GIANYAR, BALINEWS.ID – Hidup sederhana tak menghalangi Made Sri (40), warga Banjar Bayad, Kedisan, Tegalalang, untuk menunjukkan kasih sayang luar biasa. Sehari-hari ia berjualan tipat cantok dan rujak di pasar, sementara suaminya, I Gusti Komang Suwantara, bekerja sebagai buruh bangunan. Dari penghasilan yang pas-pasan, ia membesarkan empat anak yatim yang bukan darah dagingnya.
Anak-anak tersebut adalah keponakannya yang ditinggal orang tua sejak kecil. Dua di antaranya kini sudah bekerja, yakni Ni Gusti Kadek Marleni Suryaningsih (21) di sebuah vila di Sebatu, serta Ni Gusti Komang Budiani (18) di Denpasar. Sementara dua lainnya, I Gusti Ngurah Satya Wiguna (13) dan Ni Gusti Ayu Kadek Putri Kumaladewi (10), masih bersekolah di SMPN 3 Tegalalang dan SDN 2 Kedisan.
“Saya kasihan melihat mereka. Kalau tidak saya rawat, siapa lagi yang akan menjaga?”
kata Made Sri dengan suara lirih. Meski penghasilan terbatas, ia tetap mengutamakan pendidikan anak-anak.
“Kadang bekal sekolah hanya Rp2.000 atau Rp3.000, tapi yang penting mereka bisa tetap belajar,” tambahnya.
Made Sri mengaku merawat anak-anak bukanlah beban, melainkan anugerah. Ia berharap kelak mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. “Pesan saya, rajin belajar, jangan jadi pengangguran. Nanti kalau sudah besar, bisa bekerja, bisa mandiri,” ujarnya penuh harap.
Pimpinan Redaksi Newsyess, Ngakan Putu Suardika, menilai perjuangan Made Sri sebagai cerminan kekuatan seorang ibu.
“Made Sri adalah bukti bahwa kebaikan, keteguhan hati, dan pengorbanan bisa mengalahkan segala keterbatasan,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan, redaksi Newsyess menyerahkan paket sembako untuk membantu meringankan beban keluarga tersebut. (Newyess)