DENPASAR, BALINEWS.ID – Pemerintah Inggris menyatakan komitmennya membantu Pemerintah Provinsi Bali dalam mengatasi persoalan krusial, mulai dari kemacetan lalu lintas hingga pengelolaan sampah, melalui pemanfaatan teknologi dan pendampingan infrastruktur berkelanjutan.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia, HE Matthew Downing, saat melakukan audiensi dengan Gubernur Bali Wayan Koster di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Renon, Jumat (30/1).
Dalam pertemuan tersebut, Downing menegaskan kesiapan Inggris mendukung Bali melalui Future Cities Infrastructure Programme, sebuah program yang berfokus pada pengembangan sistem transportasi perkotaan modern dan berbasis teknologi.
Melalui kerja sama ini, Inggris akan mendampingi Dinas Perhubungan Provinsi Bali dalam penyempurnaan studi kelayakan proyek transportasi, termasuk pemanfaatan platform digital dan replika virtual Pulau Bali. Teknologi ini memungkinkan pemetaan bangunan, jalan, serta destinasi wisata secara detail untuk memantau pergerakan masyarakat dan wisatawan secara real time.
Tak hanya soal transportasi, Pemerintah Inggris juga menawarkan dukungan dalam pengelolaan sampah. Inggris memiliki pengalaman panjang dalam sistem daur ulang, pengolahan sampah terpadu, hingga edukasi perubahan perilaku masyarakat.
“Kami siap membantu melalui konsultan pengelolaan sampah, daur ulang, dan edukasi perubahan perilaku masyarakat,” ujar Matthew Downing.” tegas Downing.
Selain isu infrastruktur dan lingkungan, Inggris juga melihat Bali sebagai mitra strategis di sektor pariwisata dan pendidikan. Downing mengungkapkan, jumlah wisatawan asal Inggris yang berkunjung ke Bali terus meningkat signifikan, dari sekitar 270 ribu orang tahun lalu dan diproyeksikan mencapai 350 ribu wisatawan pada 2026.
Pemerintah Inggris pun terus mendorong warganya memilih Bali sebagai destinasi utama karena dinilai aman, stabil, dan memiliki kualitas pariwisata kelas dunia.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster menyambut positif komitmen Pemerintah Inggris. Ia menegaskan bahwa kemacetan dan pengelolaan sampah memang menjadi tantangan utama Bali saat ini, seiring melonjaknya kunjungan wisatawan.
“Kami sedang mempercepat pembangunan infrastruktur penghubung antarwilayah dan menyelesaikan persoalan sampah dari hulu hingga hilir, termasuk pembangunan fasilitas waste to energy berkapasitas lebih dari 1.000 ton per hari,” ujar Koster.
Ia menargetkan persoalan sampah di Bali dapat tertangani dalam dua tahun ke depan, sementara dampak signifikan terhadap kemacetan dan infrastruktur diharapkan mulai terlihat pada 2030.
“Target saya, dalam dua tahun ke depan persoalan sampah bisa kita selesaikan, dan pada 2030 akan terlihat perubahan signifikan dalam penanganan kemacetan dan infrastruktur,” jelasnya.
Gubernur Koster juga mengapresiasi wisatawan Eropa, termasuk Inggris, yang dinilainya relatif disiplin dan minim pelanggaran. Berdasarkan data Pemprov Bali, tidak terdapat pelanggaran menonjol yang dilakukan wisatawan asal Inggris.
Menutup audiensi, kedua pihak sepakat memperluas kerja sama di berbagai sektor, mulai dari infrastruktur, lingkungan, pendidikan, hingga pertukaran budaya, demi mendukung Bali sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan bertaraf internasional. (*)

