Kenapa Hari Valentine Selalu Identik dengan Pink dan Merah?

Ilustrasi Valentine (sumber foto: Pexels/Alleksana)

INTERMESO, BALINEWS.ID – Setiap pertengahan Februari, etalase toko, linimasa media sosial, hingga dekorasi kafe berubah jadi lautan merah dan pink. Dua warna ini seolah tak terpisahkan dari Hari Valentine.

Semua dekorasi, kartu ucapan, cokelat, hingga balon pasti punya salah satu atau keduanya. Tapi mengapa dua warna ini begitu lekat dengan perayaan kasih sayang? Berikut informasi yang telah dirangkum Balinews ID dari berbagai sumber.

Perayaan Valentine’s Day sendiri berakar dari penghormatan kepada Santo Valentinus (Saint Valentine), seorang tokoh zaman Romawi yang namanya kemudian dipakai sebagai simbol cinta dan kasih sayang. Namun, hubungan Hari Valentine dengan cinta romantis baru muncul sekitar abad ke-14 ketika karya sastra seperti puisi Geoffrey Chaucer menggambarkan Valentine’s Day sebagai hari pasangan.

BACA JUGA :  Polri Ungkap Sindikat Pembobolan Rekening Dormant di Bank BUMN Senilai Rp204 Miliar, Pelakunya Ternyata Orang Dalam

Sebelum jadi warna wajib Valentine, merah sudah lama diasosiasikan dengan cinta, gairah, dan emosi yang mendalam. Secara budaya, merah selalu identik dengan darah dan jantung—lambang “pusat emosi manusia” hingga dipakai untuk menggambarkan rasa cinta yang kuat.

Selain itu, dalam praktik bahasa bunga yang populer di era Victoria, mawar merah menjadi simbol klasik dari pernyataan cinta paling tulus.

Sementara merah menggambarkan cinta yang “membara,” pink muncul sebagai versi yang lebih lembut dan romantis. Warna ini sering dikaitkan dengan kelembutan, kesenangan, dan kasih sayang.

BACA JUGA :  Bendesa Adat Serangan Tolak Pertemuan Nelayan, Ketua MDA Bali Duduk Satu Meja dengan Tantowi Yahya

Pink sendiri merupakan perpaduan dari merah dengan putih (yang sering melambangkan kesucian), sehingga secara simbolik menciptakan pesan cinta yang manis, hangat, dan murni.

Tak bisa dimungkiri, komersialisasi Valentine juga berperan besar. Sejak abad ke-20, perusahaan cokelat, perhiasan, dan kartu ucapan memproduksi kemasan bertema merah dan pink secara masif. Visual ini kemudian tertanam kuat dalam budaya populer seperti film romantis, iklan, hingga media sosial. Akhirnya, merah dan pink bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga hasil konstruksi budaya yang terus diulang setiap tahun. (*)

BACA JUGA :  Isu “Kamar Kos Elit” di Bali, Benarkah Jadi Tempat Aman Simpanan Uang Pejabat?

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

Breaking News

Baca Lainnya