TABANAN, BALINEWS - Kunjungan wisatawan ke Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Tabanan, mulai menunjukkan penurunan memasuki akhir September 2026.
Kondisi ini disebut sebagai bagian dari siklus kunjungan wisatawan yang hampir selalu terjadi setiap tahun.
Manajer Operasional DTW Jatiluwih, I Ketut Purna, mengatakan puncak kunjungan wisatawan biasanya terjadi Agustus.
Setelah melewati periode ramai pada Juli hingga September, jumlah wisatawan mulai berkurang menjelang penghujung tahun.
“Memang puncak kunjungan tamu itu Agustus. Per akhir September ini sudah ada pengurangan, kelihatan pengurangan kunjungan,” ujar I Ketut Purna, Senin sore (28/9/2026).
Menurutnya, penurunan kunjungan diperkirakan masih akan berlangsung hingga sekitar pertengahan Desember.
Namun, kondisi tersebut dinilai masih dalam pola normal karena terjadi hampir setiap tahun.
“Penurunan sama dari tahun ke tahun seperti itu. Mungkin akan turun antara lima persen sampai 15 persen,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, wisatawan Eropa masih menjadi pasar utama DTW Jatiluwih. Sekitar 80 persen kunjungan wisatawan disebut masih berasal dari pasar Eropa, sementara sisanya berasal dari wisatawan Asia dan domestik.
Untuk pasar Asia, wisatawan asal Malaysia saat ini menjadi salah satu yang paling banyak berkunjung ke Jatiluwih. Selain itu, wisatawan dari Singapura, Vietnam, dan India juga mulai menunjukkan peningkatan.
Purna mengatakan, perubahan pola kunjungan tersebut turut mendorong pihaknya mengalihkan sebagian strategi promosi ke sejumlah negara Asia, menyusul berkurangnya penerbangan dari kawasan Timur Tengah.
“Dengan pengurangan flight dari Middle East khususnya, Jatiluwih sebenarnya sekarang sedikit mengalihkan promosinya ke Asian country. Khususnya Singapura, Malaysia, bahkan Vietnam. India juga banyak sekali yang masuk ke Jatiluwih,” terangnya.
Ia menyebut kondisi tersebut menjadi peluang untuk menjaga kunjungan wisatawan ke Jatiluwih. Saat pasar Eropa dan Amerika mengalami penurunan, pasar Asia justru mulai memperlihatkan pertumbuhan.
“Walaupun Eropa, Amerika lagi turun, tapi di satu sisi Asia itu sebenarnya kelihatan ada peningkatan,” ucapnya.
Sementara itu, menurut Purna karakter wisatawan datang ke Jatiluwih masih didominasi wisatawan yang ingin menikmati hamparan persawahan dan lanskap alam kawasan tersebut. Sebagian di antaranya datang dalam bentuk rombongan perusahaan atau perjalanan insentif.
Sembari Ia menambahkan, Dengan potensi tersebut, penguatan promosi ke pasar Asia dinilai menjadi salah satu langkah untuk menjaga geliat kunjungan wisatawan Jatiluwih hingga akhir tahun.(*)

