INTERNASIONAL, BALINEWS.ID – Harga emas dunia tetap tinggi seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Dilansir dari Reuters, harga emas spot pada penutupan perdagangan Senin (2/3/26) waktu setempat naik 0,4 persen ke 5.297,31 dollar AS per ons, setara sekitar Rp 87.405.615 (kurs Rp 16.500).
Di awal sesi, harga sempat melonjak lebih dari dua persen sebelum terkoreksi karena aksi ambil untung. Sepanjang 2026, emas sudah menguat hampir 23 persen. Rekor tertinggi tercapai pada 29 Januari di level 5.594,82 dollar AS per ons atau sekitar Rp 92.314.530. Kontrak emas berjangka AS juga ditutup naik 1,2 persen ke 5.311,60 dollar AS per ons (sekitar Rp 87.641.400).
Penguatan ini dipicu ketegangan antara AS dan Israel melawan Iran. Presiden AS Donald Trump menyebut akan ada “gelombang besar” serangan lanjutan. Ketidakpastian ini mendorong investor memburu aset aman seperti emas.
Analis menilai tren kenaikan masih ditopang permintaan investasi fisik serta pembelian bank sentral, termasuk dari negara-negara BRICS yang mengurangi eksposur dolar. BNP Paribas memperkirakan permintaan emas fisik menjadi pendorong utama harga tahun ini. Sepanjang 2025, emas bahkan telah melonjak 64 persen. Pelaku pasar kini menanti data ekonomi AS yang berpotensi memengaruhi arah suku bunga dan harga emas selanjutnya. (*)
