Slot Header 970×90

Perawat Kebudayaan: Perempuan Bali dan Desa Adat dalam Tatanan Kota

Oleh Matra Durga

1 Oktober 2026 pukul 23.52 WITA · 3 menit baca

ilustrasi perempuan bali merawat kebudayaan
ilustrasi perempuan bali merawat kebudayaan — I Komang Abhi Cakra Dharma

Di tengah kemacetan akut kawasan Legian, pandangan saya terhenti pada seorang perempuan tua yang sedang ngaturang canang. Di antara wisatawan yang menawar baju rajut, pertengkaran akibat alkohol, dan pejalan kaki yang menyalip mobil kami, kehadirannya terasa kontras.

Melihat postur tubuh dan cara berjalannya, saya memperkirakan usianya sekitar 70-an tahun. Sebagai warga asli setempat, atau akamsi kalau memakai istilah anak muda, setiap kerut di tubuhnya seolah merekam perjalanan desa adatnya hingga menjadi kawasan pariwisata. Ia mungkin telah melewati krisis moneter, Bom Bali, pandemi COVID-19, dan berbagai perubahan lain, sembari tetap menjalankan kehidupan sebagai perempuan Bali yang menjalankan adat di tengah desa yang kian urban.

Dari momen kecil tersebut, saya membiarkan pikiran saya larut berkelana, daydreaming.

Di Indonesia sendiri, desa adat kerap dibayangkan sebagai tempat terpencil, dihuni masyarakat yang gagap teknologi dan antiperubahan. Padahal, di tengah perkembangan pariwisata yang sering dibicarakan melalui konsep tourism curse, banyak desa adat justru tumbuh dalam lanskap perkotaan modern. Kedai kopi, bar, dan vila hadir berdampingan dengan ruang-ruang adat yang turut membentuk citra Bali.

Di ruang seperti inilah kita menjumpai perempuan-prempuan yang bekerja, tetapi tetap menyisihkan waktu untuk menyama braya, menjalankan kewajiban adat, sekaligus mengurus rumah dan keluarga. Begitu padat tanggung jawab yang berjalan bersamaan. Mereka kerap menjadi tokoh utama di balik layar yang memastikan kebudayaan Bali tetap hidup. Bukan sekadar menjalankan tradisi, mereka turut menjaga keberlanjutan kultur.

Mengapa hal ini perlu terus diwacanakan?

Sebab kebudayaan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia, khususnya di Bali. Istilah yang lebih menyenangkan untuk menyebutnya adalah kultur. Menurut Onesius Otenieli Daeli, Ph.D., dosen Ilmu Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, kultur berasal dari kata Latin colere, yang berarti mengolah atau membajak tanah. Dari akar kata tersebut, kultur dapat dipahami sebagai upaya manusia mengolah kehidupannya.

Dalam perspektif antropologis yang saya gunakan, manusia Bali merupakan makhluk kultural. Kultur terbentuk dari keseluruhan kehidupan masyarakat dan menjadi salah satu unsur yang membedakan satu masyarakat dari masyarakat lainnya. Ia mencakup material culture dan non-material culture. Material culture tampak pada arsitektur, pakaian adat, musik, hingga kerajinan tangan yang dibawa pulang sebagai buah tangan. Sementara non-material culture mencakup nilai, pengetahuan, praktik, dan filsafat Bali yang turut membentuk manusia Bali hari ini.

Namun, tantangan dalam merawat kultur, khususnya bagi perempuan Bali, kian kompleks ketika sistem kehidupan bergeser dari agraris menuju urban. Dari pengamatan saya terhadap kalender Wariga, dalam satu siklus enam bulan Bali yang terdiri atas 210 hari, terdapat sekitar 70 hari, atau sepertiga dari keseluruhan waktu, yang diisi dengan kegiatan keagamaan dan adat, baik yang bersifat rutin maupun insidental.

Untuk mempertahankan tatanan tersebut, desa memiliki awig-awig, seperangkat aturan yang mengatur kehidupan warganya. Persoalannya, aturan dan kewajiban adat tetap berjalan ketika lanskap dan sistem penghidupan masyarakat telah berubah mengikuti tatanan kota modern.

Di sinilah persoalan menjadi rumit.

Bagaimana merawat kultur jika masyarakatnya dihimpit upah minimum yang rendah? Bagaimana menjalankan menyama braya jika perbedaan tuntutan antara masyarakat adat dan non-adat tidak turut dipertimbangkan? Bagaimana generasi muda mempertahankan kebudayaan jika mereka terus dituntut memenuhi kebutuhan hidup hari ini?

Beratnya tugas para perawat kultur tidak selalu diimbangi oleh kebijakan yang memiliki perhatian terhadap kehidupan mereka.

Dari lamunan sederhana tentang seorang perempuan tua di tengah kemacetan Legian, saya justru dibuat gelisah. Merawat kultur ternyata bukan semata soal mempertahankan tradisi.

Barangkali pertanyaan yang lebih mendasar adalah: bagaimana merawat kultur tanpa melupakan manusia yang setiap hari menjalankannya?

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.