GIANYAR, BALINEWS.ID – Usia senja tak meredupkan semangat berkesenian seorang maestro tari Bali, I Made Djimat. Meski kini lebih banyak beraktivitas menggunakan kursi roda, pria berusia 84 tahun ini tetap menunjukkan kecintaan mendalam terhadap dunia tari yang telah membesarkan namanya.
Ingatan Djimat terhadap gerak tari masih begitu kuat. Gerakan khas seperti tanjek, nyeledet, hingga ekspresi dalam Tari Topeng masih sesekali ia peragakan. Senyum dan tawa pun kerap menghiasi wajahnya saat berinteraksi dengan anak dan cucu di kediamannya.
Cucu pertamanya, I Gede Agus Hendra Arta Dinata, mengungkapkan bahwa kondisi sang kakek saat ini relatif sehat. Pola makan sederhana seperti bubur dan jus menjadi keseharian, sementara semangat berkesenian tetap terjaga.
“Beliau masih sering memperhatikan aktivitas di sanggar dan menyimak generasi muda yang berlatih,” ujarnya.
Dedikasi panjang Djimat dalam melestarikan seni tradisi Bali pun mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Kabupaten Gianyar melalui penghargaan Parama Satya Budaya, penghargaan tertinggi di bidang kebudayaan di Kabupaten Gianyar.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Dinas Kebudayaan Gianyar bersama Majelis Kebudayaan Bali Wilayah Gianyar saat mengunjungi kediaman Djimat di Banjar Pekandelan, Desa Batuan, Sukawati, beberapa waktu lalu. Secara resmi, penghargaan akan diberikan dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kota Gianyar pertengahan April mendatang.
Kepala Dinas Kebudayaan Gianyar, I Wayan Adi Perbawa, menegaskan bahwa penghargaan ini melalui proses seleksi ketat dan kajian mendalam. Bahkan, Parama Satya Budaya terakhir kali diberikan hampir dua dekade lalu.
“Ini merupakan penghargaan tertinggi dan diberikan melalui mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Nama Djimat sendiri telah lama dikenal hingga mancanegara. Sejak usia 15 tahun, ia telah membawa seni Bali tampil ke berbagai negara, termasuk di Eropa yang kerap ia sebut sebagai “rumah kedua”. Kepiawaiannya dalam Tari Jauk dan Topeng Tua menjadikannya sosok penting dalam dunia seni pertunjukan Bali.
Selain sebagai penari, Djimat juga dikenal sebagai pembina yang melahirkan banyak generasi seniman. Berbagai kelompok seni binaannya kerap meraih prestasi, baik di ajang lokal seperti Pesta Kesenian Bali (PKB) maupun tingkat nasional.
Penghargaan yang diterima tidak hanya berupa piagam dan pin emas, tetapi juga uang pembinaan serta dukungan terhadap sanggar seni yang telah dirintisnya sejak 1971. Pemerintah Kabupaten Gianyar bahkan tengah menggagas pengabadian nama para maestro, termasuk Djimat, sebagai nama jalan di sejumlah titik.
Bagi keluarga dan kalangan seniman, penghargaan ini bukan sekadar simbol, melainkan bentuk penghormatan atas dedikasi seumur hidup terhadap seni dan budaya.
Meski kini tak lagi leluasa menari, semangat I Made Djimat tetap hidup, menjadi inspirasi yang terus mengalir dan menggerakkan generasi penerus untuk menjaga warisan budaya Bali tetap lestari. (*)