Slot Header 970×90

Bali

Krisis Air Bawah Tanah Bayangi Bali, Nyoman Parta Ajak Warga Bali Menabung Air

Oleh Kaka · Redaksi

25 Desember 2025 pukul 23.12 WITA · Gianyar · 2 menit baca

GIANYAR, BALINEWS.ID — Anggota DPR RI I Nyoman Parta menegaskan bahwa tantangan utama Bali saat ini tidak hanya berkutat pada persoalan sampah dan kemacetan. M…
GIANYAR, BALINEWS.ID — Anggota DPR RI I Nyoman Parta menegaskan bahwa tantangan utama Bali saat ini tidak hanya berkutat pada persoalan sampah dan kemacetan. M… — BaliNews.id

GIANYAR, BALINEWS.ID — Anggota DPR RI I Nyoman Parta menegaskan bahwa tantangan utama Bali saat ini tidak hanya berkutat pada persoalan sampah dan kemacetan. Menurutnya, persoalan yang jauh lebih serius dan membutuhkan perhatian bersama adalah krisis air bawah tanah yang kian nyata dirasakan masyarakat.

Parta mengungkapkan, saat ini Bali menghadapi kondisi perebutan sumber daya air, khususnya air tanah, antara kebutuhan masyarakat, sektor industri, dan pertanian tradisional seperti subak. Jika tidak ditangani dengan serius, kondisi tersebut berpotensi mengancam keberlanjutan kehidupan dan ekosistem di Bali.

“Persoalan air di Bali sangat penting untuk segera dilakukan tindakan nyata. Salah satunya dengan mendorong agar air hujan sebanyak mungkin bisa diresapkan kembali ke dalam tanah sebagai tabungan air kita di masa depan,” ujar Parta, disela-sela diskusi bersama generasi muda di Rumah Aspirasi Nyoman Parta, di Desa Guwang, Gianyar, Kamis (25/12/2025).

Ia mengajak seluruh masyarakat Bali untuk berperan aktif dalam upaya konservasi air, mulai dari membuat biopori dan sumur resapan di lingkungan masing-masing, menghemat penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari, hingga lebih rajin menanam pohon. Selain itu, Parta juga menekankan pentingnya menghentikan alih fungsi lahan yang tidak terkendali karena berdampak langsung pada daya resap tanah.

Senada dengan itu, ahli geologi dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Ida Bagus Oka Agastya, mengatakan bahwa permasalahan geologi yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat Bali saat ini adalah persoalan air tanah. Oleh karena itu, isu tersebut perlu terus disuarakan kepada publik agar kesadaran kolektif dapat tumbuh.

“Kami ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa permasalahan air tanah sangat tergantung pada bagaimana kita mengintervensinya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melalui biopori dan sumur resapan,” jelasnya.

Ia menambahkan, meskipun sebagian masyarakat masih awam terhadap konsep tersebut, inovasi seperti teba modern dapat menjadi alternatif sumur resapan yang efektif untuk membantu memasukkan air hujan kembali ke dalam tanah. Upaya ini dinilai penting mengingat saat ini terjadi perebutan sumber daya air bawah tanah di Bali.

“Kita mungkin baru menyadari krisis air ketika keran sudah tidak lagi mengalir. Padahal, kondisi itu menunjukkan bahwa krisis air tanah sebenarnya sudah berlangsung,” ujarnya.

Berdasarkan data penggunaan air, lanjut Oka Agastya, pemanfaatan air tanah terbesar sejatinya masih berasal dari sektor domestik atau rumah tangga, disusul oleh sektor industry yang dibagi lagi menjadi sektor pariwisata, AMDK dan sejenisnya. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat dalam menggunakan air secara bijak menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air di Bali.

Lalu apakah kondisi ini akan membuat permukaan tanah menjadi turun? Agastya menjawab jika syukurnya karakteristik geologi di Bali agak berbeda dengan wilayah lain, karena materialnya banyak dipengaruhi oleh material gunung api. “Contohnya kita punya batu padas, jadi walaupun diekstraksi airnya batuannya akan tetap stabil, tapi yang jadi masalah airnya tetap akan turun, kalua tanahnya mungkin tidak,” tandasnya. (*)

SLOT IKLAN TENGAH ARTIKEL
Kaka

Kaka

-

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.