INTERMESO, BALINEWS.ID – Buku Broken Strings, karya artis Aurelie Moeremans sedang menjadi perbincangan hangat di jagat maya dan media sosial, bukan sekadar karena ia seorang selebritas, tetapi karena keberanian Aurelie membuka lembaran paling pahit dalam hidupnya.
Pengalaman menjadi korban child grooming saat masih remaja dikisahkan dalam buku tersebut. Dalam memoar digital yang dirilis tanpa penerbit besar dan diedarkan secara gratis dalam bentuk PDF, Aurelie berbicara apa adanya tentang masa lalunya yang penuh luka dan manipulasi emosional.
Memoar ini pertama kali ia bagikan lewat tautan di akun Instagram pribadinya, lengkap dalam dua versi bahasa: Indonesia dan Inggris, agar pesan dan pengalamannya bisa dijangkau oleh pembaca seluas-luasnya. Tidak seperti buku komersial biasa, Broken Strings ditulis, ditata, dan bahkan sampulnya dirancang sendiri oleh Aurelie sebagai karya mandiri.
Dalam buku yang dijelaskan mencapai sekitar 220 halaman ini, Aurelie mengurai recall masa remajanya ketika ia mulai terjun ke dunia hiburan Indonesia dan kemudian bertemu seorang pria dewasa yang ia samarkan sebagai “Bobby”. Hubungan yang awalnya tampak seperti perhatian dan kasih sayang itu berubah menjadi rangkaian kontrol psikologis, manipulasi, dan kekerasan yang baru ia sadari sebagai child grooming setelah dewasa.
Fenomena yang diangkat bukan sekadar kisah pribadi semata. Broken Strings cepat menjadi viral dan memicu diskusi publik tentang bahaya grooming terhadap anak dan remaja. Dari media kesehatan hingga portal berita, para pakar mengingatkan bahwa grooming sering dimulai dengan perhatian manis yang perlahan berubah menjadi kontrol penuh, bahkan sulit dikenali oleh korbannya sendiri pada awalnya.
Banyak pembaca yang mengapresiasi keberanian Aurelie membagikan kisahnya secara terbuka. Buku ini muncul sebagai pengingat kolektif akan bahaya grooming yang sering tersembunyi di balik gestur yang tampak “perhatian” atau “peduli”. Melalui cerita ini, kita diajarkan pentingnya mengenali tanda-tanda manipulasi emosional sejak dini, serta menjadi dorongan bagi para penyintas lain untuk berbicara dan mencari dukungan.
Dengan cara yang lugas namun penuh empati, Aurelie berhasil menjadikan kisah pribadinya bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi juga peringatan hidup bagi generasi muda dan pengingat bagi orang tua bahwa ancaman grooming bisa datang dari siapa saja. (*)

