DENPASAR, BALINEWS — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali memasuki hari ketiga pada Rabu (14/10/2026). Di tengah antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), penjualan BBM eceran bermunculan di marketplace dan grup jual-beli media sosial dengan harga mencapai Rp500.000 per jeriken.
Pantauan terhadap sejumlah iklan daring menunjukkan harga Pertalite dan Pertamax bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah, bergantung pada jenis bahan bakar dan ukuran kemasan. Penjualan tersebut muncul ketika warga masih harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan BBM di SPBU.
Salah satu iklan di Facebook Marketplace menawarkan Pertalite dalam botol air mineral dengan harga Rp50.000. Iklan yang menampilkan sejumlah botol berisi cairan berwarna hijau itu disebut baru diunggah beberapa jam sebelum dipantau.
Iklan lainnya menawarkan campuran Pertamax dan Pertalite seharga Rp80.000. Sementara itu, sebuah penawaran Pertalite dalam jeriken dipatok hingga Rp500.000. Namun, harga yang tercantum dalam iklan tersebut belum dengan sendirinya membuktikan bahwa transaksi telah terjadi.
Penjualan serupa juga ditemukan di sejumlah grup Facebook. Dalam grup “Jual Beli Barang Bekas Anak Kost Kosan Bali”, seorang anggota menawarkan Pertamax sebanyak tiga liter seharga Rp200.000. Penjual menyebut lokasi barang berada di kawasan Tukad Batanghari, Panjer.
Sementara itu, di grup Canggu Community Bali, seorang anggota menawarkan Pertamax dalam botol berukuran 1,5 liter seharga Rp100.000. Dalam keterangannya, penjual mengaku bahan bakar tersebut berasal dari tangki beberapa sepeda motor miliknya dan menawarkan pengantaran gratis untuk wilayah Canggu.
Di kawasan Badung, penawaran BBM dalam kemasan kecil juga ditemukan dengan harga berkisar Rp75.000 hingga Rp100.000 per liter, berdasarkan sejumlah iklan yang diamati.
Sebagai perbandingan, harga resmi Pertalite di SPBU berada di kisaran Rp10.000 per liter. Dengan demikian, penawaran Rp100.000 untuk satu liter setara dengan sekitar 10 kali harga tersebut, sedangkan harga Rp500.000 untuk satu jeriken tidak dapat dibandingkan secara langsung tanpa mengetahui volume isinya.
Fenomena penjualan BBM eceran ini muncul ketika distribusi pasokan di Bali belum sepenuhnya pulih. Antrean kendaraan dilaporkan masih terjadi di sejumlah SPBU di Denpasar dan wilayah sekitarnya, sehingga warga harus menghabiskan waktu lebih lama untuk mendapatkan bahan bakar.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi sebagian orang untuk menjual kembali BBM yang mereka miliki kepada warga yang membutuhkan. Namun, belum ada data yang memastikan jumlah penjual, volume transaksi, maupun besarnya keuntungan yang diperoleh dari penjualan melalui marketplace.
Selain persoalan harga, penjualan BBM dalam botol bekas air mineral juga menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan penyimpanan dan pengangkutan bahan bakar. BBM merupakan bahan yang mudah terbakar sehingga membutuhkan wadah yang sesuai dan penanganan yang aman.
Selama antrean SPBU masih berlangsung dan distribusi BBM belum kembali normal, penawaran BBM melalui media sosial menjadi salah satu fenomena yang menyertai kelangkaan di Bali. Kepastian mengenai kewajaran harga, asal-usul bahan bakar, serta keamanan penjualannya memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak terkait.

