BADUNG, BALINEWS.ID – Persatuan Solidaritas Indonesia (PSI) menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) sekaligus pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), Dewan Pimpinan Daerah (DPD), dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) se-Bali di Kabupaten Badung, Sabtu (24/1/226).
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua PSI Kaesang Pangarep serta Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI Ahmad HM Ali. Dalam agenda itu, mantan politisi Golkar Bali, I Wayan Suyasa, resmi ditetapkan sebagai Ketua DPW PSI Bali.
Ahmad Ali menyampaikan, Rakorwil menjadi bagian dari upaya konsolidasi internal partai, termasuk penguatan struktur organisasi hingga pendekatan dengan masyarakat dengan tetap memperhatikan nilai-nilai budaya lokal. Ia juga menyoroti tingkat kehadiran pengurus PSI Bali yang dinilai tinggi.
“Saya bangga, kepada seluruh pengurus PSI Bali. Kehadirannya 100 persen, setelah Kalimantan Barat dan DKI Jakarta. Ini menunjukkan solidaritas dan kesiapan untuk membesarkan partai,” ujarnya.
Ia menambahkan, setelah Rakorwil Bali, PSI akan menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Sulawesi Selatan pada 29–31 Januari 2026. Menurutnya, rangkaian kegiatan tersebut tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan bagian dari persiapan menghadapi agenda politik ke depan.
Ahmad Ali menyebut Pulau Dewata merupakan wilayah dengan dinamika politik yang kuat karena banyaknya partai yang telah lama mengakar. Meski demikian, ia menilai tantangan tersebut dapat dihadapi melalui kerja organisasi yang solid dan konsisten.
“Bali ini daerah yang tidak mudah. Tapi, saya percaya dengan konsolidasi yang baik dan semangat kader, PSI bisa mempersembahkan kursi untuk DPR RI dari Bali,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya sikap menghormati adat dan budaya Bali. Menurutnya, kehadiran partai politik harus dipahami sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai yang telah hidup di masyarakat, bukan sebaliknya.
“PSI tidak datang untuk mengubah budaya Bali. Justru, kehadiran PSI harus memperkuat budaya yang sudah ada. Kita tahu, Bali dikenal dunia bukan karena sumber daya alamnya, tetapi karena kekuatan budayanya,” ujar Ali.
Ia mengingatkan kader PSI di Bali agar tidak bersikap merasa paling memahami adat istiadat setempat. Keterlibatan tokoh adat dan masyarakat dinilai penting dalam setiap kegiatan sosial maupun politik. Selain itu, sikap rendah hati dan kebermanfaatan bagi lingkungan disebut menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik.
“PSI harus hadir, bukan hanya saat pemilu. Jadilah orang baik bukan karena mendekati pemilihan, tapi karena memang karakternya baik. Harus memberikan manfaat dengan hati, perhatian dan kepedulian,” pungkasnya. (*)

