
Foto: CEphoto, Uwe Aranas/Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
Keterangan: Pura Ulun Danu Beratan di tepi Danau Beratan, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan.
Bali kerap dijuluki Pulau Seribu Pura, dan julukan itu terasa nyata begitu Anda berkeliling pulau. Tempat suci umat Hindu berdiri di atas tebing karang, di tepi danau pegunungan, di mulut gua, hingga di tengah keramaian Ubud. Banyak di antaranya terbuka bagi wisatawan, selama pengunjung datang dengan sikap hormat.
Berikut 10 pura ikonik yang layak masuk rencana perjalanan Anda, disusun berkeliling pulau dari Bukit Pecatu di selatan, Tabanan dan Jembrana di barat, Buleleng di utara, Ubud, hingga pesisir Klungkung di timur. Besakih, Lempuyang, dan Tirta Empul yang pernah diulas Balinews.id sengaja tidak diulang di sini. Simak juga etika berkunjung ke pura di bagian akhir artikel.
1. Pura Luhur Uluwatu

Foto: CEphoto, Uwe Aranas/Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
Berdiri di atas anjungan batu karang yang terjal dan menjorok ke Samudra Hindia, Pura Luhur Uluwatu termasuk Pura Sad Kahyangan yang sangat disucikan umat Hindu Bali. Pura ini dikaitkan dengan Empu Kuturan pada abad ke-11 dan dengan Dang Hyang Nirartha, yang diyakini mencapai moksa di tempat ini. Menjelang senja, pengelola DTW Uluwatu menggelar Tari Kecak di panggung terbuka; pada musim ramai September 2026, sesi pukul 18.00–19.00 WITA bahkan ditambah sesi kedua pukul 19.00–20.00 WITA. Kawasan ini juga dihuni ratusan monyet ekor panjang, jadi simpan kacamata, topi, dan ponsel dengan aman serta jangan memberi makan monyet sembarangan.
Lokasi: Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.
2. Pura Taman Ayun

Foto: Chainwit./Wikimedia Commons (CC BY 4.0)
Taman Ayun dibangun pada 1634 oleh Raja Mengwi sebagai pura keluarga kerajaan, dengan kolam yang mengelilingi kompleksnya dan taman yang tertata rapi. Halamannya bertingkat: makin ke dalam, makin tinggi dan makin suci, hingga halaman utama yang dipenuhi meru menjulang. Pada 2012, UNESCO menetapkan pura ini sebagai bagian dari Warisan Budaya Dunia Lanskap Budaya Provinsi Bali, yakni sistem subak sebagai manifestasi filosofi Tri Hita Karana. Lokasinya sekitar 19 kilometer dari Kota Denpasar sehingga mudah disinggahi dalam perjalanan menuju Tabanan atau Bedugul.
Lokasi: Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.
3. Pura Tanah Lot

Foto: Jakub Hałun/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Nama Tanah Lot bermakna "tanah di tengah laut", merujuk pada pura yang berdiri di atas bongkahan batu karang di lepas pantai Beraban. Menurut legenda, Dang Hyang Nirartha bermeditasi di karang ini, memindahkannya ke tengah laut, lalu mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Sebagai pura laut, Tanah Lot menjadi tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut, sementara bagi wisatawan namanya identik dengan panorama matahari terbenam. Di sebelah utaranya berdiri Pura Batu Bolong di atas tebing yang melengkung seperti jembatan, dan kawasan ini tetap ramai pada 2026, dengan hampir 10.000 pengunjung selama libur Paskah 1–4 April.
Lokasi: Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan.
4. Pura Luhur Batukaru

Foto: MajaK./Wikimedia Commons (CC BY 3.0)
Pura Luhur Batukaru berada di lereng selatan Gunung Batukaru, gunung tertinggi kedua di Bali. Pura ini termasuk Sad Kahyangan dan menjadi tempat memuja Tuhan dalam manifestasi Sang Hyang Mahadewa, yang dipercaya menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, sehingga erat kaitannya dengan air dan pertanian. Kawasan Catur Angga Batukaru juga menjadi bagian dari Warisan Budaya Dunia sistem subak yang ditetapkan UNESCO. Pura ini tetap sangat disakralkan, sehingga sebagian areanya kerap tertutup bagi wisatawan saat upacara, seperti pada rangkaian karya piodalan Juni 2026.
Lokasi: Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.
5. Pura Ulun Danu Beratan

Foto: Anandajoti Bhikkhu/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Inilah pura yang tampak seolah mengapung di Danau Beratan dan pernah menghiasi lembar uang Rp50.000. Kompleksnya berada di tepi barat danau pada ketinggian sekitar 1.240 meter di atas permukaan laut, sehingga udaranya sejuk dan kabut kerap turun. Pura ini dipersembahkan bagi Dewi Danu, dewi air, danau, dan sungai, serta berkaitan erat dengan pengairan subak di wilayah sekitarnya. Bangunan paling ikonik adalah meru bertingkat sebelas di Pura Lingga Petak, sementara di luar area utama terdapat stupa Buddha sebagai simbol kerukunan beragama.
Lokasi: Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan.
6. Pura Rambut Siwi

