Slot Header 970×90

10 Tradisi Unik Bali yang Memikat Wisatawan

Oleh Putri · null

27 Oktober 2026 pukul 09.29 WITA · 5 menit baca

Ogoh-ogoh berkepala singa di Singakerta, dekat Ubud, Kabupaten Gianyar.
Ogoh-ogoh berkepala singa di Singakerta, dekat Ubud, Kabupaten Gianyar. — Aethelberht of Kent/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

BALINEWS - Bali bukan hanya soal pantai dan sawah terasering. Kehidupan sehari-hari masyarakatnya dijalani dengan ritual, upacara, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Banyak di antaranya bisa disaksikan wisatawan, asalkan datang dengan sikap hormat.

Berikut 10 tradisi unik Bali yang memikat wisatawan, lengkap dengan lokasinya, serta tips menyaksikannya di akhir artikel.

1. Pawai Ogoh-ogoh

Gambar berita

Foto: MagdaLena7/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Ogoh-ogoh adalah patung raksasa yang menggambarkan Bhuta Kala, simbol sifat dan kekuatan buruk. Patung ini dibuat berminggu-minggu oleh pemuda banjar, lalu diarak keliling desa pada malam Pengerupukan, sehari sebelum Hari Raya Nyepi.

Pawai diiringi gamelan baleganjur, obor, dan sorak warga. Setelah diarak, banyak ogoh-ogoh dibakar sebagai lambang penyucian. Malam ini menjadi salah satu pemandangan paling meriah di Bali sebelum pulau ini sunyi total selama Nyepi.

Lokasi: Hampir di setiap banjar dan desa di seluruh Bali, termasuk Denpasar dan Ubud.

2. Upacara Melasti

Gambar berita

Foto: Wiaskara/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Beberapa hari menjelang Nyepi, umat Hindu Bali menggelar Melasti, upacara penyucian diri dan alam semesta. Warga desa berjalan beriringan menuju pantai, danau, atau sumber mata air sambil mengusung pratima dan benda sakral dari pura.

Peserta mengenakan pakaian adat serba putih, membawa sesajen dan payung upacara berwarna cerah. Iring-iringan panjang di tepi laut ini sangat fotogenik, tetapi tetap jaga jarak dan jangan menghalangi jalannya prosesi.

Lokasi: Pantai, danau, dan sumber mata air di seluruh Bali.

3. Omed-omedan

Gambar berita

Foto: Yohana Afrita/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Omed-omedan digelar sehari setelah Nyepi, pada hari Ngembak Geni, oleh muda-mudi Banjar Kaja Sesetan. Nama tradisinya berasal dari kata omed yang berarti tarik-menarik.

Para pemuda dan pemudi yang belum menikah dibagi menjadi dua kelompok, lalu saling berhadapan, berpelukan, dan ditarik kembali, sementara penonton menyiram mereka dengan air. Suasananya riuh dan penuh tawa. Tradisi ini diyakini membawa kebersamaan dan menolak bala bagi banjar.

Lokasi: Banjar Kaja Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar.

4. Penjor Galungan

Gambar berita

Foto: Tigerente/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Menjelang Hari Raya Galungan, jalanan Bali dihiasi penjor, tiang bambu tinggi yang melengkung di ujungnya dan dihias janur, hasil bumi, serta kain. Penjor dipasang di depan setiap rumah sebagai ungkapan syukur atas kemakmuran.

Galungan merayakan kemenangan dharma atas adharma dan datang setiap 210 hari menurut kalender Bali. Saat penjor berderet di kiri-kanan jalan desa, suasananya terasa sangat khas. Kawasan Ubud termasuk tempat favorit wisatawan untuk menikmati pemandangan ini.

Lokasi: Rumah dan jalan desa di seluruh Bali.

5. Upacara Ngaben

Gambar berita

Foto: trezy humanoiz/Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

Ngaben adalah upacara kremasi umat Hindu Bali untuk mengantarkan roh orang yang meninggal kembali ke asalnya. Bagi masyarakat Bali, upacara ini bukan semata duka, melainkan bentuk bakti keluarga.

Jenazah diusung dalam menara bade yang dihias megah, diputar di persimpangan, lalu dibakar bersama sarkofagus berbentuk lembu atau makhluk mitologis. Ngaben besar keluarga puri, yang disebut pelebon, bisa menarik ribuan penonton. Wisatawan boleh menyaksikan dengan pakaian sopan dan sikap tenang.

Lokasi: Desa-desa di seluruh Bali; pelebon puri kerap digelar di Ubud dan kota-kota kerajaan lama.

