KLUNGKUNG, BALINEWS – Rangkaian upacara karya di Pura Penataran Agung Sri Srengga, Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, berlangsung mulai Jumat, 16 Oktober 2026. Berdasarkan dudonan karya, puncak upacara dijadwalkan pada Minggu, 25 Oktober 2026, bertepatan dengan Redite Kliwon Watugunung atau Purnama Kelima.
Ketua MGTH Bali, Dr. dr. Anak Agung Wiraguna, menerangkan Upacara akan berlangsung secara bertahap hingga prosesi panyineban pada Rabu, 28 Oktober 2026.
Mengacu pada jadwal yang telah ditetapkan panitia, rangkaian kegiatan diawali pada Jumat, 16 Oktober 2026, pukul 08.00 WITA hingga puput, dengan pelaksanaan nanceb tetaring, sangegar agung, dan pengaruman.
Selanjutnya, pada Minggu, 18 Oktober 2026, dilaksanakan makarya sanganan dan makarya uparengga. Rangkaian berlanjut pada Rabu, 21 Oktober 2026, dengan nanceb sunari, mecaru eka sata, memargi penggalang sasih, dan ngeteg tang.
Pada Kamis, 22 Oktober 2026, kegiatan dilanjutkan dengan mecaru ageng ring utama, madya mandala, Ratu Gede Prantena, serta nunas pakuluh. Seluruh rangkaian tersebut merupakan bagian dari tahapan upacara yang dilaksanakan sebelum memasuki prosesi utama.
Memasuki Jumat, 23 Oktober 2026, kegiatan dimulai pukul 07.00 WITA hingga 13.00 WITA dengan makarya ulam banten, ulam bangkit, dan pengolem. Pada pukul 14.00–17.00 WITA dilaksanakan nedunang Ida Betara, kemudian dilanjutkan pukul 17.00–20.00 WITA dengan nyanggra pengrawuh Ida Betara sareng Penataran Agung lan Pemerajan.
Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 07.00–09.00 WITA, dilaksanakan nyanggra pengrawuh Ida Betara sareng Penataran utawi Pemerajan. Berikutnya, mulai pukul 10.30 WITA hingga puput, dilaksanakan prosesi Ida Betara sami macucian kapuput olih Ida Pedanda Tanjung Griya Sakti Nyalian.
Puncak karya berlangsung pada Minggu, 25 Oktober 2026, mulai pukul 16.30 WITA hingga puput. Prosesi ini akan dipuput oleh Ida Pedanda Gede Ngujung dari Griya Tegal Wangi.
Setelah puncak karya, rangkaian dilanjutkan dengan nganyarin pada Senin, 26 Oktober 2026, pukul 17.00 WITA hingga puput, bersama Ida Begawan Puri Denpasar Bangli. Sehari kemudian, Selasa, 27 Oktober 2026, kegiatan nganyarin kembali dilaksanakan bersama Ida Begawan Griya Sidan pada waktu yang sama.
Rangkaian upacara ditutup pada Rabu, 28 Oktober 2026. Mulai pukul 14.00 hingga 17.00 WITA, dilaksanakan prosesi megat sot ring catus pata Jagat Nyalian, Ida Betara sami tedun ring catus pata, serta prosesi yang dipuput oleh Wikhu Tri Sadaka, yakni Ida Pedanda Gede Nyangelan Bangli, Ida Pedanda Buda Griya Nongan, dan Ida Rsi Bujangga Griya Kehen Bangli.
Pada pukul 17.00 WITA hingga puput, dilaksanakan panyineban sebagai penutup rangkaian karya.
Pelaksanaan upacara ini menjadi momentum penting bagi krama dan umat Hindu untuk menjalankan kewajiban keagamaan serta menjaga keberlanjutan tradisi dan adat Bali. Seluruh rangkaian kegiatan diharapkan dapat berlangsung tertib dengan tetap berpedoman pada dudonan karya yang telah ditetapkan panitia.
Secara khusus pelaksanaan Yadnya Megat Sot dan Caru Nawa Gempang memiliki makna mendalam dalam tradisi keagamaan Hindu Bali. Upacara ini tidak hanya menjadi wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga dimaknai sebagai upaya spiritual untuk menyelesaikan beban masa lampau, menyucikan alam dan manusia, serta memohon keselamatan bagi generasi penerus.
