Menkeu Purbaya Tegas: Utang Whoosh Bukan Tanggung Jawab APBN

Menteri Keuangan Purbaya (sumber foto: IG/Kemenkeu)

NASIONAL, BALINEWS.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk membayar utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh.

Diketahui, proyek yang dijalankan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) ini kini menjadi sorotan karena total utangnya telah mencapai Rp 116 triliun.

Meski Danantara, sebagai superholding BUMN, tengah mencari jalan keluar untuk meringankan beban keuangan proyek ini, namun Purbaya menolak keras opsi penggunaan APBN untuk jalan keluarnya.

“Kalau sudah dibuat Danantara, kan mereka sudah punya manajemen sendiri, sudah punya dividen sendiri yang rata-rata setahun bisa Rp 80 triliun atau lebih, harusnya mereka manage dari situ. Jangan ke kita lagi,” kata Purbaya dilansir dari Youtube Kompas, Jumat (10/10).

BACA JUGA :  Bukan Libur Nasional, Pemerintah Tetapkan 18 Agustus 2025 Sebagai Cuti Bersama

Menurutnya, sejak dibentuknya Danantara, seluruh dividen dari BUMN tidak lagi menjadi bagian dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP), melainkan dikelola secara mandiri oleh superholding tersebut. Karena itu, ia menilai, Danantara harus bertanggung jawab penuh atas risiko dan pembiayaan proyek-proyek strategis seperti KCJB.

“Jangan ke kita lagi, karena kalau enggak ya semuanya ke kita lagi, termasuk dividennya. Jadi ini kan mau dipisahin swasta sama government. Jangan kalau enak swasta, kalau enggak enak government,” tegas Purbaya.

BACA JUGA :  Putu Artha Tegaskan Dukungan terhadap Kinerja Polda Bali Jaga Stabilitas Keamanan

Sementara itu, Danantara menyatakan tengah menyiapkan dua opsi jangka panjang untuk menyelesaikan masalah utang tersebut. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan untuk menambah penyertaan modal atau menyerahkan kepemilikan infrastruktur proyek kepada pemerintah.

Namun, hingga saat ini Kementerian Keuangan tetap berpegang pada sikapnya: tidak ada dana APBN yang akan digunakan untuk menalangi utang maupun pembengkakan biaya proyek KCJB.

Di sisi lain, tekanan utang KCIC juga mulai dirasakan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, yang merupakan salah satu pemegang saham dalam proyek tersebut.

BACA JUGA :  Kasus Hibah di Desa Takmung: Setelah 30 Saksi, Kabag Kesra Badung Turut Dimintai Keterangan

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyebut kondisi keuangan perusahaan terdampak cukup berat.

“Kami akan koordinasi dengan Danantara untuk masalah KCIC ini, terutama kami dalami juga. Ini bom waktu,” kata Bobby dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (20/8/25) lalu. (*)

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

0 Comments
Newest
Oldest
Inline Feedbacks
View all comments

Breaking News

Informasi Lowongan Pekerjaan Terbaru Hari Ini

Baca Lainnya

KLUNGKUNG, BALINEWS.ID – Pemerintah Kabupaten Klungkung menerima kunjungan kerja Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Bima Arya, ke...
GIANYAR, BALINEWS.ID – Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) cabang olahraga Rugbi tingkat sekolah dasar di Kabupaten Gianyar 2026 menjadi ajang...
DENPASAR, BALINEWS.ID – Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bali, I Made Daging, mengapresiasi langkah Ikatan...
DENPASAR, BALINEWS.ID – Rencana pembangunan proyek Floating Storage Regasification Unit (FSRU) atau Terminal Apung Liquefied Natural Gas (LNG)...