DENPASAR, BALINEWS.ID – Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali terus mematangkan persiapan penyelenggaraan Bali Tourism Run 2026 melalui audiensi bersama I Wayan Koster di Jaya Sabha, Denpasar, Senin (6/4).
Pertemuan ini menjadi bagian dari langkah strategis dalam menyambut momentum 100 tahun pariwisata Bali, sekaligus memperkenalkan konsep wisata berbasis pengalaman yang lebih dekat dengan alam dan budaya.
Ketua ASITA Bali, Putu Winastra, menjelaskan bahwa tren wisata saat ini menunjukkan pergeseran minat wisatawan. Bali tidak lagi hanya menjadi destinasi untuk bersantai, tetapi juga ruang untuk aktivitas yang lebih dinamis seperti olahraga, khususnya lari.
“Belakangan ini, wisatawan datang ke Bali bukan hanya untuk beristirahat, tetapi juga ingin bergerak dan merasakan langsung lanskap yang selama ini hanya dilihat sepintas,” ujarnya.
Konsep wisata lari atau running tourism dinilai menjadi pendekatan baru dalam menikmati destinasi. Melalui aktivitas ini, wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar, mulai dari desa, persawahan, hingga jalur alami yang menjadi ciri khas Bali.
Sebagai langkah awal, kawasan Jatiluwih Rice Terraces dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan perdana Bali Tourism Run. Area yang dikenal dengan keindahan sawah berundaknya tersebut dinilai merepresentasikan harmoni antara manusia, alam, dan tradisi Bali.
Mengusung tema “Begin The Journey from Jatiluwih”, event ini tidak hanya berfokus pada garis start dan finish, tetapi juga pada pengalaman sepanjang rute. Ke depan, kegiatan ini dirancang sebagai rangkaian event berkelanjutan yang akan berpindah ke berbagai destinasi di Bali dengan karakter dan cerita berbeda.
“Ini bukan sekadar satu event, tetapi perjalanan panjang yang akan terus berkembang dari tahun ke tahun,” tambah Winastra.
Bali Tourism Run 2026 akan menghadirkan kategori lomba 5K dan 10K yang terbuka bagi berbagai kalangan, baik pelari profesional maupun masyarakat umum. Konsep inklusif ini diharapkan mampu menarik partisipasi luas sekaligus menciptakan pengalaman wisata yang lebih personal.
Selain aspek olahraga dan pariwisata, event ini juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal. Kehadiran ribuan peserta diperkirakan akan menggerakkan sektor UMKM, penginapan, hingga usaha kuliner di sekitar lokasi kegiatan.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Bali, I Wayan Koster, menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan Bali Tourism Run. Menurutnya, konsep yang diusung sejalan dengan arah pembangunan pariwisata Bali yang menekankan keseimbangan antara kunjungan wisatawan dan pelestarian nilai budaya.
“Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan Bali. Tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga memberi ruang bagi mereka untuk memahami Bali secara lebih utuh,” ungkapnya.
Koster menilai, pendekatan wisata melalui aktivitas lari memungkinkan wisatawan untuk terhubung lebih dalam dengan destinasi yang dikunjungi. Interaksi yang terjadi selama perjalanan dinilai mampu menciptakan pengalaman yang lebih autentik.
Ia juga menyoroti pentingnya pemilihan Jatiluwih sebagai lokasi awal yang memiliki nilai simbolis kuat dalam merepresentasikan identitas Bali berbasis budaya dan alam.
“Jatiluwih bukan hanya indah, tetapi juga memiliki nilai yang harus dijaga. Kegiatan seperti ini harus tetap memperhatikan lingkungan, budaya, dan kenyamanan masyarakat,” tegasnya.
Di akhir audiensi, Koster berharap Bali Tourism Run dapat berkembang menjadi agenda tahunan berkelanjutan yang memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata Bali.
Dengan konsep yang menggabungkan olahraga, budaya, dan ekonomi lokal, Bali Tourism Run 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang lari, tetapi juga pengalaman menyeluruh yang memperkuat citra Bali sebagai destinasi wisata berkelas dunia berbasis kearifan lokal.