INTERNASIONAL, BALINEWS.ID – Krisis BBM yang dipicu konflik berkepanjangan di Timur Tengah mulai mengguncang Filipina. Presiden Ferdinand Marcos Jr. bahkan membuka kemungkinan ekstrem yakni menghentikan sementara operasional pesawat akibat menipisnya pasokan avtur.
Dalam laporan The Straits Times, Rabu (25/3/26), Marcos Jr menegaskan bahwa ini adalah situasi buruk yang mungkin benar-benar terjadi, termasuk untuk rute internasional.
“Beberapa negara sudah memberi tahu maskapai kami bahwa mereka tidak bisa mengisi bahan bakar pesawat kami. Jadi, pesawat harus membawa bahan bakar cadangan untuk perjalanan pergi dan pulang,” ujar Marcos dalam wawancara dengan Bloomberg News pada 24 Maret.
“Penerbangan jarak jauh (long haul) akan jadi masalah yang jauh lebih serius,” lanjutnya.
Maskapai-maskapai di Asia kini tengah menyiapkan langkah darurat seiring meningkatnya eskalasi konflik yang berpotensi memicu krisis minyak terbesar sejak dekade 1970-an. Ketergantungan Filipina pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah membuat negara tersebut berada dalam posisi paling rentan di Asia Tenggara, terutama terkait kelangkaan energi dan melonjaknya harga BBM.
Pemerintah Filipina sebelumnya telah menetapkan status Darurat Energi Nasional selama satu tahun sebagai respons atas perang di Iran yang mengganggu suplai minyak global. Kebijakan ini memberi ruang bagi pemerintah untuk bergerak cepat mengantisipasi risiko ekonomi domestik — mulai dari penyaluran bantuan tunai hingga subsidi BBM.
Selain itu, pemerintah membentuk komite lintas kementerian guna memastikan stabilitas pasokan energi dan memantau dampak krisis terhadap nilai tukar Peso serta remitansi pekerja migran Filipina yang tersebar di berbagai negara. (*)