Pojok NarasiPAGERWESI: PENGETAHUAN SEBAGAI BENTENG KEHIDUPANHari suci Pagerwesi jatuh pada rahina Buda Kliwon Wuku Sinta, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian hari suci Saraswati. Pagerwesi mengandung pesan filosofis yang mendalam tentang pentingnya membangun benteng kehidupan dengan pengetahuan, kebijaksanaan, dan keteguhan menjalankan Dharma. Secara harfiah, Pagerwesi berasal dari dua kata, yakni pager yang berarti pagar atau benteng, dan wesi yang berarti besi. Pagar besi merupakan simbol perlindungan yang kuat, kokoh, dan sulit ditembus. Besi dipilih sebagai simbol karena memiliki sifat keras dan kuat, sehingga dapat digunakan untuk melindungi sesuatu yang dianggap berharga.Penulis: AAGN Ari Dwipayana· 3 hari lalu· 7 mnt baca
Pojok NarasiBANYU PINARUH: Menyucikan Pengetahuan, Menjernihkan PikiranBALINEWS - Dalam tradisi Hindu Bali, hari suci Saraswati bukanlah perayaan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian rerainan jagat yang sarat dengan pesan filosofis. Rangkaian itu dimulai dari Watugunung Runtuh, Sandang Wangke, Budi Urip, Saraswati, Banyu Pinaruh, Soma Ribek, Sabuh Mas, hingga Pagerwesi. Setiap tahapan memiliki makna yang saling bertaut, terutama dalam perjalanan manusia mencari, memperoleh, dan mengamalkan ilmu pengetahuan. Salah satu tahapan penting adalah Banyu Pinaruh, yang jatuh pada Redite Paing Wuku Sinta, sehari setelah hari suci Saraswati. Hari ini sekaligus menandai pergantian dari Wuku Watugunung menuju Wuku Sinta. Dalam sistem Wariga Bali, Wuku Sinta merupakan wuku pertama dari 30 wuku yang membentuk satu siklus pawukon. Pergantian wuku ini memiliki makna simbolis yang mendalam. Setelah melewati Wuku Watugunung, yang dalam mitologi dikaitkan dengan keruntuhan keangkuhan dan kesombongan, manusia memasuki Wuku Sinta sebagai permulaan baru.Penulis: AAGN Ari Dwipayana· 6 hari lalu· 5 mnt baca
Pojok NarasiSARASWATI: DARI RITUAL MENUJU BUDAYA LITERASIOleh : AAGN Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud Saniscara Umanis Wuku Watugunung merupakan rerainan jagat yang mengingatkan kita tentang pentingnya ilmu pengetahuan…Penulis: AAGN Ari Dwipayana· 31 Okt 2026· 4 mnt baca
Pojok NarasiDua Pengadilan Bicara, Siapa Bertanggung Jawab atas Lolosnya Dokumen Pendidikan Gibran?Dua pengadilan menyentuh dokumen pendidikan Gibran. Siapa bertanggung jawab atas lolosnya surat yang kini dinyatakan tidak sah oleh MA?Penulis: Giostanovlatto Sinantong· 31 Okt 2026· 3 mnt baca
Pojok NarasiBUDA URIP: MENGHIDUPKAN KEBIJAKSANAAN, MEMBUMIKAN PENGETAHUANHari ini, Rabu, 28 Oktober 2026, bertepatan dengan Buda Pon Wuku Watugunung, yang dalam tradisi Hindu Bali dikenal sebagai Buda Urip. Rerainan jagat ini merupakan bagian dari rangkaian hari suci menjelang turunnya ilmu pengetahuan pada Hari Saraswati, Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Buda Urip bukan sekadar penanda waktu dalam kalender ritual Bali. Di dalamnya terkandung pesan filosofis yang mendalam tentang perjalanan manusia dalam memperoleh pengetahuan, menumbuhkan kebijaksanaan, dan mewujudkannya dalam tindakan nyata. Rangkaian itu dimulai dari Redite Kliwon Watugunung atau Watugunung Runtuh, dilanjutkan dengan Soma Pon Watugunung atau Sandang Wangke, kemudian Buda Pon Watugunung atau Buda Urip, hingga mencapai puncaknya pada Hari Saraswati.Penulis: AAGN Ari Dwipayana· 28 Okt 2026· 5 mnt baca
SERIES PEREMPUAN MENYOROTI DUNIA : NYAWIT, NYAWIT, NYAWIT !Oleh : Penulis Putu ‘Matra’ Durga Laksmi Devi S.Fil., S.Sn., M.Sn. Hutan menyusut, perkebunan meluas, dan angka pertumbuhan ekonomi terus dirayakan. Kelapa sawit menjadi salah…Oleh Matra Durga· 26 Okt 2026· 7 mnt baca
