Slot Header 970×90

Lifestyle

Banyak Tahi Lalat Tidak Selalu Berbahaya, Tapi Perhatikan 5 Perubahan Ini

Oleh Giostanovlatto Sinantong · Redaksi

22 September 2026 pukul 08.21 WITA · 2 menit baca

BALINEWS.ID - Coba hitung tahi lalat di tubuhmu. Kalau jumlahnya lebih dari 50, ada satu hal yang sebaiknya kamu tahu. Mengutip Mayo Clinic, Selasa (22/9/2026)…
BALINEWS.ID - Coba hitung tahi lalat di tubuhmu. Kalau jumlahnya lebih dari 50, ada satu hal yang sebaiknya kamu tahu. Mengutip Mayo Clinic, Selasa (22/9/2026)… — BaliNews.id

BALINEWS.ID - Coba hitung tahi lalat di tubuhmu. Kalau jumlahnya lebih dari 50, ada satu hal yang sebaiknya kamu tahu.

Mengutip Mayo Clinic, Selasa (22/9/2026), tahi lalat atau nevi terbentuk ketika melanosit, sel penghasil pigmen kulit, tumbuh berkelompok. Normalnya, melanosit tersebar merata di kulit dan menghasilkan melanin, pigmen alami yang memberi warna pada kulit.

Kebanyakan orang punya sekitar 10 sampai 45 tahi lalat, muncul terutama saat masa kanak-kanak dan remaja, dengan sebagian besar sudah terbentuk sebelum usia 40 tahun. Bentuknya umumnya bulat atau oval, berukuran kurang dari 6 milimeter, dengan warna yang bervariasi: cokelat tua, cokelat muda, hitam, biru, merah, sampai merah muda. Teksturnya juga beragam, ada yang halus, berkerut, datar, menonjol, bahkan ditumbuhi rambut. Tahi lalat bisa muncul di mana saja, termasuk kulit kepala, ketiak, bawah kuku, dan sela-sela jari.

Ada juga jenis yang disebut congenital nevi, yaitu tahi lalat yang sudah ada sejak lahir. Ukurannya bisa lebih besar dan menutupi sebagian wajah, batang tubuh, atau anggota gerak. Penampilan tahi lalat pun bisa berubah seiring waktu. Perubahan hormonal saat remaja dan kehamilan bahkan dapat membuat sebagiannya jadi lebih gelap dan besar.

Nah, di sinilah bagian yang perlu diwaspadai. Punya banyak tahi lalat sebagian besar memang tidak berbahaya, tapi jadi salah satu faktor risiko melanoma, jenis kanker kulit. Orang dengan lebih dari 50 tahi lalat masuk kategori berisiko lebih tinggi. Risiko serupa juga berlaku bagi mereka yang punya tahi lalat besar sejak lahir, tahi lalat tidak biasa (atypical nevi), riwayat pribadi atau keluarga dengan melanoma, serta yang pernah memakai lampu atau tempat tidur berpemancar radiasi ultraviolet.

Meski begitu, banyak tahi lalat bukan berarti pasti kanker. Sebagian besar tetap tidak berbahaya, dan hanya sebagian kecil yang berkembang menjadi kanker.

Yang lebih penting justru bukan jumlahnya, melainkan perubahan bentuk atau tampilannya. Mayo Clinic memberi panduan sederhana lewat lima huruf ABCDE.

Huruf

Artinya

A (Asymmetry)

Bentuk tidak simetris

B (Border)

Tepi tidak beraturan, berlekuk, atau bergelombang

C (Color)

Warna berubah, banyak warna, atau tidak merata

D (Diameter)

Pertumbuhan baru berukuran lebih dari 6 milimeter

E (Evolving)

Perubahan ukuran, bentuk, warna, ketinggian, gatal, atau perdarahan

Kalau tahi lalatmu terlihat tidak biasa, tumbuh, atau mengalami salah satu perubahan di atas, ada baiknya diperiksakan ke tenaga kesehatan. Deteksi dini seperti ini yang membantu menemukan kanker kulit, termasuk melanoma, sejak lebih awal.

Giostanovlatto Sinantong

Giostanovlatto Sinantong

Giostanovlatto adalah pendiri Hey Bali yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling mudah dipahami. Kalau lagi nggak nulis, biasanya lagi surfing, ngopi, sunsetan, kadang liputan, kadang nyamar jadi CEO, curhat sama anjingnya, atau bengong di trotoar Renon sambil mencari ide. Belum pernah menang giveaway, tapi tetap optimis. Kalau chat-nya centang dua tapi nggak dibalas, anggap saja sedang mengejar rekor tidur.

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.