Mengenal Junaedi, Si Penjual Kue Putu Legendaris yang Tak Pernah Menyerah

SEMARAPURA, BALINEWS.ID – Suara mendesis dari tabung bambu yang mengepulkan uap panas di tepi Jalan Puputan Klungkung setiap sore bukan pertanda bahaya. Bagi sebagian orang, itu adalah bunyi khas yang mengundang nostalgia masa kecil — bunyi dari Kue Putu buatan Junaedi, 50 tahun, perantau asal Brebes, Jawa Tengah, yang sudah empat tahun mengadu nasib di Bali.

Sejak tahun 2021, Junaedi setia menjajakan kue putu uapnya, kuliner tradisional yang kini kian jarang ditemui. Dulu ia berjualan dengan sepeda ontel, membawa kukusan bambu di belakang. Kini, kendaraan itu telah berganti menjadi sepeda motor, tetap berasap, namun bukan karena mogok — melainkan karena semangat hidup yang tak pernah padam.

BACA JUGA :  Desa Kedisan Tolak Pembangunan di TWA Penelokan, Jro Bendesa Minta Kembalikan Jadi Hutan Konservasi

“Awal jualan cuma bawa adonan tiga kilo. Tepung beras saya campur garam sedikit, pewarna hijaunya alami dari daun kayu sugih,” tutur Junaedi dengan senyum ramah.

Setiap pagi, ia menyiapkan bahan-bahan di tempat kosnya. Tepung beras, kelapa kukus, dan gula Bali dari Dawan — bahan andalan yang katanya membuat rasa kue putunya lebih gurih dan harum. Setelah semuanya siap, barulah ia berangkat berjualan.

“Kalau hujan angin, ya sudah, dagangan basah, pembeli bubar. Tapi kalau habis, rasanya senang sekali,” ujarnya sambil tertawa kecil.

BACA JUGA :  Baru Bebas, Residivis Ini Kembali Edarkan Sabu dan Ekstasi Senilai Rp 10 Miliar di Denpasar

Hidup sebagai perantau bukan hal mudah. Ia menjadi tulang punggung keluarga, menafkahi istri dan dua anaknya. Anak sulungnya kini sedang kuliah di Jawa, sementara anak bungsunya masih duduk di bangku SMP. “Semua ini buat mereka. Nyari pengalaman di Bali, eh malah betah,” katanya lirih.

Setiap sore, sekitar pukul 14.00 Wita, Junaedi mulai mangkal di Jalan Puputan Klungkung. Bila sepi, ia berpindah ke Jalan Untung Surapati, dekat Polres Klungkung. Dari berjualan kue putu, ia bisa membawa pulang Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari — cukup untuk biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya.

BACA JUGA :  Cekcok Dua Pemuda di Pangkung Lembongan Berakhir Damai, Polisi Lakukan Mediasi

Kini, suara “pssshhh” dari kukusan bambu milik Junaedi bukan sekadar bunyi uap. Ia adalah simbol ketekunan, perjuangan, dan kehangatan seorang ayah yang mencari rezeki dengan cara sederhana namun penuh makna. (*)

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

0 Comments
Newest
Oldest
Inline Feedbacks
View all comments

Breaking News

Informasi Lowongan Pekerjaan Terbaru Hari Ini

Baca Lainnya

SEMARAPURA, BALINEWS.ID — Pemerintah Kabupaten Klungkung resmi menjalin kerja sama dengan Desa Adat Sekartaji dalam pengelolaan Tempat Rekreasi...
NASIONAL, BALINEWS.ID - Komisi III DPR RI resmi memulai pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perampasan Aset Terkait Tindak...
KLUNGKUNG, BALINEWS.ID — Pemerintah Kabupaten Klungkung kembali memperluas jangkauan program Angkutan Siswa Gratis (Angsis) sebagai upaya mendukung akses...
KLUNGKUNG, BALINEWS.ID – Wakil Bupati Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra mewakili Bupati Klungkung menghadiri Pentas Seni Pendidik dan...