BALINEWS - Kepergian Guruh Soekarnoputra tidak hanya meninggalkan duka bagi dunia musik dan seni Indonesia, tetapi juga menyisakan jejak panjang kecintaannya terhadap Bali — pulau yang menjadi bagian dari akar keluarganya sekaligus ikut membentuk perjalanan kreatifnya sebagai seniman.
Kedekatan itu berakar jauh ke belakang. Ibunda Bung Karno, Nyoman Rai Srimben, berasal dari Bali. Lingkungan keluarga kemudian memperkenalkan anak-anak Bung Karno pada berbagai kesenian Nusantara, dan Guruh sejak kecil telah mempelajari sejumlah kesenian daerah, termasuk tari Bali.
Belajar Gamelan Bali hingga ke Amsterdam
Kecintaan Guruh terhadap kesenian Bali tidak berhenti meski ia berada jauh dari Indonesia. Saat menempuh pendidikan di Amsterdam, ia mempelajari gamelan Bali di Tropenmuseum, bahkan sempat mengajarkannya kepada orang lain selama berada di Belanda.
Sepulang ke Indonesia pada 1975, pengalaman tersebut menemukan bentuk baru dalam eksperimen musiknya. Guruh mempertemukan gamelan Bali dengan musik modern Barat — eksperimen yang kemudian melahirkan Guruh Gipsy, proyek musik yang menjadi salah satu bagian penting perjalanan kreatifnya. Arsip Nasional Republik Indonesia turut mencatat dokumentasi perjalanan Guruh bersama proyek musik tersebut.

Guruh Soekarno Putra
Menciptakan Karya Tari Berakar dari Bali
Hubungan Guruh dengan Bali semakin dalam lewat dunia tari. Ia tidak hanya mempelajari tradisi yang sudah ada, tetapi juga menciptakan karya baru dengan mengambil inspirasi dari khazanah kesenian Bali.
Di antaranya Legong Untung Suropati, yang diciptakan Guruh pada 1982, dan Legong Sri Sedana, yang mengambil inspirasi dari kisah Dewi Sri dan Sedana. Karya-karya ini memperlihatkan bagaimana Guruh memperlakukan tradisi bukan sebagai peninggalan yang harus disimpan diam, melainkan sesuatu yang bisa terus dikembangkan lewat kreativitas.
Kedekatan dengan Seniman Peliatan
Kedekatan Guruh dengan Bali juga terlihat dari relasinya dengan para seniman di Peliatan, Gianyar. Ia pernah bercerita mengenai kelompok pencinta seni di sana yang memiliki hubungan dengan para seniman yang dulu menjadi teman Bung Karno — kelompok yang turut memberikan perhatian terhadap pelestarian kesenian klasik, termasuk pelegongan.
Peliatan sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan seni pertunjukan Bali, dan bagi Guruh, hubungan dengan para pelaku seni di sana menjadi bagian dari upayanya menjaga agar kesenian tradisi tetap hidup.
Kini, dengan kepergian Guruh, jejak-jejak itu, gamelan yang dipelajarinya hingga ke Amsterdam, eksperimen musik lewat Guruh Gipsy, serta karya-karya tari yang lahir dari pergulatannya dengan tradisi, tetap menjadi bagian dari warisan kebudayaan yang ia tinggalkan bagi Bali dan Indonesia.
Penulis: Rushel Ambarita (Balinews Jakarta)


