DENPASAR, BALINEWS — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali mulai mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk pekerjaan jurnalis yang membutuhkan mobilitas tinggi. Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dilaporkan mencapai ratusan meter hingga lebih dari dua kilometer.
Jurnalis IDN Times di Bali, Ayu Afria UE, mengaku terpaksa tidak menjalankan tugas peliputan pada Selasa (13/10/2026) setelah kesulitan mendapatkan BBM sejak malam sebelumnya.
Ayu mengatakan, kelangkaan tidak hanya terjadi pada Pertalite, tetapi juga Pertamax dan Pertamax Turbo yang biasa digunakannya. Ia bahkan harus mendatangi empat SPBU sebelum akhirnya mendapatkan BBM.
“Saya sampai pindah dari empat pom bensin dan itu tidak ada, padahal saya tidak menggunakan Pertalite. Saya menggunakan Pertamax atau Pertamax Turbo,” ujarnya.
Menurut Ayu, antrean di sejumlah SPBU yang dipantaunya mencapai sekitar 800 meter. Sementara itu, antrean di kawasan Jalan Imam Bonjol diperkirakan lebih dari dua kilometer.
Ia juga menceritakan pengalamannya mengantre di SPBU kawasan Teuku Umar Barat, saat antrean masih berlangsung, petugas menutup layanan karena Pertamax disebut telah habis. Namun, SPBU tersebut kembali melayani pengisian setelah ia meninggalkan lokasi selama hampir dua jam.
Ayu mengaku akhirnya mendapatkan BBM di SPBU dekat McDonald's Pura Demak setelah sebelumnya mendatangi sejumlah lokasi, termasuk Sunset Road dan kawasan dekat bandara.
Dampak kelangkaan tersebut dirasakannya secara langsung ketika hendak menjalankan tugas peliputan. Salah satu agenda yang terpaksa dilewatkannya adalah kegiatan pembukaan Pekan Iklim di Prama Sanur.
Ia mengatakan, pilihan transportasi alternatif juga tidak mudah. Layanan ojek daring sulit dipesan, sementara pengemudi taksi listrik yang sempat diwawancarainya mengaku kewalahan melayani pesanan.
Kondisi itu membuat Ayu memilih memantau perkembangan berita dari tempat tinggalnya setelah melaporkan kendala tersebut kepada kantor.
“Permintaan saya simpel saja, jangan persulit masyarakat untuk bisa bergerak. Bagaimanapun, perekonomian masyarakat itu bergerak dari hal-hal yang sepele seperti ini,” katanya.
Ayu juga mempertanyakan ketidakjelasan informasi mengenai penyebab kelangkaan BBM yang menurut pengamatannya telah terasa dalam beberapa bulan terakhir. Ia menilai minimnya informasi kepada publik berpotensi memicu pembelian berlebihan atau panic buying.
Terpisah, Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Wartawan Online (PW IWO) Bali, Tri Widiyanti, mendesak PT Pertamina segera mengatasi persoalan distribusi BBM, khususnya Pertalite dan Pertamax, yang memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.
Tri menegaskan, BBM merupakan kebutuhan mendasar yang berkaitan langsung dengan mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi, dan keberlangsungan industri pariwisata Bali.
“Pertamina harus segera bertindak. Jangan sampai masyarakat terus dibiarkan mengantre berjam-jam, sementara mereka membutuhkan BBM untuk bekerja, mencari nafkah, menjalankan usaha, dan melayani wisatawan. Ini bukan sekadar persoalan distribusi, tetapi menyangkut kepastian pelayanan publik,” tegasnya.
Ia mempertanyakan ketidaksesuaian antara pernyataan bahwa stok BBM tersedia dan kondisi di lapangan, ketika masyarakat masih kesulitan mendapatkan bahan bakar di sejumlah SPBU.
Menurut Tri, Pertamina perlu menjelaskan secara terbuka kendala distribusi, kebutuhan riil BBM di Bali, serta target waktu pemulihan pasokan.
“Kalau memang stok tersedia dan persoalannya hanya pada distribusi, lalu di mana letak hambatannya? Apa yang sedang terjadi di jalur distribusi, berapa kebutuhan riil BBM di Bali, dan kapan pasokan kembali normal?” ujarnya.
Tri juga meminta Pertamina memberikan penjelasan resmi terkait isu penghapusan Pertalite yang ramai diperbincangkan. Menurutnya, informasi yang tidak jelas di tengah kesulitan memperoleh BBM dapat memperbesar keresahan masyarakat.
Ia mendesak Pertamina mempercepat distribusi Pertalite dan Pertamax, terutama ke wilayah yang mengalami antrean panjang, serta menyampaikan informasi yang transparan mengenai kendala dan jadwal pemulihan pasokan.
“Jangan tunggu antrean semakin panjang, aktivitas ekonomi terganggu, atau masyarakat kehilangan kepercayaan. Kami mendesak Pertamina segera melakukan langkah konkret dan memastikan distribusi berjalan normal secepatnya,” katanya.
Tri turut meminta pemerintah daerah dan instansi terkait mengawasi penyaluran BBM agar kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha tidak terabaikan.
Menurutnya, gangguan pasokan BBM di Bali berpotensi berdampak luas, mulai dari pekerja dan pelaku usaha hingga distribusi barang serta pelayanan kepada wisatawan.
Ia menegaskan, masyarakat membutuhkan kejelasan mengenai penyebab kelangkaan dan kepastian kapan distribusi kembali normal, bukan sekadar pernyataan bahwa stok BBM tersedia.

