Slot Header 970×90

Data Badan Statistik: Kemiskinan Bali Turun Jadi 3,44 Persen

Namun Ketimpangan dan Keparahan di Perdesaan Meningkat

Oleh Indra · null

30 September 2026 pukul 17.31 WITA · 2 menit baca

Ilustrasi angka kemiskinan di Provinsi Bali menunjukkan tren positif dengan kembali mengalami penurunan.
Ilustrasi angka kemiskinan di Provinsi Bali menunjukkan tren positif dengan kembali mengalami penurunan. — Google Gemini AI

DENPASAR, BALINEWS – Angka kemiskinan di Provinsi Bali menunjukkan tren positif dengan kembali mengalami penurunan. Namun, di balik penurunan secara umum tersebut, data statistik mencatat persoalan krusial di wilayah perdesaan yang mengalami peningkatan ketimpangan dan keparahan kemiskinan.

Berdasarkan laporan Statistik Daerah Provinsi Bali 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, persentase penduduk miskin Bali pada 2026 tercatat sebesar 3,44 persen. Angka ini turun 0,18 persen poin dibandingkan tahun 2025 yang berada di level 3,72 persen. Secara kuantitatif, jumlah penduduk miskin berkurang 11,23 ribu orang, dari 173,24 ribu orang pada 2025 menjadi 162,01 ribu orang pada 2026.

Meski persentase dan jumlahnya menurun, data tersebut menandakan masih ada sekitar 162 ribu warga Bali yang hidup dengan pengeluaran di bawah Garis Kemiskinan. Adapun Garis Kemiskinan pada 2026 ditetapkan sebesar Rp700,09 ribu per kapita per bulan untuk wilayah perkotaan dan Rp605,44 ribu per kapita per bulan untuk wilayah perdesaan.

Disparitas Perkotaan dan Perdesaan

Peta kemiskinan di Bali menunjukkan kontras signifikan saat dipilah berdasarkan wilayah perkotaan dan perdesaan:

  • Wilayah Perkotaan: Jumlah penduduk miskin mencapai 107,26 ribu orang dengan persentase 3,06 persen.

  • Wilayah Perdesaan: Jumlah penduduk miskin sebesar 54,75 ribu orang dengan persentase mencapai 4,54 persen.

Meski populasi warga miskin di perkotaan lebih dominan secara jumlah, kualitas kemiskinan di perdesaan justru memburuk. BPS mencatat perubahan dua indikator utama kemiskinan:

  • Indeks Kedalaman Kemiskinan ($P_1$):

    • Perkotaan: Membaik dari 0,56 menjadi 0,49.

    • Perdesaan: Memburuk dari 0,55 naik menjadi 0,77. (Pengeluaran warga miskin di desa semakin jauh dari garis kemiskinan).

  • Indeks Keparahan Kemiskinan ($P_2$):

    • Perkotaan: Turun dari 0,13 menjadi 0,12.

    • Perdesaan: Melonjak tajam dari 0,09 naik menjadi 0,19. (Ketimpangan pengeluaran di antara sesama penduduk miskin desa semakin membesar).

Tekanan Sektor Pertanian

Kondisi memperhatinkan di perdesaan ini terjadi di tengah posisi sektor pertanian sebagai pilar ekonomi Bali. Sektor pertanian tercatat sebagai penyumbang PDRB terbesar kedua bagi Bali. Namun, jumlah tenaga kerja di sektor pertanian pada 2025 tercatat sebanyak 464,17 ribu orang, mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya.

Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menyampaikan bahwa indikator makro Bali secara umum mengarah pada tren positif.

”Perkembangan indikator makro Provinsi Bali menunjukkan tren yang kian positif. Pemulihan pertumbuhan ekonomi, perbaikan kondisi ketenagakerjaan, serta penurunan tingkat kemiskinan menegaskan arah penguatan ekonomi daerah, meskipun masih dihadapkan pada ketidakpastian dinamika global,” ungkapnya.

Data statistik ini menegaskan dua kondisi nyata di Bali. Penurunan angka kemiskinan total belum sepenuhnya dirasakan merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Di perkotaan, tantangan utama berpusat pada volume jumlah penduduk miskin yang besar. Sebaliknya di perdesaan, meskipun populasi miskinnya lebih sedikit, tingkat keparahan dan jarak pengeluaran warga dari garis kemiskinan justru semakin tertekan.

Indra

Indra

Wartawan Madya

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.