BALINEWS - Kebahagiaan sekaligus haru dirasakan Winda Viska melihat keberanian anak ketiganya, Maison, saat mengikuti kompetisi wushu di Malang.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya bagi Winda bahwa Maison yang baru sekitar tiga bulan belajar wushu sudah berani berdiri di tengah arena dan tampil di hadapan banyak orang.
Lebih membuat hati Winda berdebar, kompetisi tersebut menjadi pengalaman pertama Maison. Tak hanya itu, Maison juga langsung mengikuti kompetisi berskala nasional yang diikuti sekitar 340 peserta dari berbagai cabang dan tingkatan.
Sebagai seorang ibu, Winda mengaku tak bisa menyembunyikan rasa tegangnya. Apalagi Maison mendapat nomor undian pertama untuk tampil.
“Pastinya bangga dan bersyukur sekali. Yang tidak terbayangkan melihat Maison yang baru latihan wushu tiga bulan, berani tampil di depan orang banyak saja kami para ibu sudah pasti terharu dan deg-degan,” ungkap Winda.
“Ditambah lagi Maison waktu itu tampil sebagai atlet nomor undian satu. Maminya sampai sesak,” lanjutnya.

Anak Winda Viska, Maison Saat menerima Medali Perak
Namun, kekhawatiran sang ibu justru berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di arena.
Maison tampil dengan tenang. Bahkan, menurut Winda, penampilan putranya jauh lebih baik dari yang selama ini dibayangkan maupun hasil latihan.
“Tapi anaknya malah tampil tenang dan jauh lebih baik dari ekspektasi dan latihan,” kata Winda.
Pada akhirnya, Maison berhasil membawa pulang medali perak.
Bagi Winda, medali tersebut bukanlah sesuatu yang sejak awal menjadi target utama. Ia justru ingin Maison mendapatkan pengalaman, berani tampil, dan mampu memberikan kemampuan terbaiknya.
“Sudah pasti tidak terlalu menargetkan, mengingat Maison juga baru belajar dan ini pengalaman pertama bagi Maison. Target saya hanya Maison bisa menampilkan yang terbaik dan maksimal,” tuturnya.
Bagi Winda, medali hanyalah bonus dari keberanian Maison melewati pengalaman pertamanya sebagai seorang atlet.
“Medali itu hanya bonus,” tegasnya.
Perjalanan Maison menuju kompetisi tersebut juga tidak mudah. Sepulang sekolah, ia harus membagi waktunya dengan latihan wushu sebanyak tiga kali dalam seminggu.
Winda mempercayakan proses latihan Maison kepada Laoshi Wandi. Menurutnya, latihan yang cukup keras bukan hanya membantu kemampuan Maison dalam wushu, tetapi juga membentuk kedisiplinannya.
“Perjuangan yang pastinya berat untuk Maison. Dia pulang sekolah latihan wushu tiga kali seminggu, dengan pelatihan yang cukup keras, dan kami percayakan kepada Laoshi Wandi yang menurut kami mampu membuat anak-anak jadi lebih disiplin dan lebih baik,” ujarnya.
Kini, medali perak tersebut menjadi sebuah kenangan manis sekaligus awal perjalanan baru bagi Maison.
Winda berharap pengalaman pertama ini bisa membuat putranya semakin percaya diri untuk terus mengembangkan kemampuan di dunia wushu.
“Harapan selanjutnya Maison bisa lebih percaya diri mengembangkan kemampuan wushunya, karena saya yakin Maison bisa,” pungkas Winda.
Penulis: Rushel Ambarita ( Balinews Jakarta)


