BALINEWS - Bali tidak hanya dikenal lewat pantai dan hamparan sawahnya. Di balik keramaian destinasi wisata, pulau ini menyimpan jejak panjang peradaban: nekara perunggu dari masa perundagian, relief dan candi yang dipahat pada tebing padas, istana serta taman air peninggalan raja-raja, hingga monumen yang merekam perjuangan rakyat Bali melawan penjajah. Banyak di antaranya bukan sekadar bangunan tua, melainkan masih hidup sebagai tempat persembahyangan, kediaman keluarga puri, atau ruang belajar sejarah yang terbuka bagi wisatawan.
Berikut 10 situs sejarah di Bali yang menyimpan kisah masa lalu Pulau Dewata, dimulai dari Monumen Bajra Sandhi di Denpasar, menyusuri jejak Bali Kuno di Gianyar, singgah di bekas pusat Kerajaan Klungkung, menjelajahi istana dan taman air Kerajaan Karangasem, lalu berakhir di situs candi Buddha di Buleleng. Simak juga tips berkunjung dengan hormat di bagian akhir artikel.
1. Monumen Bajra Sandhi

Foto: Anis Fridasari/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Monumen Perjuangan Rakyat Bali ini lebih dikenal dengan nama Bajra Sandhi karena bentuknya menyerupai bajra atau genta, lonceng suci yang digunakan pendeta Hindu saat mengucapkan mantra. Desainnya adalah karya Ida Bagus Gede Yadnya, kala itu mahasiswa Arsitektur Universitas Udayana, yang memenangi sayembara desain pada 1981. Batu pertama diletakkan pada Agustus 1988, dan setelah pembangunannya sempat terhambat merosotnya nilai rupiah pada 1997, monumen ini diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 14 Juni 2003.
Angka kemerdekaan disematkan dalam arsitekturnya: 17 anak tangga di pintu utama, 8 tiang agung, dan tinggi bangunan 45 meter, melambangkan 17 Agustus 1945. Di lantai tengah, 33 diorama menuturkan perjalanan masyarakat Bali secara berurutan, sejak masa prasejarah hingga perjuangan merebut kemerdekaan, lengkap dengan keterangan dalam aksara Bali, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.
Lokasi: Lapangan Niti Mandala Renon, Desa Sumerta Kelod, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar.
2. Puri Saren Agung Ubud

Foto: Jorge Láscar/Wikimedia Commons (CC BY 2.0)
Di jantung Ubud, di tepi Jalan Raya Ubud, berdiri Puri Saren Agung atau Puri Ubud, pusat pemerintahan sekaligus kediaman keluarga kerajaan Ubud. Kompleksnya menampilkan arsitektur Bali klasik, dengan candi bentar dari bata merah berhias ukiran kayu dan batu yang menjadi spot foto favorit wisatawan. Hingga kini puri masih dihuni keluarga bangsawan Ubud dan menjadi pusat kegiatan adat, termasuk prosesi besar seperti pelebon keluarga puri.
Pada malam hari, halaman puri menjadi panggung pementasan tari Bali oleh Sanggar Tedung Agung, dengan lakon yang berganti-ganti, mulai dari Legong dan Barong hingga kisah Ramayana dan Mahabharata. Karena puri adalah tempat tinggal keluarga kerajaan, jagalah sikap dan jangan memasuki area yang tidak dibuka untuk umum.
Lokasi: Jalan Raya Ubud, Kelurahan Ubud, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar.
3. Situs Relief Yeh Pulu

Foto: Anandajoti Bhikkhu/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Di tengah persawahan Banjar Batulumbang, terpahat relief sepanjang sekitar 25 meter dengan tinggi rata-rata sekitar 2 meter pada dinding tebing padas. Berbeda dari relief yang mengisahkan dewa-dewa, panel-panel Yeh Pulu banyak menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat masa lalu: orang menunggang kuda, berburu, memikul hasil buruan, hingga sosok perempuan dan rumah penduduk. Penelitian yang dimuat jurnal Kalpataru (BRIN) membagi relief ini menjadi sembilan adegan dan menggolongkannya dalam gaya akhir Majapahit yang berkembang pada abad ke-14 hingga ke-15 Masehi.
Situs ini dilaporkan ditemukan pada 1925 oleh seorang punggawa Ubud, lalu dilaporkan oleh pelukis Belanda Nieuwenkamp. Namanya berasal dari bahasa Bali, yeh berarti air dan pulu berarti gentong, merujuk pada mata air di halaman situs yang hingga kini dianggap suci dan diambil untuk keperluan upacara.
Lokasi: Banjar Batulumbang, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar.
4. Pura Penataran Sasih dan Nekara Bulan Pejeng

