GIANYAR, BALINEWS.ID – Di tengah hiruk-pikuk pariwisata Bali, masih ada kisah sunyi tentang perjuangan hidup yang jarang terdengar. Salah satunya datang dari Ni Ketut Wartini (54), seorang pedagang “ngacung” souvenir asal Banjar Tampad, Desa Batubulan Kangin, Kabupaten Gianyar.
Sejak tahun 1993, Wartini mengais rezeki dengan menjajakan berbagai souvenir kepada wisatawan. Gelang tangan, aneka aksesori, hingga miniatur sepeda dan motor menjadi dagangannya. Harga barang yang ia jual terbilang murah, mulai dari Rp2.000 hingga Rp5.000 untuk gelang, miniatur motor seharga Rp30 ribu, dan sepeda mini Rp45 ribu.
Namun, penghasilan yang didapat jauh dari kata pasti. Dalam sehari, ia kadang hanya membawa pulang Rp10 ribu, bahkan sering pulang tanpa hasil. “Kadang dapat, kadang tidak. Kadang cukup buat beli beras satu kilo,” ujarnya lirih.
Momentum tahun baru pun tak selalu membawa harapan besar. Jika beruntung, pendapatannya bisa mencapai Rp20 ribu sehari. Dalam sebulan, penghasilan tertinggi yang pernah ia raih sekitar Rp1 juta, itu pun tidak rutin.
Wartini mengaku masa paling baik berjualan terjadi pada era Presiden Soeharto. Saat itu, wisatawan ramai dan ekonomi terasa lebih hidup. “Zaman dulu bagus, bisa dapat untuk makan,” kenangnya.
Perempuan sederhana ini memiliki tiga orang anak laki-laki. Anak pertamanya telah meninggal dunia, anak kedua kini bekerja di sebuah hotel, sementara anak bungsunya masih duduk di bangku SMP. Semua barang dagangan yang ia jual merupakan milik pribadi, dibeli dan dirawat dengan hasil jerih payahnya sendiri.
Setiap hari, Wartini berkeliling mencari tamu, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sering kali harus menahan lelah dan rasa kecewa karena dagangan tak kunjung laku. Namun ia tetap bertahan, karena itulah satu-satunya cara yang ia miliki untuk menyambung hidup.
Di balik senyum ramah para pedagang kecil seperti Ni Ketut Wartini, tersimpan cerita panjang tentang keteguhan, kesabaran, dan harapan yang tak pernah benar-benar padam. (*)

