mengawal Ida Betara turun ke dunia saat piodalan sekaligus menyambut kedatangan para dewa. Baris Upacara dari Kabupaten Bangli, yang dipentaskan di Pura Batur, termasuk dalam berkas tari Bali yang diakui UNESCO.

Tempat menyaksikan: Baris Upacara hadir dalam piodalan di pura, seperti di Pura Batur, Kabupaten Bangli; Baris tunggal kerap dipentaskan dalam pertunjukan tari untuk umum.

6. Topeng Sidhakarya

Gambar berita

Foto: I Kadek Jaya Wiguna/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Dengan topeng berwajah putih, rambut panjang terurai, dan gerak yang berwibawa, Topeng Sidhakarya biasanya tampil di akhir rangkaian upacara besar sebagai tanda bahwa yadnya telah berlangsung sempurna. Kata "sidakarya" sendiri dimaknai sebagai upacara yang telah selesai dengan sukses.

Menurut Babad Sidakarya, tradisi ini berkaitan dengan perjalanan suci seorang pendeta dari Jawa ke Bali hingga berdirinya Pura Dalem Sidakarya di Desa Sidakarya, Denpasar. Dalam pementasannya, penari menaburkan beras kuning sebagai simbol kesejahteraan dan perlindungan agar upacara berjalan lancar tanpa gangguan niskala. Topeng Sidhakarya termasuk tari semi-sakral (bebali) yang diakui UNESCO.

Tempat menyaksikan: Upacara yadnya di pura dan rumah warga di seluruh Bali; Pura Dalem Sidakarya berada di Desa Sidakarya, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar.

7. Dramatari Gambuh

Gambar berita

Foto: Ni Ketut Sri Laksmi/Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

Gambuh dianggap sebagai dramatari klasik tertua dan paling kaya gerak di Bali, sehingga disebut sebagai sumber hampir semua tari klasik Bali. Diperkirakan muncul sekitar abad ke-15, Gambuh membawakan cerita Panji tentang romantika dan peperangan kerajaan-kerajaan Jawa Timur pada abad ke-12 hingga ke-14. Pada masa kerajaan, hampir setiap puri memiliki bangunan khusus bernama Bale Pagambuhan.

Gambuh adalah teater total yang memadukan tari, drama, tembang, sastra, dan seni rupa, diiringi gamelan Penggambuhan berlaras pelog saih pitu. Tokoh-tokoh utama berdialog dalam bahasa Kawi, lalu tokoh abdi seperti Turas, Panasar, dan Condong menerjemahkannya ke bahasa Bali agar dipahami penonton. Kini Gambuh lebih banyak dipentaskan untuk mengiringi upacara di pura.

Tempat menyaksikan: Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, salah satu desa yang masih aktif melestarikan Gambuh, selain antara lain Kedisan (Gianyar), Budakeling (Karangasem), dan Pedungan (Denpasar).

8. Joged Bumbung

Gambar berita

Foto: Manik Agung/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Joged Bumbung adalah tari pergaulan yang paling akrab dengan penonton. Penari perempuan menari lincah dan penuh improvisasi, lalu mengajak penonton pria, yang disebut pengibing, naik ke arena untuk menari bersama. Iringannya adalah gamelan berbahan bambu yang dikenal sebagai gamelan gerantangan, sehingga suasananya terasa riang.

Tarian ini biasa dipentaskan dalam acara kemasyarakatan seperti pernikahan, selepas panen, dan hari raya. Joged Bumbung dari Kabupaten Jembrana termasuk dalam berkas tari Bali yang diakui UNESCO. Belakangan sempat muncul versi joged yang dinilai terlalu erotis, sehingga sejumlah sekaa tari kembali menekankan pakem joged klasik yang menjunjung etika.

Tempat menyaksikan: Acara adat, hiburan rakyat, dan perayaan di desa-desa di Bali, termasuk di Kabupaten Jembrana.

9. Tari Rejang

Gambar berita

Foto: Hendri Suhandi/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Rejang adalah tari sakral yang ditarikan oleh kaum perempuan sebagai persembahan dan wujud bakti kepada para dewa. Geraknya sederhana namun anggun, ditarikan dengan penuh khidmat sambil berbaris melingkari halaman pura atau pelinggih, kadang dengan saling berpegangan tangan. Para penarinya mengenakan busana upacara yang meriah dengan hiasan kepala dari bunga.

Rejang memiliki banyak ragam di berbagai desa, misalnya Rejang Daha yang dipentaskan di Pura Desa Asak, Karangasem, dengan iringan gamelan Salunding. Rejang Dewa dari Kabupaten Klungkung menjadi salah satu wakil tari sakral (wali) dalam berkas tari Bali yang diakui UNESCO. Karena merupakan bagian dari upacara, Rejang tidak dipentaskan sebagai pertunjukan wisata.

Tempat menyaksikan: Upacara piodalan di pura desa di seluruh Bali; foto di atas menampilkan Rejang di Desa Nongan, Kabupaten Karangasem.

10. Tari Sanghyang

Gambar berita

Foto: Bathyaangga/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Sanghyang adalah tari kerauhan warisan budaya pra-Hindu yang berfungsi sebagai penolak bala atau wabah penyakit. Penarinya menari dalam keadaan tidak sadar karena dimasuki hyang atau roh, diiringi paduan suara yang melantunkan Gending Sanghyang. Setiap pementasan selalu memuat tiga unsur penting: asap atau api, Gending Sanghyang, dan medium berupa orang atau boneka.

Ragamnya banyak. Sanghyang Dedari ditarikan dua gadis yang masih suci dengan mata terpejam namun bergerak serempak seperti Legong; tarian ini tidak ditampilkan di depan umum dan menjadi wakil Karangasem dalam berkas UNESCO. Adapun Sanghyang Jaran, seperti pada foto, ditarikan seorang pria atau pemangku yang menunggang kuda-kudaan dari pelepah daun kelapa dan menginjak bara api batok kelapa, dan dikenal antara lain di Klungkung, Badung, Gianyar, dan Bangli.

Tempat menyaksikan: Upacara khusus di desa-desa di Bali saat masyarakat memohon keselamatan; Sanghyang bukan pertunjukan wisata.

Tips menonton tari Bali dengan hormat

Bedakan pertunjukan wisata dengan tari upacara. Kecak, Barong, dan Legong mudah dinikmati di panggung wisata, sedangkan Rejang, Baris Upacara, Topeng Sidhakarya, dan Sanghyang adalah bagian dari ritual. Jika berkesempatan menyaksikan upacara, kenakan kain dan selendang, duduk dengan sopan, jangan melintasi arena tari, matikan lampu kilat kamera, dan ikuti arahan pecalang atau panitia setempat. Di panggung wisata, datanglah lebih awal untuk mendapat tempat duduk dan beli tiket hanya di loket resmi pengelola.

Wisatawan mancanegara wajib membayar Pungutan Wisatawan Asing sebesar Rp150.000 per orang melalui lovebali.baliprov.go.id. Pemprov Bali juga memperpanjang pengaturan pembelian BBM bersubsidi dengan skema ganjil-genap nomor pelat kendaraan hingga Jumat, 23 Oktober 2026, jadi rencanakan pengisian bahan bakar sebelum menuju Uluwatu, Ubud, atau desa-desa seni di Gianyar. Jadwal pertunjukan, harga tiket, dan aturan kunjungan dapat berubah, sehingga sebaiknya cek informasi terbaru kepada pengelola sebelum berangkat.

Putri

Putri

null

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.