BALINEWS – Film Hungry Ghost Festival tidak hanya menghadirkan perpaduan horor, komedi, dan drama, tetapi juga menjadi pengalaman bagi para pemainnya untuk mengenal tradisi serta belajar memahami budaya yang berbeda. Aci Resti, Endy Arfian, dan Fajar Nugra mengaku mendapatkan banyak pelajaran selama menjalani proses produksi film tersebut.
Dalam film garapan Imam Darto itu, Endy Arfian memerankan Raka, sosok perfeksionis, kaku, dan disiplin yang menghadapi persoalan keluarga hingga harus mencari jati dirinya. Perjalanan Raka ditemani dua sahabatnya, Tintin yang diperankan Aci Resti dan Bobby yang dimainkan Fajar Nugra. Ketiganya memiliki karakter berbeda yang menciptakan dinamika tersendiri sepanjang cerita.
Aci menggambarkan Tintin sebagai sosok yang berani, spontan, dan cenderung menjalani hidup tanpa terlalu banyak memikirkan aturan. Sementara itu, Bobby menjadi penengah di antara Tintin dan Raka. Perbedaan karakter tersebut menjadi salah satu sumber komedi sekaligus memberikan warna dalam perjalanan mereka.
Di luar cerita persahabatan tersebut, para pemain juga mempelajari tradisi Hungry Ghost Festival yang menjadi bagian penting film. Aci, Endy, dan Fajar bahkan mengunjungi sejumlah kelenteng di Bekasi dan Tangerang untuk menyaksikan langsung pelaksanaan ritual, mulai dari sembahyang hingga pembagian persembahan dan makanan kepada masyarakat.
Aci mengaku terkesan melihat tradisi berbagi yang terbuka bagi masyarakat di sekitar kelenteng. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan umat yang menjalankan tradisi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada warga lain untuk ikut menerima bantuan atau makanan.
“Aku juga melihat teman-teman Muslim yang ikut mengambil. Jadi, ternyata ini kayaknya memang harus terus dilestarikan. Jadinya toleransi,” ujar Aci.
Pengalaman itu membuat para pemain memahami bahwa mengenal suatu kebudayaan tidak cukup hanya melalui naskah atau kebutuhan akting. Mereka juga perlu melihat konteks dan makna tradisi tersebut secara langsung agar dapat membawakannya dengan lebih baik sekaligus menghormati masyarakat yang menjalankannya.
Endy Arfian menambahkan, pesan utama film ini bersifat universal. Menurutnya, manusia tidak seharusnya melupakan orang-orang yang telah meninggal dunia, terlebih lagi keluarga dan orang-orang terdekat yang masih hidup.
“Yang sudah meninggalkan kita saja tidak boleh kita lupakan, apalagi orang-orang yang masih hidup seperti keluarga kita dan orang-orang yang kita sayang,” kata Endy.
Sementara itu, Fajar Nugra menilai keterlibatannya dalam film ini menjadi kesempatan untuk memahami pentingnya menghargai budaya yang belum tentu dikenal oleh semua orang. Ia merasa proses produksi tersebut bukan sekadar pekerjaan akting, tetapi juga pengalaman belajar mengenai toleransi dan cara memandang perbedaan.
Selain pendalaman budaya, ketiganya juga menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara drama dan komedi. Endy mengaku kesulitan mempertahankan suasana serius ketika harus memainkan adegan emosional bersama Aci dan Fajar, yang kerap memancing tawa di lokasi syuting. Proses pembacaan naskah dan diskusi bersama sutradara serta konsultan komedi membantu mereka menentukan batas humor agar tetap sesuai konteks.
Melalui Hungry Ghost Festival, para pemain berharap penonton tidak hanya mendapatkan hiburan dari unsur horor dan komedinya, tetapi juga menangkap pesan mengenai keluarga, penghormatan kepada leluhur, serta pentingnya toleransi. Bagi mereka, memahami tradisi yang berbeda merupakan langkah untuk membangun penghargaan terhadap keberagaman yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.