Foto: Michael Gunther/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Di Pura Penataran Sasih tersimpan Nekara Bulan Pejeng, nekara perunggu terbesar di Indonesia dengan tinggi 186,5 sentimeter dan garis tengah bidang pukul 160 sentimeter. Para ahli purbakala menilai nekara ini sebagai bukti bahwa masyarakat Bali pada masa perundagian, sekitar 2.000 tahun silam, sudah menguasai teknologi dan seni tuang logam. Keberadaannya dikenal dunia setelah dilaporkan G.E. Rumphius dalam buku Amboinsche Rariteitkamer yang terbit pada 1705, yang mencatat kepercayaan penduduk setempat bahwa benda itu adalah roda bulan yang jatuh ke bumi.
Kini nekara diletakkan di atas pelinggih batu bata dan dikelilingi pagar kayu, sehingga pengunjung menyaksikannya dari bawah. Karena berada di pura yang masih digunakan untuk persembahyangan, berpakaianlah sopan dan ikuti arahan pengelola pura.
Lokasi: Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.
5. Candi Tebing Gunung Kawi

Foto: Anandajoti Bhikkhu/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Di lembah Sungai Pakerisan, sepuluh candi dipahat langsung pada ceruk dinding tebing batu. Kompleks ini diyakini dibangun pada abad ke-11, pada masa Raja Anak Wungsu dari Wangsa Warmadewa, dan umumnya dipercaya sebagai tempat pemujaan sekaligus peringatan bagi raja serta kerabat kerajaan. Candi-candi itu tersebar dalam beberapa kelompok di kedua sisi sungai, termasuk satu candi yang letaknya agak terpisah, sementara di sekitarnya terdapat ceruk-ceruk pertapaan yang dahulu digunakan para resi untuk bermeditasi.
Untuk mencapainya, pengunjung menuruni sekitar 300 anak tangga yang diapit sawah berundak dan lembah hijau, jadi siapkan stamina dan air minum untuk perjalanan kembali naik. Gunung Kawi berjarak sekitar 38 kilometer di utara Denpasar, dan pengunjung wajib mengenakan kain serta selendang.
Lokasi: Banjar Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.
6. Kertha Gosa dan Taman Gili, Klungkung

Foto: rheins/Wikimedia Commons (CC BY 3.0)
Kertha Gosa adalah bagian dari kompleks bangunan Kerajaan Klungkung yang sudah berdiri pada akhir abad ke-17, pada masa Ida I Dewa Agung Jambe. Pada masa kerajaan, balai ini menjadi tempat membahas keamanan, keadilan, dan kemakmuran wilayah kerajaan. Setelah Puputan Klungkung pada 28 April 1908, Kertha Gosa difungsikan sebagai tempat sidang pengadilan adat pada masa kolonial Belanda, dan meja serta kursi berukir yang dipakai dalam persidangan masih bisa dilihat hingga kini.
Objek wisata ini terdiri atas dua bangunan, Bale Kertha Gosa dan Bale Kambang; nama yang terakhir merujuk pada letaknya yang dikelilingi kolam Taman Gili. Langit-langitnya dihiasi lukisan wayang gaya Kamasan yang mengisahkan hukum karma pahala, termasuk perjalanan Bima mencari arwah orang tuanya. Gaya lukis ini masih dilestarikan di Desa Kamasan, sekitar 4 kilometer di selatan Semarapura. Pada foto, bangunan beratap di tengah kolam adalah Bale Kambang.
Lokasi: Kelurahan Semarapura Tengah, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung.
7. Puri Agung Karangasem

Foto: Anandajoti Bhikkhu/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Istana di pusat Kota Amlapura ini adalah peninggalan Kerajaan Karangasem yang strukturnya masih utuh hingga sekarang. Menurut ketua badan pengelolanya, Anak Agung Made Kosalia, pembangunan puri dirintis oleh Ida A.A. Gde Djelantik (stedehouder I) dan dilanjutkan pada akhir abad ke-19 oleh raja terakhir Karangasem, Ida A.A. Agung Anglurah Ketut Karangasem (stedehouder II). Dibangun di atas lahan sekitar 2 hektare, arsitekturnya memadukan tiga budaya: unsur Tionghoa pada candi gelung dan ukiran pintu, sentuhan Eropa pada relief tembok dan hiasan mahkota, serta ukiran dan patung khas Bali.
Wisatawan sudah berdatangan ke puri ini sejak sekitar 1970-an. Pengunjung dipersilakan berkeliling, tetapi tidak boleh masuk ke merajan maupun kamar suci raja; area tersebut hanya boleh difoto dari luar.
Lokasi: Jalan Sultan Agung, Kelurahan Karangasem, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem.
8. Taman Sukasada Ujung