Foto: Baldersdod/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Pura Rambut Siwi berdiri di atas batu karang di pinggir pantai, sekitar 100 meter di selatan jalan raya Denpasar–Gilimanuk. Menurut Dinas Pariwisata Jembrana, pura ini sudah ada sejak abad ke-15 dan berkaitan erat dengan perjalanan suci Dang Hyang Nirartha; namanya merujuk pada legenda rambut sang pendeta yang ditinggalkan dan dipuja di tempat ini. Sebagai pura dang kahyangan, Rambut Siwi menjadi tempat sembahyang umat Hindu dari seluruh Bali, dan banyak pelintas jalur barat singgah untuk berdoa memohon keselamatan perjalanan. Jaraknya sekitar 78 kilometer dari Denpasar atau 2–3 jam berkendara.
Lokasi: Desa Yeh Embang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana.
7. Pura Meduwe Karang

Foto: Anggabuana/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Di Bali utara, Pura Meduwe Karang memikat dengan ukiran khas Buleleng yang besar-besar dan sarat motif bunga. Pura yang dibangun sekitar 1890 hingga 1895 ini merupakan pura pertanian untuk memohon kesuburan lahan kering atau tegalan; namanya berarti "yang memiliki tanah". Di halaman depan, deretan patung tokoh Ramayana, dengan Kumbakarna di tengah pasukan kera Sugriwa, menyambut pengunjung. Daya tarik paling terkenal adalah relief seorang pria bersepeda dengan roda berbentuk bunga, yang kerap dikaitkan dengan seniman Belanda W.O.J. Nieuwenkamp yang menjelajahi Bali dengan sepeda pada 1904.
Lokasi: Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng.
8. Pura Taman Saraswati

Foto: Jakub Hałun/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Tepat di jantung Ubud, Pura Taman Saraswati menyambut pengunjung dengan kolam teratai di sepanjang jalan menuju gerbangnya.
Lokasi: Jalan Kajeng, Kelurahan Ubud, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar.
9. Pura Goa Gajah

Foto: Jakub Hałun/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Goa Gajah adalah situs purbakala yang hingga kini juga berfungsi sebagai tempat ibadah, sekitar 27 kilometer dari Denpasar. Mulut guanya dihiasi pahatan wajah raksasa yang menyeramkan, sementara di dalam lorongnya terdapat arca Ganesha dan Trilingga. Nama Lwa Gajah sudah disebut dalam Kakawin Nagarakretagama karya Mpu Prapanca tahun 1365, sedangkan kolam petirtaan dengan arca bidadari berpancuran baru ditemukan lewat penggalian pada 1950-an. Di bagian selatan yang dipisahkan sungai terdapat reruntuhan stupa, bukti hidup berdampingannya tradisi Hindu dan Buddha di masa lampau.
Lokasi: Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar.
10. Pura Goa Lawah

Foto: Anandajoti Bhikkhu/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Goa Lawah berarti "gua kelelawar", sesuai dengan gua di bagian utama pura yang dihuni ribuan kelelawar. Pura ini termasuk Sad Kahyangan dan diyakini didirikan oleh Mpu Kuturan pada abad ke-11. Letaknya di pertemuan perbukitan dan pantai, sekitar 40 kilometer dari Denpasar, dengan pantai yang indah di dekatnya. Saat upacara besar, kunjungan wisata bisa ditutup sementara; pada Padudusan Alit 7–10 Juli 2026, misalnya, wisatawan hanya boleh menyaksikan upacara dari jaba pura.
Lokasi: Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.
Etika berkunjung ke pura
Pura adalah tempat ibadah yang aktif digunakan, bukan sekadar latar foto. Kenakan busana yang sopan dan pantas, lalu lilitkan kain (kamen) dan selendang di pinggang sebelum masuk; di sejumlah pura, pengelola menyediakan kain bagi pengunjung. Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 7 Tahun 2025 melarang wisatawan asing memasuki Utamaning Mandala dan Madyaning Mandala (halaman utama dan tengah) pura, kecuali untuk bersembahyang dengan busana adat Bali atau busana persembahyangan dan tidak sedang menstruasi. Bagi pengunjung mana pun, perempuan yang sedang datang bulan umumnya tidak diperkenankan memasuki area pura.
Hormati umat yang sedang bersembahyang, jangan menginjak atau mengganggu sesajen, jangan memanjat pohon yang disakralkan atau menaiki bangunan suci, dan hindari berfoto secara tidak pantas di kawasan suci. Upacara piodalan bisa membuat area pura dibatasi atau ditutup sementara, jadi cek informasi terbaru dari pengelola sebelum berangkat. Wisatawan mancanegara juga wajib membayar Pungutan Wisatawan Asing sebesar Rp150.000 per orang melalui lovebali.baliprov.go.id dan, menurut surat edaran yang sama, didampingi pemandu wisata berlisensi saat mengunjungi daya tarik wisata. Harga tiket masuk dan jam buka tiap pura berbeda dan dapat berubah, sehingga sebaiknya tanyakan langsung di loket.
