Slot Header 970×90

Bali

BBTF 2026 Catat Transaksi Rp6,9 Triliun, Kepercayaan Pasar Global terhadap Indonesia Tetap Kuat

Oleh Kadek Surya Wirawan · Reporter Denpasar

30 Mei 2026 pukul 23.27 WITA · 2 menit baca

BADUNG, BALINEWS.ID – Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 berhasil membukukan potensi transaksi bisnis pariwisata senilai Rp6,9 triliun selama tiga hari pe…
BADUNG, BALINEWS.ID – Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 berhasil membukukan potensi transaksi bisnis pariwisata senilai Rp6,9 triliun selama tiga hari pe… — BaliNews.id

BADUNG, BALINEWS.ID – Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 berhasil membukukan potensi transaksi bisnis pariwisata senilai Rp6,9 triliun selama tiga hari penyelenggaraan di The Westin Resort Nusa Dua, Badung, pada 28–30 Mei 2026. Meski berada di bawah target Rp7,6 triliun, penyelenggara menilai capaian tersebut tetap mencerminkan kuatnya kepercayaan pasar global terhadap Bali dan Indonesia sebagai destinasi wisata unggulan.

Ketua Panitia BBTF 2026, Putu Winastra, mengatakan keberhasilan ajang business-to-business (B2B) terbesar di sektor pariwisata Indonesia itu tidak semata-mata diukur dari nilai transaksi yang tercatat.

Menurutnya, BBTF juga menghasilkan berbagai kesepakatan bisnis, membuka peluang ekspansi pasar baru, memperkuat kemitraan strategis, mendorong pengembangan produk wisata, hingga meningkatkan arus kunjungan wisatawan ke Indonesia.

"Event ini membawa dampak besar dalam kesepakatan berbisnis, perluasan pasar, kemitraan strategis, pengembangan produk wisata, hingga peningkatan arus kunjungan wisatawan ke Indonesia,” ujar Winastra saat konferensi pers penutupan BBTF 2026, Sabtu (30/5/2026).

Pada BBTF 2026, tercatat sebanyak 407 buyer dari 44 negara dan 286 seller berpartisipasi dalam pameran.

Winastra menilai penyelenggaraan tahun ini memperlihatkan tiga fakta penting bagi industri pariwisata nasional. Pertama, kepercayaan industri global terhadap Bali dan Indonesia masih sangat kuat. Kedua, minat terhadap destinasi wisata di luar Bali terus meningkat. Ketiga, terjadi perubahan perilaku buyer yang kini semakin selektif dalam memilih produk dan destinasi wisata.

Menurutnya, para buyer saat ini tidak hanya mempertimbangkan daya tarik destinasi, tetapi juga kesiapan infrastruktur, profesionalisme pelaku industri, kualitas layanan yang konsisten, hingga kejelasan positioning sebuah destinasi di pasar internasional.

“Masa depan pariwisata Bali bukan hanya soal meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi bagaimana menciptakan nilai tambah, menarik wisatawan berkualitas, dan menjaga daya saing dalam jangka panjang,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Winastra juga mengumumkan rencana pengembangan ajang tersebut pada 2027. Memasuki penyelenggaraan ke-13, BBTF direncanakan bertransformasi menjadi Bali and Nusra Travel Fair dengan melibatkan tiga provinsi, yakni Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Event yang dijadwalkan berlangsung pada 9–11 Juni 2027 itu akan mengusung tema “Bali and Beyond: Regenerative Travel Elevated”, dengan fokus pada pengembangan pariwisata regeneratif yang tidak hanya meminimalkan dampak negatif pariwisata, tetapi juga menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat lokal, pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. (*)

SLOT IKLAN TENGAH ARTIKEL

Kadek Surya Wirawan

Reporter yang berbasis di Denpasar, fokus pada isu perkotaan.

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.