Foto: Manuae/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Taman Ujung, yang juga bernama Taman Sukasada, berawal dari kolam Dirah yang dibangun pada 1901, lalu dikembangkan menjadi taman air pada 1909 oleh Raja Karangasem yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem. Pembangunannya melibatkan arsitek Belanda dan Tionghoa bersama undagi Bali, sehingga lahir perpaduan gaya Eropa dan Bali yang khas. Taman ini selesai dibangun pada 1921, sedangkan prasasti marmer peresmiannya bertarikh 1937 dan ditulis dalam aksara Latin dan Bali.
Letusan Gunung Agung sempat merusak taman ini dengan parah, hingga Puri Karangasem bersama Pemerintah Kabupaten Karangasem memugarnya pada tahun 2000. Kini pengunjung bisa menyusuri jembatan panjang di atas kolam menuju bekas tempat peristirahatan raja, dengan latar perbukitan dan laut biru.
Lokasi: Banjar Ujung, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem.
9. Taman Tirta Gangga

Foto: Manuae/Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
Sekitar 7 kilometer di utara Amlapura, raja yang sama membangun taman air ini pada 1948, terinspirasi oleh mata air yang dipandang suci di bawah pohon beringin. Namanya berasal dari kata tirta yang berarti air suci dan Gangga, sungai suci di India. Menurut pengelola taman, sang raja tidak hanya merancang sendiri taman ini, tetapi juga ikut menggali tanah bersama para pekerjanya. Taman seluas sekitar 1,2 hektare ini terbagi atas tiga tingkat, yaitu Swah, Bwah, dan Bhur, dengan air mancur Nawa Sanga bersusun sebelas di bagian tengah, kolam dengan batu pijakan, serta patung-patung dari kisah Mahabharata.
Letusan Gunung Agung pada 1963 menghancurkan sebagian besar bangunan dan kolamnya. Keluarga kerajaan kemudian merehabilitasinya secara bertahap sejak 1979, disusul renovasi yang lebih intensif mulai 2002, hingga keindahan taman kerajaan ini berangsur pulih.
Lokasi: Desa Ababi, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem.
10. Candi Buddha Kalibukbuk

Foto: DayakSibiriak/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Tak jauh dari kawasan wisata Lovina, berdiri situs yang menjadi bukti bahwa agama Buddha pernah berkembang di Bali utara. Jejaknya pertama kali muncul pada 1991, ketika warga menemukan stupika dan materai tanah liat saat menggali kolam renang di belakang sebuah hotel. Pada 1994, temuan serupa muncul lagi ketika warga menggali sumur di sebuah kebun kelapa, dan penelitian intensif pun berlangsung hingga 2002.
Ekskavasi menemukan bata bermotif sulur-suluran, relief gajah dan gana, sekitar 100 stupika, serta susunan batu andesit, yang menunjukkan bahwa candi ini berasal dari kurun abad ke-7 hingga ke-14 Masehi. Setelah dipugar pada 2004–2009, situs ini diresmikan dan dibuka untuk umum pada Mei 2009. Kini stupa induknya berdiri di antara stupa-stupa yang lebih kecil, dikelilingi pohon kelapa.
Lokasi: Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.
Tips berkunjung ke situs sejarah dengan hormat
Sebagian situs dalam daftar ini, seperti Gunung Kawi, Yeh Pulu, dan Pura Penataran Sasih, sekaligus merupakan tempat suci yang masih digunakan umat Hindu. Kenakan pakaian sopan serta kain dan selendang, jangan memanjat atau duduk di atas candi, relief, maupun bangunan suci, dan beri ruang bagi umat yang sedang bersembahyang; sebagian area bisa saja ditutup saat upacara. Di puri yang masih dihuni keluarga kerajaan, hormati batas area pribadi dan tanyakan dahulu sebelum memotret orang. Untuk menghemat waktu, situs di Gianyar seperti Yeh Pulu, Pejeng, dan Gunung Kawi bisa digabung dalam satu rute, begitu pula Puri Agung Karangasem, Taman Ujung, dan Tirta Gangga di Karangasem.
Wisatawan mancanegara wajib membayar Pungutan Wisatawan Asing sebesar Rp150.000 per orang melalui lovebali.baliprov.go.id. Pemprov Bali juga memperpanjang pengaturan pembelian BBM bersubsidi dengan skema ganjil-genap nomor pelat kendaraan hingga Jumat, 23 Oktober 2026, jadi rencanakan pengisian bahan bakar sebelum menempuh perjalanan jauh ke Karangasem atau Buleleng. Harga tiket, jam buka, dan aturan kunjungan di tiap lokasi dapat berubah, sehingga sebaiknya cek informasi terbaru kepada pengelola sebelum berangkat.

