DENPASAR, BALINEWS.ID – Usai keributan yang terjadi di TPS 3R Sesetan, Denpasar, pada Kamis (9/4/2026), kondisi pengelolaan sampah organik kembali menjadi sorotan. Pantauan Balinews.id di lokasi menunjukkan, masyarakat menaruh sampah organik di pinggir jalan sehingga menumpuk dan dikhawatirkan menimbulkan bau tak sedap.
Hasil investigasi mengungkap, dalam 1 shift di TPS 3R Sesetan terdapat 14 orang yang memilah sampah. Menurut pengelola TPS, jumlah tenaga kerja tersebut belum mencukupi.
“Makanya target kita ke depan teman-teman bisa membantu kami dari tim jasa swasta. Kami minta bantuan tenaga kerja, karena penganggaran dari desa kan tidak mungkin,” ujar pengelola TPS 3R Sesetan.
Selain itu, dua utusan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang masih berada di Bali juga tampak berada di lokasi. Kedua pejabat tersebut sedang melakukan pemantauan, sebelum kemudian diajak menuju TPS 3R Pemogan.
Salah satu dari kedua utusan tersebut yakni Agus Ramadhan selaku staf Imspektorat Jenderal Kementrian LH.
Di Pemogan, keduanya mendapati fakta bahwa fasilitas hanya mampu mengolah 3 ton sampah per hari dari total 51 ton yang masuk. Sebagian besar sampah organik masih tersimpan di rumah penduduk dan belum terangkut ke TPS.
Kedatangan staf khusus Menteri LH juga bertujuan menindaklanjuti laporan terkait 400 truk sampah yang disebut tidak masuk ke TPA Suwung, sementara pemerintah provinsi mencatat hanya 100 truk tercatat masuk.
Salah seorang mengatakan, “Masih ada di rumah penduduk, di TPS3R, dan dibuang ke sembarang tempat.”
Fenomena ini menegaskan perlunya perhatian serius terhadap pengelolaan sampah di Denpasar, khususnya terkait tenaga kerja dan distribusi sampah dari rumah penduduk ke TPS. (*)