DENPASAR, BALINEWS.ID — Sebanyak 20 siswa sekolah menengah pertama (SMP) dari berbagai wilayah di Bali resmi dilantik sebagai Duta Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) atau Menstrucaraka 2025. Pelantikan ini merupakan hasil kolaborasi Kolaborasi Bumi Indonesia bersama Yayasan Westerlaken Alliance Indonesia (YWAI) dan Benjamin Foundation, yang digelar pada Sabtu (31/1/2026).
Program Menstrucaraka yang memasuki tahun keempat ini bertujuan menyiapkan remaja sebagai agen perubahan dalam menyebarluaskan edukasi mengenai manajemen kebersihan menstruasi. Tidak hanya menyasar remaja perempuan, program ini juga melibatkan remaja laki-laki agar pemahaman tentang menstruasi menjadi lebih inklusif dan stigma maupun tabu yang selama ini melekat dapat dikikis.
Dalam pelaksanaannya, Menstrucaraka 2025 diawali dengan kegiatan mentoring di 19 SMP terpilih di Provinsi Bali pada November 2025. Setiap sekolah membentuk satu tim yang terdiri dari lima siswa untuk menjalankan proyek berbasis sekolah terkait manajemen kebersihan menstruasi. Para peserta juga dibekali student project kit sebagai pendukung pelaksanaan kegiatan.
Dari seluruh peserta, empat sekolah dengan proyek terbaik lolos ke tahap Grand Final yang berlangsung pada 31 Januari 2026. Keempat tim tersebut mempresentasikan gagasan dan hasil proyek mereka di hadapan dewan juri.
Tim SMP Negeri 2 Ubud dinobatkan sebagai Student Project Terbaik melalui kegiatan talkshow dan pameran edukasi tentang menstruasi, kesehatan reproduksi remaja, serta HIV/AIDS. Sementara itu, Juara I diraih SMP Negeri 9 Denpasar yang mengusung kampanye menstruasi sehat melalui inovasi she box berbasis QR, sosialisasi, video edukasi, serta pameran foto voice di sekolah.
Juara II diraih SMP Negeri 1 Selemadeg Barat dengan kegiatan pameran dan sosialisasi edukasi menstruasi sehat yang didukung konten vlog media sosial. Adapun Juara III diraih SMP Negeri 1 Seririt melalui pembuatan sudut edukasi permanen di sekolah yang menyediakan informasi, media visual, serta perlengkapan kebersihan menstruasi.
Pada puncak acara, keempat tim Menstrucaraka mempresentasikan proyek mereka di hadapan publik di Lippo Mall Kuta. Melalui berbagai kegiatan tersebut, para peserta tercatat telah mengedukasi lebih dari 2.500 siswa, baik secara luring maupun daring.
Ketua Pelaksana Menstrucaraka 2025, Gita Saraswati Palgunadi, menyampaikan bahwa program ini membuktikan remaja memiliki potensi besar sebagai agen perubahan di lingkungan mereka. Menurutnya, dengan dukungan yang tepat, keterlibatan aktif remaja mampu mengatasi stigma dan tabu yang selama ini menghambat pembahasan isu menstruasi di masyarakat.
“Program Menstrucaraka 2025 tidak hanya mengajarkan pentingnya manajemen kebersihan menstruasi, tetapi juga menunjukkan bahwa remaja dapat berperan nyata dalam menciptakan perubahan sosial yang positif,” ujarnya.
Dengan dukungan Kolaborasi Bumi Indonesia, Yayasan Westerlaken Alliance Indonesia, dan Benjamin Foundation, program Menstrucaraka diharapkan terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak remaja, khususnya dalam upaya menghapus stigma seputar menstruasi di kalangan masyarakat. (*)

