DENPASAR, BALINEWS.ID – Setelah melalui proses riset selama sekitar dua tahun, buku “Bali Slam – Entitas Yang Terlupakan” karya Ilham Efendi yang berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa Bali resmi dirilis. Peluncuran digelar di Denpasar, Sabtu (31/1/26), itu momentum untuk membuka kembali narasi sejarah tentang keberadaan komunitas Bali Islam.
Buku ini lahir dari penelusuran panjang terhadap jejak-jejak Islam di Bali yang selama ini jarang terekspos. Ilham Efendi bersama timnya mendatangi sejumlah kampung Islam bersejarah, mengumpulkan data, serta menelusuri artefak dan manuskrip yang berkaitan dengan keberadaan umat Islam di Pulau Dewata.
“Alhamdulillah, buku ini diharapkan bisa memberikan literasi bagi semua mengenai Bali Slam,” ujar Ilham Efendi.
Ilham menjelaskan, Bali Slam merupakan identitas atau sebutan bagi masyarakat Bali Islam yang keberadaannya kerap terlupakan dalam narasi besar sejarah Bali. Menurutnya, komunitas ini bukanlah pendatang, melainkan bagian dari masyarakat Bali yang memiliki ikatan persaudaraan dengan Hindu Bali.
Penelusuran dalam buku ini mencakup berbagai wilayah, mulai dari Kampung Islam Gelgel di Klungkung, Kampung Kecicang Islam dan Kampung Islam Buitan di Karangasem, Kampung Kepaon di Badung (kini Denpasar), Kampung Bugis Suwung Batan Kendal, Kampung Bugis Serangan, Tanjung Benoa, Tuban (Kuta), Loloan di Jembrana, hingga wilayah Buleleng dan Pegayaman.
Buku ini memuat bukti sejarah, manuskrip, serta tradisi yang menunjukkan bahwa umat Islam telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Bali sejak ratusan tahun lalu.
“Saya ingin buku ini bisa bermanfaat, agar generasi penerus tidak lupa dengan Bali Slam. Sehingga mereka bisa menjaga warisan sejarah, budaya dan peradaban yang menjadi bagian dari Bali,” imbuhnya.
Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof I Putu Gede Suwitha memberikan apresiasi atas peluncuran buku ini. Ia menilai karya tersebut sebagai hasil penelitian yang komprehensif dan memperkaya khazanah sejarah Bali.
“Buku ini kaya dengan bahan-bahan sejarah. Bali Slam juga merupakan saudara kedua Hindu Bali,” kata Gede Suwitha di acara grand launching buku Bali Slam di Wistara Denpasar.
Konsep “saudara kedua” sendiri merujuk pada prinsip nyama braya, nilai luhur budaya Bali yang menekankan persaudaraan dan pengakuan sosial di tengah perbedaan keyakinan.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Divisi Pengembangan Program Pendidikan, Riset, dan Budaya Dompet Dhuafa, Haryo Mojopahit. Ia menilai buku tersebut penting untuk memahami posisi umat Islam dalam sejarah Bali.
“Buku ini menguak peran dan kontribusi nyame slam yang bahu membahu dengan nyame hindunya. Semoga buku ini memberikan manfaat bagi semua pembacanya,” ujar Haryo.
Melalui peluncuran buku ini, diharapkan pemahaman masyarakat terhadap sejarah Bali semakin utuh, sekaligus memperkuat nilai persaudaraan lintas keyakinan yang telah lama hidup di Pulau Dewata. (*)

