Slot Header 970×90

Antrean BBM Bikin Denpasar Lumpuh, Pelaku Pariwisata Keluhkan Wisatawan Terlambat 4 Jam

Oleh Fery Fadli · null

13 Oktober 2026 pukul 14.31 WITA · 3 menit baca

Antrean BBM Bikin Denpasar Lumpuh, Pelaku Pariwisata Keluhkan Wisatawan Terlambat 4 Jam

DENPASAR, BALINEWS — Antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Denpasar, Bali, memicu kemacetan parah hingga mengganggu aktivitas masyarakat dan operasional pelaku pariwisata. Bahkan, antrean BBM di sejumlah titik dilaporkan mengular hingga sekitar satu kilometer.

Pelaku pariwisata Bali, Bli Kande, mengungkapkan kondisi tersebut berdasarkan pemantauannya di lapangan pada Selasa (13/10/2026) sejak pukul 07.30 WITA. Sejumlah titik yang dipantau mengalami kemacetan akibat antrean kendaraan yang hendak mengisi bahan bakar.

Di kawasan Gatot Subroto (Gatsu) Tengah, kemacetan terjadi sejak sekitar kawasan SPBU dekat Jalan Ahmad Yani hingga Perempatan Ubung. Kondisi serupa terlihat di sekitar Lapangan Lumintang, ketika antrean kendaraan di salah satu SPBU mengular hingga mendekati kawasan KFC dan memenuhi dua jalur.

Antrean panjang juga terpantau di kawasan Renon, tepatnya di sekitar Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN). Kendaraan yang mengantre BBM bahkan membentuk antrean melingkar hingga ke arah Jalan Badak Agung.

Kemacetan serupa terjadi di sekitar SPBU dekat BTP dan kawasan Stikom. Antrean kendaraan dari SPBU di sekitar Stikom disebut berdampak hingga lampu merah Bajra Sandhi.

“Yang menarik, di Gatsu Tengah Pertalite-nya sudah habis. Sudah ada pengumuman Pertalite habis, tetapi masyarakat tetap mengantre untuk mendapatkan Pertamax,” ujar Kande.

Menurutnya, situasi tersebut memicu kekecewaan masyarakat. Meski sebagian warga tetap menyampaikan keluhan dengan nada bercanda, tidak sedikit yang menunjukkan kejengkelan karena harus menghabiskan waktu di jalan hanya untuk mendapatkan BBM.

Kande menuturkan, ada warga yang melontarkan pernyataan bernada frustrasi, bahkan mengatakan tidak ingin dilahirkan di Indonesia jika memiliki kesempatan memilih tempat lahir.

Sebagai pelaku pariwisata, Kande menilai persoalan BBM tidak hanya menyangkut jenis atau harga bahan bakar, tetapi juga ketersediaan pasokan. Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap mobilitas masyarakat dan pelayanan wisatawan.

Menurutnya, sebagian masyarakat tetap bersedia membeli Pertamax meskipun harganya lebih tinggi, asalkan BBM tersedia dan bisa diperoleh tanpa harus mengantre terlalu lama.

“Masalahnya bukan Pertalite atau Pertamax, tetapi BBM yang bisa didapatkan. Masyarakat mengantre karena membutuhkan bahan bakar. Ada yang mengatakan tidak masalah harga Pertalite dinaikkan Rp10.000, yang penting barangnya tersedia,” katanya, mengutip pendapat warga yang ditemuinya.

Kande mengatakan, antrean BBM yang memicu kemacetan membuat waktu tempuh perjalanan wisata sulit diprediksi. Perjalanan dari Kuta menuju Ubud, yang dalam kondisi normal diperkirakan memakan waktu sekitar 40 menit hingga satu jam, kini berpotensi mengalami keterlambatan akibat kepadatan lalu lintas.

Dampaknya, pelaku pariwisata kesulitan memastikan jadwal penjemputan dan perjalanan wisatawan, terutama ketika kemacetan terjadi di jalur yang harus dilalui kendaraan wisata.

“Kalau dulu perjalanan dari Kuta ke Ubud masih bisa diperkirakan 40 menit sampai satu jam. Sekarang, dengan kondisi seperti ini, kita tidak bisa memprediksi waktu tempuh karena antrean BBM juga menyebabkan kemacetan di sejumlah kawasan,” ujarnya.

Kande mengaku kecewa dengan kondisi tersebut karena transportasi merupakan salah satu kebutuhan utama dalam menunjang aktivitas pariwisata Bali.

Ia menambahkan, dalam operasionalnya pada hari itu, jadwal keberangkatan wisatawan yang semula direncanakan pada pagi hari terpaksa mundur sekitar empat jam karena harus mencari dan mengantre BBM terlebih dahulu.

Meski demikian, ia memastikan wisatawan yang ditanganinya tidak sampai membatalkan perjalanan. Setelah mendapatkan BBM, perjalanan wisata kembali dapat dilanjutkan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan ketersediaan BBM dan antrean di SPBU tidak hanya berdampak pada pengendara, tetapi juga berpotensi mengganggu kelancaran layanan transportasi yang menjadi bagian penting dari industri pariwisata Bali.

Fery Fadli

Fery Fadli

null

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.