Slot Header 970×90

Sejumlah Figur Publik Soroti Karhutla, Ruben Onsu hingga Once Mekel Serukan Solidaritas

Oleh Rushell Ambarita · Redaksi

15 Oktober 2026 pukul 20.38 WITA · 3 menit baca

Kolase Postingan Publik Figur
Kolase Postingan Publik Figur

BALINEWS — Sejumlah figur publik dan musisi Indonesia menyuarakan keprihatinan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia. Melalui media sosial, mereka mengajak masyarakat untuk tidak melupakan dampak bencana lingkungan tersebut di tengah derasnya arus konten hiburan.

Seruan itu terlihat melalui unggahan Instagram sejumlah figur publik, di antaranya Ruben Onsu, Shinta Bachir, Once Mekel, Thomas Ramdhan, Armand Maulana, dan Gusti Hendy. Mereka membagikan pesan solidaritas yang menekankan pentingnya menjaga perhatian publik terhadap persoalan karhutla dan hak masyarakat untuk menghirup udara bersih.

Salah satu pesan yang dibagikan Ruben Onsu dan Shinta Bachir ditujukan kepada media, selebgram, kreator konten, influencer, tokoh publik, serta komunitas yang memiliki pengaruh di ruang digital.

Gambar berita

Gambar: [Instagram Ruben Onsu]

Pesan tersebut mengingatkan agar linimasa media sosial tidak hanya dipenuhi konten hiburan ketika masyarakat di wilayah terdampak menghadapi persoalan kabut asap. Para pemilik platform dan akun dengan jangkauan luas diajak memanfaatkan pengaruh mereka untuk menyebarkan informasi mengenai situasi tersebut.

Ajak Publik Tidak Berhenti Bersuara

Dalam pesan yang turut dibagikan Once Mekel dan Thomas Ramdhan, masyarakat diajak untuk terus memperhatikan persoalan karhutla yang berdampak pada kehidupan warga.

Gambar berita

Gambar: [Instagram Thomas Ramdhan]

Pesan tersebut juga menyoroti pentingnya peran media dan kreator konten dalam mengangkat isu kemanusiaan agar tidak cepat dilupakan. Seruan itu menempatkan media sosial bukan sekadar ruang hiburan, melainkan juga sarana untuk menyampaikan kepedulian terhadap persoalan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Unggahan yang beredar tersebut memuat klaim bahwa lebih dari 174 ribu warga mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta menyebut puluhan ribu balita di Sumatra dan Kalimantan terdampak asap karhutla. Angka tersebut merupakan klaim dalam materi kampanye yang dibagikan dan masih memerlukan verifikasi melalui data resmi serta informasi mengenai periode pelaporannya.

Sementara itu, Armand Maulana membagikan poster bertuliskan “Darurat Udara Bersih”. Poster tersebut menampilkan ilustrasi wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Papua dengan pesan solidaritas bagi daerah-daerah yang disebut terdampak.

Materi tersebut juga mencantumkan Sumatra, Riau, Jambi, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua dalam seruan *Pray for*, disertai keterangan bahwa peta yang ditampilkan merupakan ilustrasi sebaran wilayah terdampak, bukan peta titik panas atau hotspot.

Baim Wong Singgung Penanganan di Kalimantan

Di tengah gelombang seruan tersebut, Baim Wong menyampaikan pandangannya melalui kolom komentar di media sosial. Ia menuliskan dukungannya kepada negara sekaligus menyinggung perlunya pembagian tugas dan fokus kerja dalam pemerintahan.

Baim juga mengusulkan agar delegasi diarahkan ke Kalimantan untuk berfokus hingga persoalan di wilayah tersebut tuntas. Menurutnya, dampak persoalan itu bukan hanya berkaitan dengan kerugian negara, tetapi juga nama baik negara.

Gambar berita

Gambar: [Instagram Baim Wong]

Komentar tersebut memperlihatkan sudut pandang lain dalam percakapan publik mengenai karhutla, yakni pentingnya fokus penanganan dan pembagian tanggung jawab agar persoalan dapat diselesaikan.

L

Gusti Hendy juga menyampaikan pesan mengenai hak masyarakat untuk hidup sehat. Dalam unggahannya, ia menekankan keinginan warga Kalimantan untuk dapat bernapas dengan nyaman dan memiliki paru-paru yang sehat.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kabut asap tidak hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga kualitas hidup masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak.

Media Sosial Menjadi Ruang Solidaritas

Banyaknya unggahan dengan pesan serupa menunjukkan bagaimana media sosial dapat menjadi ruang untuk menggalang perhatian terhadap persoalan lingkungan. Keterlibatan musisi, selebritas, dan kreator konten berpotensi membantu menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Meski demikian, penyebaran pesan solidaritas perlu diimbangi informasi yang akurat mengenai lokasi kebakaran, kondisi kualitas udara, dampak kesehatan, serta langkah penanganan yang dilakukan pihak berwenang.

Dengan demikian, perhatian publik tidak berhenti pada penggunaan tagar atau pembagian poster, tetapi juga mendorong masyarakat memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dan memahami perkembangan situasi di wilayah terdampak.

Gambar berita

Gambar: [Instagram Shinta bachir]

Seruan yang dibagikan para figur publik tersebut pada akhirnya menegaskan satu pesan: persoalan karhutla dan kabut asap membutuhkan perhatian berkelanjutan, bukan hanya ketika gambar kebakaran dan kabut pekat ramai beredar di media sosial.

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.