BALINEWS - Enam tahun telah berlalu sejak Guruh Soekarnoputra menghadirkan Puspa Ragam Karya Guruh Sukarno Putra 2020. Hari ini, album tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam: setelah sang maestro berpulang pada Sabtu, 26 September 2026, Puspa Ragam menjadi album terakhir yang dirilis semasa hidupnya.
Kepergian putra Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno ini bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan orang-orang terdekat. Dunia seni Indonesia turut kehilangan sosok yang sepanjang hidupnya konsisten menghadirkan karya dan gagasan dalam musik, tari, serta kebudayaan.
Sepuluh Lagu, Lintas Generasi Musisi
Dirilis melalui Musica Studios, Puspa Ragam menghadirkan kembali sejumlah karya Guruh dengan aransemen dan penyanyi dari generasi berbeda. Sebanyak 10 lagu terangkum di dalamnya: Kala Cinta Menggoda, Aji Mumpung, Sendiri, Candu Asmara, Kala Sang Surya Tenggelam, Zamrud Khatulistiwa, Setia, Cinta Indonesia, Lenggang Puspita, dan Keranjingan Disko.
Sejumlah musisi ikut memberi warna baru pada karya-karya tersebut, di antaranya NOAH, Iwan Fals, D'MASIV, Kahitna, Afgan, Giring Ganesha, Geisha, Sheryl Sheinafia, dan Vidi Aldiano.
Saat album ini dirilis pada 2020, Guruh berharap karya-karyanya dapat terus hidup dan menginspirasi generasi muda. Enam tahun kemudian, harapan itu terasa seperti warisan yang benar-benar terwujud — karya Guruh mendapat kesempatan berbicara kepada generasi yang bahkan tidak mengalami langsung perjalanan panjang sang pencipta.
Bukan Sekadar Nostalgia
Yang membuat Puspa Ragam istimewa bukan sekadar kumpulan lagu lama yang dinyanyikan ulang, melainkan bagaimana karya Guruh mampu menyeberangi zaman lewat interpretasi baru dari musisi lintas generasi. Dengan begitu, lagu-lagunya tidak berhenti sebagai nostalgia, tapi terus bergerak dan menemukan pendengar baru.
Kini, tidak ada lagi Guruh yang bisa ditemui untuk menceritakan proses kreatif di balik karya-karyanya, atau menyaksikan langsung bagaimana generasi berikutnya menyanyikan lagu-lagunya. Yang tersisa, dan akan terus berbicara, adalah karyanya sendiri.
Sepanjang kariernya, Guruh dikenal bukan hanya sebagai musisi, tetapi seniman dengan perhatian besar terhadap identitas dan kebudayaan Indonesia. Puspa Ragam menjadi salah satu ruang tempat warisan itu terus hidup — pengingat bahwa seorang seniman bisa meninggalkan dunia, tetapi tidak pernah benar-benar meninggalkan karya yang telah ia tanamkan.
Penulis : Rushel Ambarita ( Balinews Jakarta)


