BALINEWS - Kabar duka datang pada Sabtu pagi ketika Guruh Soekarnoputra mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta.
Guruh meninggal pada pukul 04.16 WIB dalam usia 73 tahun. Sebelum wafat, putra Presiden pertama RI Soekarno tersebut sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Kabar mengenai kondisinya yang kritis sebelumnya disampaikan jajaran PDIP pada Jumat (25/9/2026).
Kepergian Guruh tidak hanya menjadi kabar duka bagi keluarga. Di lingkungan PDI Perjuangan, kabar tersebut langsung diikuti instruksi khusus sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu tokoh partai tersebut.
Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan keluarga besar partai kehilangan sosok Guruh yang selama ini dikenal sebagai seniman sekaligus tokoh yang memiliki perjalanan panjang di dunia politik.
“Keluarga besar PDI Perjuangan sungguh kehilangan Mas Guruh Soekarnoputra. Beliau dikenang sebagai seniman besar, sosok Marhaenis, dan Pejuang Partai.”
Hasto kemudian meminta seluruh jajaran PDIP, mulai dari DPP, DPD, DPC, PAC, ranting hingga anak ranting, mengibarkan bendera partai setengah tiang selama tujuh hari sebagai bentuk penghormatan.
“Berkaitan dengan hal tersebut, kepada seluruh jajaran DPP, DPD, DPC, PAC, ranting, hingga anak ranting agar mengibarkan Bendera PDI Perjuangan setengah tiang selama 7 hari.”

Bukan Hanya Soal Politik
Nama Guruh selama puluhan tahun memang tidak bisa dilepaskan dari dunia politik. Namun sebelum dikenal sebagai tokoh partai, ia lebih dulu memiliki jejak panjang sebagai seniman dan budayawan.
Karena itu, kabar kepergiannya datang dari dua dunia sekaligus.
Dunia politik kehilangan salah satu tokohnya. Dunia seni kehilangan sosok yang selama hidupnya banyak bersentuhan dengan musik, tari dan kebudayaan Indonesia.
Hasto sendiri menyebut Guruh sebagai seniman besar, Marhaenis, dan pejuang partai. Penyebutan tersebut menunjukkan bagaimana PDIP menempatkan perjalanan Guruh bukan hanya dalam konteks keluarga Soekarno, tetapi juga dalam sejarah perjalanan partai.
Guruh merupakan adik kandung Megawati Soekarnoputri. Ia juga pernah menjadi anggota DPR RI dari Fraksi PDIP pada periode 1999-2004 hingga 2019-2024.
Sempat Mengalami Gangguan Kesehatan
Sebelum kabar duka datang, kondisi kesehatan Guruh memang sempat menjadi perhatian.
Pada Jumat (25/9/2026), sejumlah kader PDIP telah meminta masyarakat mendoakan kesembuhannya setelah Guruh dikabarkan dalam kondisi kritis.
Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira sebelumnya menyebut Guruh telah sakit dan menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, jenis penyakit yang dideritanya tidak disampaikan kepada publik.
Guruh kemudian menjalani perawatan di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi hingga akhirnya meninggal dunia pada Sabtu dini hari.
Setelah kabar kepergiannya diumumkan, keluarga besar PDIP menyampaikan duka sekaligus meminta masyarakat memberikan doa bagi Guruh.
Kini, rumah duka di Jalan Sriwijaya Raya Nomor 26, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi tempat keluarga dan kerabat berkumpul memberikan penghormatan terakhir.
Sementara itu, PDIP sudah menetapkan bentuk penghormatannya sendiri: bendera partai dikibarkan setengah tiang selama tujuh hari.
Bagi sebuah partai politik, tujuh hari itu menjadi tanda bahwa kepergian Guruh bukan sekadar kehilangan seorang kader, tetapi juga berakhirnya perjalanan salah satu tokoh yang selama puluhan tahun berada di persimpangan antara seni, budaya, keluarga Soekarno dan politik Indonesia.


