BALINEWS.ID, peristiwa gerhana bulan total yang jatuh pada Selasa, 3 Maret 2026 kembali mengingatkan kita pada satua (cerita sebelum tidur) yang sering diceritakan oleh kakek atau nenek kepada cucunya sebelum tidur. Secara astronomis, fenomena ini tercatat sebagai gerhana bulan total yang berlangsung hampir satu jam—sebuah kejadian yang dapat disaksikan dari kawasan Asia-Pasifik hingga Amerika bagian timur, tergantung zona waktu dan kondisi cuaca.
Dalam tradisi Bali, cerita di balik gerhana selalu diceritakan sebagai pertarungan kosmis: sang raksasa yang setengah tubuhnya abadi diliputi dendam. Tokoh itu dikenal dalam kesusastraan Bali sebagai Kala Rau, kepala raksasa tanpa badan yang berusaha menelan Bulan dan Matahari, sebuah narasi yang menempatkan peristiwa alam dalam bingkai moral dan kosmologis masyarakat. Sebagai catatan etnografis, kisah ini dipakai masyarakat untuk menjelaskan mengapa bulan tampak “hilang” saat gerhana.
Walau berwujud mitos, satua atau cerita pengantar tidur, narasi tersebut juga dimanifestasikan dalam seni dan ritual. Lukisan, tarian, serta upacara kecil sering mengiringi malam gerhana di sejumlah komunitas, bukan sekadar untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai bentuk kolektif menghadirkan makna dan mengatur tata krama selama peristiwa kosmik berlangsung. Para penafsir seni kontemporer mencatat bahwa representasi Kala Rau pada karya-karya Bali menautkan kembali cerita-cerita Hindu purba ke ritual lokal yang hidup.

Dalam kesusastraan Hindu-Bali, figur Kala Rau berakar pada kisah klasik yang termuat dalam Adi Parwa, bagian awal dari epos Mahabharata. Dalam episode Samudramanthana (pengadukan Ksirarnawa atau lautan susu), diceritakan bahwa Rahu menyusup ke barisan para dewa untuk meminum tirta amerta, air keabadian yang muncul dari proses kosmis tersebut. Tindakannya diketahui oleh Dewa Surya dan Dewa Candra yang kemudian melaporkannya kepada Dewa Wisnu. Melalui cakra Sudarsana, Wisnu memenggal kepala Rahu. Namun, karena setetes amerta telah menyentuh tenggorokannya, bagian kepala Rahu tetap hidup. Sejak saat itu ia bersumpah untuk membalas dengan cara menelan Matahari (Surya) dan Bulan (Candra), yang dalam kosmologi Hindu dipahami sebagai sebab mitologis terjadinya gerhana.
Tradisi tersebut kemudian ditransmisikan dan mengalami adaptasi dalam bentuk lontar Bali. Beberapa teks kosmologis seperti Lontar Bhuana Kosa dan adaptasi lokal dari Purana maupun Siwagama memuat penjelasan tentang struktur alam semesta beserta entitas bhuta kala yang menguasai ruang-ruang kosmis tertentu, termasuk Rahu sebagai kekuatan yang berkaitan dengan fenomena langit. Dalam konteks lokal Bali, figur Rahu lebih dikenal sebagai Kala Rau, yang tidak semata dipahami sebagai makhluk raksasa, melainkan sebagai simbol energi kosmis yang berada di antara terang dan gelap.
Dalam praktik keagamaan dan penanggalan Bali (Wariga), gerhana bulan dikenal dengan istilah Bulan Kepangan. Secara etimologis, “kepangan” merujuk pada kondisi bulan yang tampak tertutup atau “terkepang”. Dalam penuturan tradisional, peristiwa ini diinterpretasikan sebagai Kala Rau yang sedang “menelan” Dewi Ratih atau Candra. Meski bersifat mitologis, narasi tersebut memiliki fungsi pedagogis dan simbolik dalam masyarakat, yakni sebagai sarana menjelaskan fenomena alam sekaligus menanamkan kesadaran kosmologis tentang keseimbangan antara unsur sekala (nyata) dan niskala (tak kasatmata).
Dengan demikian, kisah Kala Rau bukan sekadar legenda, melainkan bagian dari sistem pengetahuan tradisional yang terstruktur dalam teks-teks lontar serta diwariskan melalui tradisi tutur dan ritual. Ia merepresentasikan cara masyarakat Bali memaknai gerhana sebagai peristiwa kosmis yang memiliki dimensi spiritual, jauh sebelum penjelasan astronomi modern menjabarkan fenomena tersebut melalui konsep bayangan umbra dan posisi geometris Matahari–Bumi–Bulan.
Di sisi lain, sains modern menjelaskan fenomena yang sama dengan bahasa geometri dan bayangan: gerhana Bulan terjadi ketika Bumi berada persis di antara Matahari dan Bulan sehingga purnama masuk ke dalam bayangan umbra Bumi—itulah yang memberi rona kemerahan pada Bulan selama totalitas. Untuk gerhana 3 Maret 2026, fase total diperkirakan berlangsung sekitar pukul 19.04 – 20.02 WITA dan dapat dilihat dari beberapa wilayah, untuk wilayah Indonesia bagian tengah dan timur berada dalam kondisi malam hari yang ideal untuk pengamatan. Gerhana bulan aman dilihat dengan mata telanjang tanpa alat khusus. Namun, cuaca (awan/hujan) tetap menjadi faktor penentu apakah fenomena ini dapat terlihat jelas di masing-masing daerah.
Jika cuaca cerah, hampir seluruh Indonesia berpeluang menyaksikan fenomena “bulan kepangan” tersebut. Menyaksikan gerhana pagi ini tidak hanya soal visual; bagi banyak orang di Bali dan Nusantara, ini adalah momen tuhnik — saat legenda bertemu data. Jika Anda datang menyaksikan, lakukanlah dengan penuh hormat: perhatikan adat setempat bila ada prosesi kecil, dan pilihlah lokasi pengamatan yang gelap untuk menikmati rona “blood moon” secara maksimal. Perhatikan juga prakiraan cuaca lokal—awan dan hujan akan menentukan apakah sang purnama benar-benar tampak memerah.
Kombinasi mitos dan sains membuat gerhana menjadi sebuah cerita ganda: di satu sisi penjelasan ilmiah lengkap, di sisi lain kaya simbol dan makna. Untuk wisatawan dan penduduk yang ingin menyimak kedua wajah itu, yang rasional sekaligus yang ritual, malam gerhana selalu memberi pengalaman intens: langit berubah, cerita lama terulang, dan masyarakat berkumpul, seakan mengingatkan bahwa manusia selalu mencari arti dalam langit yang sama.
Menjaga tradisi dengan tetap berpikir waras, Bali sebagai ruang budaya yang hidup menyajikan lebih dari sekadar pemandangan: ia menawarkan konteks. Bulan purnama yang “dimakan” sang Kala Rau malam ini bisa Anda saksikan sambil memahami dua wajah: mitos yang menggetarkan dan sains yang menerangkan. Selamat mengamati — dengan nalar, rasa, dan hormat. kp
