GIANYAR, BALINEWS — Perkembangan layanan keuangan yang kian beragam menuntut masyarakat untuk semakin cermat dalam mengelola dan mengamankan aset finansialnya. Maraknya iming-iming hasil berlipat ganda dalam waktu singkat kerap menjadi perangkap investasi bodong yang berisiko menggerus tabungan hasil kerja keras bertahun-tahun.
Merespons fenomena tersebut, Direktur Utama PT BPR Gianyar Partasedana, Ir. I Wayan Nasib, menekankan pentingnya peningkatan literasi dan kesadaran masyarakat dalam melindungi keuangan pribadi. Menurutnya, menjaga hasil kerja keras bukan hanya soal cara menyimpan atau mengembangkan uang, melainkan juga kemampuan membentengi diri dari berbagai modus penipuan keuangan.
“Jangan mudah percaya pada janji keuntungan besar dalam waktu singkat. Sebelum menyerahkan dana, masyarakat perlu memeriksa legalitas, memahami risikonya, serta memastikan investasi tersebut berasal dari lembaga yang resmi dan terpercaya,” ungkap I Wayan Nasib melalui pesan edukasi BPR Gianyar Partasedana.
Prinsip Utama Sebelum Berinvestasi
Pihak BPR Gianyar Partasedana mengingatkan bahwa pertumbuhan finansial yang sehat membutuhkan proses dan rasionalitas. Tawaran investasi yang memberikan imbal hasil tidak wajar dalam tempo cepat justru harus disikapi dengan tingkat kewaspadaan tinggi.
Untuk menghindari jebakan investasi bodong, masyarakat diimbau memegang empat prinsip dasar sebelum memutuskan menempatkan dana:
Kenali Lembaganya — Pastikan profil, rekam jejak, dan kredibilitas penyedia layanan keuangan jelas.
Pahami Produknya — Pelajari skema pengelolaan dana dan cara kerja instrumen investasi yang ditawarkan.
Cek Legalitasnya — Pastikan lembaga dan produk investasi telah terdaftar serta mengantongi izin resmi dari otoritas berwenang, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pahami Risikonya — Sadari bahwa setiap investasi memiliki tingkat risiko yang berbanding lurus dengan potensi keuntungan (high risk, high return).
Mendorong Literasi Keuangan Masyarakat
BPR Gianyar Partasedana berkomitmen untuk terus mendorong program edukasi keuangan secara berkelanjutan. Langkah ini diharapkan mampu membentuk masyarakat yang tidak hanya terampil menabung dan mengelola penghasilan, tetapi juga cermat serta kritis saat mengambil keputusan finansial.
"Di balik iming-iming hasil berlipat dan proses yang serba cepat, terdapat risiko investasi ilegal yang dapat menghentikan mimpi finansial seseorang. Literasi keuangan menjadi fondasi penting agar masyarakat Bali, khususnya di Gianyar, semakin cerdas, mandiri, dan terlindungi secara finansial," tutupnya.

