DENPASAR, BALINEWS.ID – Gubernur Bali, Wayan Koster, menyatakan dukungannya terhadap komunitas pengemudi taksi online berbasis desa adat di kawasan Nusa Dua. Dukungan tersebut disampaikan saat menerima audiensi komunitas Taruna Nusa Dua Citraloka (TNDC) di Jayasabha, Denpasar, Minggu (8/3) pagi.
Dalam pertemuan itu, Koster menilai model pengelolaan transportasi yang melibatkan langsung krama desa adat sebagai langkah positif dalam memperkuat ekonomi kerakyatan, khususnya di kawasan destinasi wisata.
“Bagus sekali jika desa adat dan krama desa sendiri yang menjalankan layanan di wilayahnya. Saya tentu sangat mendukung,” ujar Koster.
Ia juga meminta Dinas Perhubungan (Dishub) Bali agar membantu memproses perizinan para driver yang belum melengkapi legalitas operasionalnya. Menurutnya, keberadaan komunitas driver lokal tidak hanya membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat, tetapi juga meningkatkan kualitas pelayanan bagi wisatawan.
Koster menilai banyak pengemudi di kawasan tersebut memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik, sehingga mampu memberikan pelayanan yang lebih profesional kepada wisatawan mancanegara.
Lebih lanjut, Koster mendorong agar pola pengelolaan transportasi berbasis desa adat seperti yang diterapkan di Nusa Dua dapat dikembangkan di destinasi wisata lainnya di Bali.
“Kalau bisa dipolakan juga di desa-desa lain yang menjadi tujuan wisata seperti Ubud dan Sanur. Ini bagus untuk pemerataan ekonomi,” katanya.
Selain itu, ia juga mengingatkan para driver agar tetap menjaga persatuan dan kerukunan sesama pengemudi serta menjunjung tinggi etika saat melayani wisatawan.
“Selalu jaga persatuan, rukun sesama saudara driver. Jangan bertengkar. Jaga sopan santun dan etika dalam menjalankan tugas,” tegasnya.
Ketua Taruna Nusa Dua Driver Online, I Made Arta, menjelaskan bahwa TNDC merupakan komunitas pengemudi berbasis krama adat di kawasan Nusa Dua yang saat ini menaungi sekitar 516 driver.
Menurutnya, komunitas tersebut telah beroperasi sejak 2019 dan dibangun melalui sinergi dengan pemerintah serta dilengkapi legalitas dan wadah koperasi.
“Komunitas ini berbasis krama adat di Nusa Dua. Yang bisa mengambil penumpang di kawasan tersebut adalah krama adat setempat. Kami juga tidak memiliki masalah dengan pengemudi konvensional,” ujarnya.
Arta menambahkan, para driver TNDC juga berkomitmen menjalankan arahan pemerintah daerah dengan tetap menghormati nilai-nilai budaya Bali, termasuk menerapkan prinsip Tri Hita Karana dalam aktivitas sehari-hari.
“Kami selalu menjaga etika, berpakaian rapi, bahkan pada hari-hari tertentu menggunakan pakaian adat Bali,” katanya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, desa adat, dan komunitas driver, Koster berharap sistem transportasi pariwisata di Bali dapat berjalan lebih tertib, berbudaya, serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal. (*)