Ketua Panitia, Dewa Gede Taman, menjelaskan bahwa Yadnya Megat Sot bertujuan memutus segala bentuk sosot, sumpah, kutukan, maupun pemastu atau ucapan yang diyakini mengandung kekuatan kutukan dari peristiwa masa lampau.
Menurutnya, pelaksanaan yadnya tersebut menjadi momentum untuk mengakhiri pengaruh buruk yang secara spiritual diyakini masih berkaitan dengan perjalanan leluhur, sehingga tidak membebani kehidupan anak cucu dan keturunan berikutnya.
“Yadnya Megat Sot bukan sekadar pelaksanaan ritual keagamaan, melainkan juga memiliki makna penyelesaian beban masa lalu. Melalui upacara ini, kita memohon agar segala bentuk sosot dan pemastu dapat berakhir, sehingga seluruh keturunan dapat menjalani kehidupan dengan damai, harmonis, dan sejahtera dalam tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” jelas Dewa Gede Taman didampingi Penanggung jawab upacara, Dewa Gede Indrayuda, Dewa MK Tangkeban dan Dewa MK Setiawan.
Ia menegaskan, keutamaan yadnya tersebut terletak pada harapan terciptanya keseimbangan kehidupan, baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, maupun alam lingkungan. Nilai spiritual yang terkandung di dalamnya juga menjadi pengingat bagi generasi sekarang untuk menjaga keharmonisan dan meneruskan kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
Pelaksanaan Yadnya Megat Sot juga berkaitan dengan Caru Nawa Gempang yang memiliki tujuan penyucian secara niskala terhadap alam dan lingkungan, termasuk memohon perlindungan dari berbagai bentuk marabahaya atau Panca Baya. Ritual ini juga dimaknai sebagai upaya penyucian terhadap kekotoran niskala yang diyakini berkaitan dengan peristiwa pertumpahan darah dan konflik pada masa lampau.
Dalam rangkaian Caru Nawa Gempang, penyucian dilakukan terhadap dua aspek utama, yakni Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit. Bhuwana Agung merujuk pada alam semesta dan lingkungan, sedangkan Bhuwana Alit merujuk pada diri manusia.
Penyucian Bhuwana Agung dilakukan terhadap lingkungan, halaman, dan pekarangan rumah masing-masing keluarga atau Jero Puri. Salah satu rangkaiannya adalah memohon Tirtha Nawa Gempang untuk kemudian dipercikkan mengelilingi pekarangan ke arah kiri sebanyak tiga kali.
Prosesi tersebut memiliki makna simbolis sebagai upaya membersihkan dan menetralisasi pengaruh buruk secara niskala. Dengan demikian, lingkungan tempat tinggal diharapkan kembali berada dalam keadaan suci, harmonis, tenteram, dan membawa keselamatan bagi seluruh penghuninya.
Sementara itu, penyucian Bhuwana Alit diarahkan pada diri setiap individu, khususnya keluarga dan keturunan leluhur. Penyucian ini menjadi bagian penting dari permohonan agar setiap anggota keluarga memperoleh kerahayuan, ketenteraman batin, serta perlindungan dalam menjalani kehidupan.
Dewa Gede Taman menambahkan, makna keseluruhan pelaksanaan yadnya ini tidak hanya berorientasi pada penyucian secara ritual, tetapi juga mengandung harapan agar kehidupan keluarga dan keturunan ke depan senantiasa diliputi kedamaian.
Melalui Yadnya Megat Sot dan Caru Nawa Gempang, umat diharapkan dapat memaknai pentingnya menuntaskan tanggung jawab spiritual masa lampau, menjaga kesucian kehidupan saat ini, serta mewariskan keharmonisan bagi generasi mendatang.
Dengan demikian, pelaksanaan yadnya ini menjadi simbol doa dan pengharapan agar seluruh keluarga dan keturunan senantiasa memperoleh kerahayuan, keselamatan, kedamaian, serta tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. (*)