Pojok NarasiWATUGUNUNG RUNTUH: MERUNTUHKAN EGO, MEMBUKA JALAN REKONSILIASIPurnama Kalima tahun ini, 25 Oktober 2026, bertepatan dengan Redite Kliwon Wuku Watugunung, yang dalam tradisi Bali dikenal sebagai Watugunung Runtuh. Pertemuan dua momentum dalam kalender ritual Bali ini memiliki makna spiritual yang mendalam. Purnama merupakan simbol kepenuhan dan kejernihan cahaya, sedangkan Watugunung Runtuh mengingatkan manusia tentang pentingnya meruntuhkan keangkuhan dan kesombongan diri. Watugunung Runtuh bukan sekadar penanda pergantian wuku dalam sistem pawukon Bali. Ia menjadi bagian dari rangkaian hari suci yang mengantarkan umat Hindu menuju perayaan turunnya ilmu pengetahuan suci, Ida Sang Hyang Aji Saraswati.Penulis: AAGN Ari Dwipayana· 26 Okt 2026· 8 mnt baca
SERIES MENELANJANGI REALITAS PEREMPUAN : TUNTUTAN ADAT MENCEKIK, UPAH MENGGELITIKOleh Putu Durga Laksmi Devi S.Fil., S.Sn., M.Sn. Sebagai perempuan yang hidup dalam pusaran tradisi Bali, realitas keseharian kita sering kali dikerdilkan menjadi pemandangan yang…Oleh Matra Durga· 20 Okt 2026· 6 mnt baca
Pojok NarasiREKONSILIASI SETENGAH HATI? MEMBACA SIKAP PHDI PEMURNIAN PASCA-MAHASABHA XIIIMahasabha XIII Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) telah berakhir dengan terpilihnya kepemimpinan baru PHDI Pusat periode 2026–2031. Mahasabha ini diharapkan menjadi titik…Penulis: AAGN Ari Dwipayana· 20 Okt 2026· 9 mnt baca
Pojok NarasiPERNIKAHAN DI BALI: ANTARA BEBAN GENGSI DAN PENTINGNYA PENDIDIKAN PRANIKAHKabar meninggalnya seorang calon pengantin akibat bunuh diri menjelang hari pernikahannya merupakan peristiwa yang menyedihkan sekaligus mengundang keprihatinan kita bersama. Di tengah suasana ketika sebuah keluarga seharusnya sedang mempersiapkan hari yang membahagiakan, justru terjadi tragedi yang meninggalkan duka mendalam. Peristiwa ini tentu tidak boleh disikapi dengan penilaian yang tergesa-gesa. Kita tidak mengetahui secara pasti seluruh persoalan yang dihadapi almarhum maupun faktor-faktor yang melatarbelakangi keputusannya.Penulis: AAGN Ari Dwipayana· 19 Okt 2026· 10 mnt baca
Series Menelanjangi Realitas Para Perempuan: Ketika Perempuan Bertemu KekuasaanABSTRAK Esai ini membongkar kepalsuan romantisasi slogan spiritual seperti Tri Hita Karana, Sad Kerti, dan Tata Kerti yang kerap didengungkan birokrasi lokal Bali sebagai penjinak…Oleh Matra Durga· 17 Okt 2026· 5 mnt baca
Series Menelanjangi Realitas Para Perempuan: Bali, Minoritas, ApatisTulisan ini mendekonstruksi label "apatis" dan "minoritas" yang kerap disematkan kepada perempuan Bali di tengah carut-marutnya ekosistem sosial-politik nasional dan lokal.…Oleh Matra Durga· 15 Okt 2026· 4 mnt baca
Pojok NarasiFatamorgana Kemandirian Energi BaliOleh: Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Ketua Departemen Politik dan Pemerintahan, FISIPOL UGM Ubud, 14 OKTOBER 2026 Ari Dwipayana: Gubernur…Penulis: AAGN Ari Dwipayana· 14 Okt 2026· 5 mnt baca
Pojok NarasiMerespons Bencana Kekeringan dan Kebakaran, Ari Dwipayana Ajak Umat Hindu Nusantara Gelar Ritual Magpag ToyaMerespons peringatan dini kekeringan meteorologis yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, AAGN Ari Dwipayana, mengajak umat Hindu di seluruh Nusantara untuk meningkatkan kewaspadaan sekaligus melakukan ikhtiar secara sekala dan niskala dalam menghadapi ancaman kekeringan. Berdasarkan informasi peringatan dini BMKG, sejumlah wilayah Indonesia berada dalam kategori Awas terhadap kekeringan meteorologis, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, serta sebagian wilayah Bali, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Sumatera, dan Papua.Penulis: AAGN Ari Dwipayana· 14 Okt 2026· 4 mnt baca
Pojok Narasi"MENGGALI LEBIH DALAM KONSEP TRI SAKTI BUNG KARNO"Oleh : Gede Julius Dalam sejarah bangsa indonsesia presiden sukarno pernah mengucapkan konsep trisakti yang dapat kita lihat pada: Pidato Presiden Sukarno pada 17 Agustus 1964…Penulis: Gde Julius· 6 Okt 2026· 5 mnt baca