Slot Header 970×90

Hadapi Risiko Global, Pemerintah Pacu Investasi, Industri, dan Produktivitas

Oleh Fery Fadli · null

2 Oktober 2026 pukul 17.04 WITA · 3 menit baca

Hadapi Risiko Global, Pemerintah Pacu Investasi, Industri, dan Produktivitas

JAKARTA, BALINEWS — Pemerintah menyiapkan strategi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan di tengah pemulihan ekonomi global yang masih menghadapi berbagai risiko.

Berdasarkan proyeksi OECD, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan mencapai 2,8 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 3,1 persen pada 2027. Namun, pemulihan tersebut masih menghadapi risiko geopolitik, perang dagang, gangguan logistik, serta gejolak sektor keuangan.

Kondisi global tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga energi dan komoditas domestik, sekaligus meningkatkan volatilitas nilai tukar dan arus modal. Di sisi lain, membaiknya permintaan eksternal diperkirakan dapat membuka ruang bagi peningkatan ekspor Indonesia.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan Indonesia perlu memperkuat investasi, konektivitas, dan logistik untuk meredam dampak tekanan eksternal.

“Di tahun 2027 relatif lebih optimis, baik itu terkait perhitungan pertumbuhan global maupun kita di Indonesia. Untuk itu, perlu memperkuat investasi, konektivitas, dan logistik untuk meredam dampak tekanan global,” kata Susiwijono dalam Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXX TA 2026 Lemhannas RI di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Di tengah ketidakpastian global, perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan 5,45 persen secara kumulatif pada semester I 2026. Angka tersebut disebut termasuk yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20.

Stabilitas makroekonomi juga masih terjaga. Inflasi pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan, masih berada dalam sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen.

Sementara itu, realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Indeks Keyakinan Konsumen pada Agustus 2026 juga berada di level 118,5, yang menunjukkan optimisme konsumen masih tinggi.

Tiga Mesin Pertumbuhan

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengoordinasikan sejumlah sektor prioritas dan inisiatif strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi periode 2025–2029.

Strategi tersebut dibangun melalui tiga mesin pertumbuhan. Mesin pertama adalah revitalisasi mesin ekonomi konvensional, mesin kedua pembangunan mesin ekonomi baru, sedangkan mesin ketiga diarahkan pada peningkatan produktivitas dan daya saing sumber daya manusia.

Pada sektor manufaktur, pemerintah mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional, industri semikonduktor, serta revitalisasi industri padat karya.

Di sektor ekonomi digital, pemerintah mendorong pengembangan infrastruktur digital, termasuk rencana pembangunan pusat data di salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Sementara pada sektor energi, kebijakan diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan penggunaan energi bersih.

Pemerintah juga mendorong peningkatan produktivitas melalui penguatan kualitas sumber daya manusia. Program vokasi dan magang nasional menjadi bagian dari upaya tersebut, disertai perluasan akses pembiayaan bagi sektor produktif dan berorientasi ekspor.

Menurut Susiwijono, sejumlah faktor pendukung juga perlu diperkuat agar ketiga mesin pertumbuhan tersebut dapat berjalan.

“Enabler-nya yang harus dilakukan adalah menjaga stabilitas makro ekonomi, daya beli masyarakat, efisiensi dan iklim investasi yang mendukung, memperkuat sektor finansial, serta memperkuat jaring pengaman sosial,” ujarnya.

Indonesia Perkuat Peran di Bidang AI

Selain sektor manufaktur, energi dan ekonomi digital, pemerintah juga menaruh perhatian pada perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Indonesia resmi menjadi anggota pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) pada 16 Juli 2026 bersama 28 negara pendiri lainnya.

Keanggotaan tersebut diarahkan untuk menjembatani kesenjangan AI (bridging the AI divide), melalui prinsip pemanfaatan AI untuk kepentingan publik, tata kelola AI global yang inklusif, serta kerja sama pengembangan kapasitas dan investasi AI untuk kepentingan sipil.

“Kita harus aktif di forum AI, karena kalau tidak kita ketinggalan. Apalagi secara esensi, AI saat ini perkembangannya luar biasa besar,” kata Susiwijono.

Pemerintah menilai perkembangan AI perlu diikuti dengan penguatan kapasitas nasional agar teknologi tersebut dapat mendukung produktivitas dan daya saing ekonomi.

Secara keseluruhan, strategi pemerintah diarahkan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat fondasi menghadapi perubahan ekonomi global.

Penguatan investasi, industri, konektivitas, logistik, kualitas sumber daya manusia, sektor finansial, energi, ekonomi digital, serta pemanfaatan teknologi AI menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk membangun pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inklusif, dan berkelanjutan.

Fery Fadli

Fery Fadli

null

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.