DENPASAR, BALINEWS – Tren adopsi Electric Vehicle (EV) di Bali menunjukkan kurva pertumbuhan yang signifikan. Hingga Oktober 2026, data menunjukkan ekosistem smart mobility di Pulau Dewata telah menampung 17.725 unit Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB), yang terdiri dari sekitar 5.000 unit kendaraan roda empat dan 12.000 unit kendaraan roda dua.
Laju penetrasi pasar ini tercatat mengalami akselerasi cepat dalam beberapa kuartal terakhir. Pada Maret 2026, populasi EV di Bali tercatat di angka 14.000 unit, lalu meningkat ke angka 15.000 unit pada Juli, sebelum akhirnya menembus rekor 17.725 unit di kuartal keempat tahun ini.
General Manager PLN UID Bali, Ajrun Karim, menyatakan bahwa lonjakan active user KBLBB ini secara otomatis meningkatkan kebutuhan daya serta titik pengisian daya (charging point). Saat ini, infrastruktur pendukung di Bali disokong oleh 304 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang terdistribusi di 115 titik strategis, baik yang dioperasikan oleh PLN maupun mitra swasta.
”Kalau kita lihat perkembangan mobil listrik sangat luar biasa. Saya datang di bulan Maret, kalau dilihat data ada 14.000. Saya datang di bulan Juli ada 15.000. Sekarang per data bulan Oktober sudah tercatat 17.725 motor dan mobil,” ungkap Ajrun saat meresmikan SPKLU Signature Krisna Nusantara Group di Denpasar, Selasa (6/10).
Menanggapi skalabilitas pasar yang terus membesar, PLN mendorong skema kemitraan terbuka (open collaboration) guna menggaet investor swasta dalam skema pembangunan jaringan pengisian daya. Melalui model bisnis ini, pihak swasta dapat mengeksplorasi lokasi-lokasi potensial berpola lalu lintas tinggi (high-density area), sementara PLN akan berfokus memperkuat jangkauan charging hub di wilayah edge coverage yang belum terjamah pasar.
”PLN memberikan kesempatan kepada semua pihak, khususnya swasta, untuk berinvestasi di SPKLU,” ujar Ajrun.
Pengembangan jaringan SPKLU yang makin terintegrasi ini diproyeksikan dapat mengikis range anxiety atau kekhawatiran jarak tempuh di kalangan pengguna EV. Kehadiran infrastruktur pendukung yang tersebar secara merata menjamin konektivitas pengisian daya tak hanya bergantung pada home charging, melainkan juga mendukung mobilitas lintas wilayah antarkabupaten.
”Sudah bukan menjadi isu nanti ngecasnya di mana, karena sudah sangat gampang,” tambah Ajrun.
Dari sisi regulasi lokal dan dukungan infrastruktur perkotaan, Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menjelaskan bahwa transformasi EV merupakan pilar penting dalam mewujudkan tata kota berkonsep green & low-emission zone. Pemerintah Kota Denpasar telah merilis landasan regulasi melalui Perwali Nomor 40 Tahun 2023 terkait percepatan KBLBB serta Perwali Nomor 39 Tahun 2025 untuk tata kelola zona rendah emisi di kawasan Sanur.
”Bali kita akan jadikan daerah pariwisata yang berkualitas. Berkualitas itu artinya tidak hanya dari destinasinya yang cantik, indah, bagus, tetapi juga dari sisi kawasan yang rendah emisi,” jelas Agus Arya.
Sementara itu, Founder PT Energi Anugerah Divina, Cyrillus Harinowo, menilai ekosistem EV di Bali memiliki prospek pasar yang sangat menjanjikan berkat tingkat mobilitas komuter dan wisatawan yang tinggi. Menurutnya, perluasan topologi jaringan SPKLU menjadi Kunci Utama agar penetrasi KBLBB tak hanya berpusat di area perkotaan (urban core), melainkan menjangkau rute-rute antarkota.
”Dengan semakin luasnya jaringan SPKLU, kami berharap pengguna kendaraan listrik semakin percaya diri untuk melakukan perjalanan baik di dalam kota maupun antarkota,” pungkas Cyrillus.

