BALINEWS – Sutradara Imam Darto menghadirkan pengalaman produksi yang tidak biasa dalam film horor komedi Hungry Ghost Festival. Demi menghadirkan gambaran tradisi yang autentik, tim produksi membuat patung Tai Se Ja setinggi sekitar delapan meter yang kemudian dibakar secara nyata dalam proses syuting.
Imam Darto mengungkapkan, pembuatan patung tersebut menjadi salah satu tantangan tersendiri selama produksi. Ia menjelaskan bahwa patung Tai Se Ja merupakan representasi penjaga gerbang akhirat dalam tradisi Hungry Ghost Festival yang mereka pelajari melalui proses riset budaya.
“Anti-AI, itu benar-benar riil kita bikin delapan meter. Terus kita bakar beneran,” ujar Imam Darto saat menceritakan proses produksi film tersebut.
Ia mengakui, proses pembakaran patung menjadi pengalaman yang cukup menegangkan. Material bambu yang digunakan dalam konstruksi patung menimbulkan suara letupan ketika terbakar. Tim produksi pun sempat memastikan proses pembakaran berlangsung terkendali, mengingat lokasinya berada di dekat kelenteng dan sebuah sekolah.
Menurut Imam Darto, produksi film ini tidak hanya mengandalkan imajinasi, tetapi juga melalui riset panjang mengenai Hungry Ghost Festival. Ia bersama tim mempelajari penerapan tradisi tersebut di sejumlah daerah, seperti Bangka, Singkawang, dan Medan, hingga membandingkannya dengan praktik di Singapura, Hong Kong, dan Malaysia.
Perbedaan pelaksanaan tradisi di berbagai wilayah membuat tim harus mencari benang merah yang dapat diangkat ke dalam cerita. Imam Darto juga melibatkan konsultan budaya Tionghoa, Calvin, untuk membantu memastikan penggambaran tradisi dalam film tetap memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi Imam Darto, esensi Hungry Ghost Festival bukan sekadar perayaan, melainkan pengingat agar manusia tidak melupakan leluhur yang telah meninggal dunia. Dalam kepercayaan yang menjadi referensi film tersebut, periode tertentu dipercaya sebagai waktu ketika arwah kembali, sehingga keluarga yang masih hidup memberikan persembahan sebagai bentuk penghormatan dan ingatan kepada mereka.
“Jangankan sama yang masih hidup, yang sudah mati saja kita enggak boleh lupa. Apalagi sama leluhur kita, dan terlebih lagi sama orang-orang yang masih hidup,” jelasnya mengenai pesan utama yang ingin disampaikan melalui film tersebut.
Menariknya, Imam Darto mengaku justru jatuh cinta pada unsur drama yang menjadi bagian penting film ini. Meski Hungry Ghost Festival memadukan horor dan komedi, ia ingin menghadirkan cerita emosional yang dapat mengajak penonton melakukan refleksi tentang keluarga, hubungan antarmanusia, serta pentingnya menghargai orang-orang yang berarti dalam kehidupan.
Melalui perpaduan horor, komedi, drama, dan pengenalan budaya, Hungry Ghost Festival diharapkan tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga membuka ruang bagi penonton untuk mengenal tradisi yang mungkin belum mereka pahami. Proses pembakaran patung setinggi delapan meter menjadi salah satu wujud keseriusan tim produksi dalam menghadirkan elemen visual yang mendukung cerita film tersebut.

