DENPASAR , BALINEWS — Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali mendorong penguatan konektivitas udara dan kolaborasi paket wisata antara Bali dan Yogyakarta untuk membuka pasar baru pariwisata Indonesia, khususnya dari kawasan Asia Tengah.
Ketua ASITA Bali, I Putu Winastra, S.AB., M.A.P., mengatakan Bali dan Yogyakarta memiliki karakter pariwisata yang berbeda namun saling melengkapi. Bali kuat dengan wisata alam, bahari, budaya, wellness dan lifestyle, sementara Yogyakarta memiliki daya tarik sejarah, heritage, seni dan tradisi.
Hal tersebut disampaikan Winastra dalam Jogja and Beyond Table Top on Bali yang digelar di Bali Dynasty Resort, Rabu (7/10/2026). Forum tersebut mempertemukan pelaku industri pariwisata Bali dan Yogyakarta untuk membuka peluang bisnis sekaligus memperluas pasar wisatawan.
Menurut Winastra, kondisi pariwisata Bali saat ini menunjukkan tren positif. Kunjungan wisatawan mancanegara telah mencapai sekitar 7,05 juta, sedangkan perjalanan wisatawan domestik telah menembus lebih dari 9 juta perjalanan.
Namun, pertumbuhan jumlah wisatawan tersebut perlu diikuti dengan strategi untuk meningkatkan lama tinggal dan nilai ekonomi yang dihasilkan wisatawan bagi masyarakat lokal.
“Bali dan Yogyakarta memiliki kekuatan yang saling melengkapi. Kolaborasi kedua destinasi perlu diarahkan pada pembukaan pasar baru, penguatan konektivitas dan penciptaan paket wisata lintas destinasi,” kata Winastra.
Ia menilai salah satu pasar yang memiliki potensi besar adalah kawasan Asia Tengah, terutama Kazakhstan dan Uzbekistan.
Kazakhstan dengan populasi sekitar 20 juta jiwa dinilai memiliki peluang untuk menjadi pasar potensial bagi Bali. Namun, jumlah wisatawan dari kawasan tersebut ke Bali masih relatif kecil.
Persoalan utamanya, kata Winastra, adalah konektivitas penerbangan.
Ia menyebut wisatawan dari kawasan tersebut belum dapat langsung menuju Bali dengan mudah sehingga harus melakukan perjalanan transit dan menginap terlebih dahulu di negara lain.
“Mereka tidak langsung bisa ke Bali. Jadi mereka harus stay overnight. Itu yang menjadi challenge,” ujar Winastra.
Karena itu, menurut dia, peningkatan konektivitas penerbangan dari Asia Tengah menuju Bali perlu menjadi bagian dari strategi pengembangan pasar.
Winastra mengatakan upaya tersebut tengah didorong melalui berbagai jejaring, termasuk dalam kapasitasnya sebagai konsul kehormatan.
“Karena saya ditunjuk sebagai konsul kehormatan, jadi kami sedang mencoba untuk membuat connectivity sehingga wisatawan...” ujarnya.
Selain membuka akses pasar baru, Winastra menilai Bali dan Yogyakarta dapat dipasarkan sebagai satu rangkaian perjalanan wisata.
Wisatawan yang datang ke Indonesia tidak harus hanya mengunjungi satu destinasi. Mereka dapat menikmati Bali selama beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta, atau sebaliknya.
Pola perjalanan lintas destinasi tersebut dinilai dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus memperluas distribusi manfaat ekonomi pariwisata.
Kerja sama dapat dikembangkan melalui joint promotion, business matching, paket wisata bersama hingga penyelenggaraan event lintas destinasi.
Menurut Winastra, forum table top menjadi salah satu ruang penting untuk mempertemukan buyer dan seller. Pertemuan bisnis tersebut diharapkan tidak berhenti pada networking, tetapi berlanjut menjadi transaksi dan kerja sama jangka panjang.
Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan pariwisata tidak cukup hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan.
Aspek kualitas wisatawan, lama tinggal, pengalaman yang diperoleh serta besarnya kontribusi ekonomi terhadap masyarakat juga perlu menjadi perhatian.
“Quality tourism dan sustainable tourism menjadi semakin penting,” ujarnya.
Pertumbuhan pariwisata, lanjut dia, harus berjalan beriringan dengan keberlanjutan lingkungan, pelestarian budaya serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dengan posisi Bali yang sudah kuat di pasar pariwisata internasional dan Yogyakarta yang memiliki kekuatan pada sejarah, budaya dan heritage, kolaborasi kedua destinasi dinilai memiliki peluang untuk memperluas pasar Indonesia.
Melalui kerja sama tersebut, wisatawan diharapkan tidak hanya datang ke Indonesia untuk mengunjungi satu destinasi, tetapi memiliki lebih banyak pilihan perjalanan dan alasan untuk tinggal lebih lama.
Bali dan Yogyakarta pun didorong menjadi dua pintu yang saling terhubung untuk menghadirkan pengalaman wisata Indonesia yang lebih panjang dan beragam.

