VIRAL, BALINEWS.ID – Kasus penipuan di ranah digital kembali memakan korban. Modus yang digunakan pun kian beragam dan semakin meyakinkan, sehingga tak sedikit masyarakat yang menjadi korbannya.
Terbaru, seorang pengguna Instagram bernama Ida Bagus Mandhara Brasika melalui akun @mandharabrasika membagikan pengalamannya usai menjadi korban phone scam hingga mengalami kerugian ratusan juta rupiah.
Dalam unggahannya pada Sabtu (14/2/26) ia meminta warganet untuk turut menyebarkan cerita tersebut agar tidak ada lagi korban berikutnya. Ia menjelaskan awalnya pelaku menelepon dengan mengatasnamakan pihak pajak. Mereka memanfaatkan kebingungan masyarakat terkait platform Coretax dan mengklaim adanya kesalahan data perpajakan yang harus segera diperbaiki.
Awalnya, korban yang disebut merupakan anggota timnya tidak menaruh curiga. Pasalnya, penelepon mampu menyebutkan data-data pribadi yang akurat, termasuk Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan informasi lain yang menurutnya tidak pernah dipublikasikan. Hal itu membuat korban dan timnya yakin bahwa yang menghubungi benar-benar pegawai pajak resmi.
Situasi kemudian dibuat semakin mendesak. Pelaku mengirimkan tautan untuk mengunduh aplikasi tertentu dan menawarkan bantuan melalui fitur screen sharing. Tanpa disadari, langkah ini justru membuka akses bagi pelaku untuk melihat informasi sensitif di perangkat korban, mulai dari username, PIN, hingga kata sandi.
Dari sinilah petaka terjadi. Setelah data penting berhasil diperoleh, pelaku dengan cepat mengambil alih kendali ponsel korban. Dalam waktu singkat, rekening korban dikuras hingga saldo habis.
Tak hanya mengandalkan data yang akurat, pelaku juga memainkan tekanan psikologis. Korban dibuat panik dan merasa harus segera menyelesaikan masalah saat itu juga, sehingga tidak sempat berpikir jernih atau meminta pendapat pihak lain.
Atas kejadian tersebut, Ida Bagus Mandhara Brasika telah melaporkan kasus ini ke pihak bank terkait, kepolisian, serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan siber terus berkembang dengan modus yang semakin canggih. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada, tidak mudah percaya pada panggilan yang mengatasnamakan instansi resmi, serta tidak sembarangan membagikan akses atau data pribadi kepada pihak yang tidak dapat diverifikasi kebenarannya. (*)