6. Mekare-kare (Perang Pandan)

Gambar berita

Foto: Paco Pater/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Mekare-kare atau Perang Pandan adalah tradisi Desa Tenganan Pegringsingan, salah satu desa Bali Aga yang mempertahankan adat Bali kuno. Para pria bertarung satu lawan satu menggunakan ikatan daun pandan berduri dan perisai anyaman rotan.

Pertarungan ini merupakan persembahan untuk menghormati Dewa Indra, dewa perang. Meski menimbulkan goresan, suasananya tetap bersahabat dan luka diobati dengan ramuan tradisional. Tradisi ini biasanya digelar sekitar pertengahan tahun sebagai bagian dari upacara adat desa.

Lokasi: Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

7. Makepung

Gambar berita

Foto: Bagus Pradipa/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Makepung adalah tradisi balap kerbau khas Kabupaten Jembrana di Bali barat. Sepasang kerbau yang dihias menarik kereta kecil, dikendalikan seorang joki, dan dipacu secepat mungkin di lintasan tanah atau sawah.

Tradisi ini berakar dari kehidupan petani setempat dan kini menjadi atraksi budaya yang dilombakan. Salah satu ragamnya, Makepung Lampit, digelar di sawah berlumpur sehingga cipratan lumpur menambah keseruan. Jadwal lomba berubah setiap tahun, jadi cek informasi dari pemerintah daerah sebelum berangkat.

Lokasi: Kabupaten Jembrana.

8. Melukat di Pura Tirta Empul

Gambar berita

Foto: Chainwit./Wikimedia Commons (CC BY 4.0)

Melukat adalah ritual penyucian diri dengan air suci. Salah satu tempat paling terkenal untuk melakukannya adalah Pura Tirta Empul, yang kolamnya dialiri mata air dari deretan pancuran batu.

Umat dan wisatawan berendam di kolam, lalu bergiliran membasuh kepala di bawah pancuran sambil berdoa. Pengunjung wajib mengenakan kain atau sarung dan mengikuti urutan pancuran yang ditentukan. Datanglah pagi hari agar suasana lebih tenang dan antrean tidak panjang.

Lokasi: Pura Tirta Empul, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.

9. Megibung

Gambar berita

Foto: Dinas Kebudayaan Kabupaten Karangasem/Wikimedia Commons (domain publik)

Megibung adalah tradisi makan bersama khas Karangasem. Beberapa orang duduk melingkar mengelilingi satu wadah besar berisi nasi dan lauk-pauk, lalu makan bersama dengan tangan.

Tradisi ini biasanya hadir dalam upacara adat dan acara keagamaan di desa. Ada aturan sopan santun yang dijaga, misalnya mengambil makanan dari bagian sendiri dan tidak meninggalkan kelompok sebelum semua selesai. Megibung mencerminkan nilai kebersamaan dan kesetaraan yang dijunjung masyarakat Karangasem.

Lokasi: Desa-desa di Kabupaten Karangasem.

10. Canang Sari

Gambar berita

Foto: Mx. Granger/Wikimedia Commons (CC0)

Tradisi yang paling sering dilihat wisatawan justru yang paling sederhana: canang sari. Persembahan kecil ini berupa wadah janur berisi bunga warna-warni dan dipersembahkan setiap hari sebagai ungkapan syukur.

Canang diletakkan di pura, sanggah keluarga, depan toko, tepi jalan, hingga pantai, sering kali disertai dupa. Saat berjalan di Bali, perhatikan langkah agar tidak menginjaknya. Beberapa desa wisata dan pemandu juga menawarkan kelas membuat canang bagi wisatawan.

Lokasi: Rumah, pura, toko, dan ruang publik di seluruh Bali.

Tips menyaksikan tradisi Bali

Kenakan pakaian sopan dan, saat memasuki area pura, gunakan kain serta selendang. Mintalah izin sebelum memotret orang, jangan memakai drone tanpa izin, dan ikuti arahan pecalang atau petugas adat. Jangan berdiri di depan sesajen atau memotong jalannya prosesi. Jadwal upacara mengikuti kalender Bali, jadi tanyakan kepada hotel atau pemandu setempat. Saat Nyepi, wisatawan wajib tetap berada di hotel karena bandara dan jalan ditutup.

Wisatawan mancanegara wajib membayar Pungutan Wisatawan Asing Rp150.000 per orang melalui lovebali.baliprov.go.id

Bisa berkunjung ke sundaram.travel untuk booking paket tour menarik lainnya.*

Putri

Putri

null

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.