Bagi banyak wisatawan, mengenal Bali tidak cukup hanya lewat pantai, pura, dan sawah berundak. Ada satu pintu lagi yang sama menariknya, yaitu dapur Bali. Masakan Bali dikenal kaya rempah, dipadukan dengan sayuran segar, daging, dan ikan. Hampir setiap hidangan dibumbui base genep, campuran rempah seperti daun jeruk, bawang merah, bawang putih, lengkuas, ketumbar, kunyit, dan cabai.
Banyak hidangan Bali juga lahir dari tradisi upacara. Babi guling dan ayam betutu, misalnya, awalnya disiapkan untuk upacara adat dan keagamaan sebelum kini dijual di warung, rumah makan, hingga hotel. Berikut 10 kuliner khas Bali yang wajib dicicipi wisatawan, dari hidangan istimewa hingga jajanan pinggir jalan, ditutup dengan tips berburu kuliner di bagian akhir artikel.
1. Babi Guling

Foto: Alex Anderson/Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0)
Di Bali, hidangan ini juga disebut be guling. Seekor babi muda dibersihkan, rongga perutnya diisi bumbu dan sayuran seperti daun singkong, lalu dipanggang utuh di atas bara sambil terus diputar atau digulingkan hingga matang merata. Tanda matangnya terlihat dari kulit yang berubah cokelat kemerahan dan renyah.
Awalnya babi guling menjadi sajian dalam upacara adat dan keagamaan. Kini hidangan ini mudah ditemui di warung dan rumah makan, biasanya disajikan dengan nasi, lawar, dan potongan kulit yang garing. Kabupaten Gianyar dikenal sebagai daerah dengan babi guling paling tersohor di Bali.
Tempat mencicipi: Warung-warung babi guling di Kabupaten Gianyar, termasuk kawasan Ubud. Foto di atas menampilkan babi guling di Warung Ibu Oka, Ubud.
2. Ayam Betutu

Foto: Ezagren/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Nama betutu berasal dari kata "be" yang berarti daging dan "tunu" yang berarti bakar. Ayam utuh dibalur base genep di seluruh permukaannya, sebagian bumbu dimasukkan ke rongga perut, lalu secara tradisional dibungkus dan dipanggang dalam bara sekam hingga aromanya keluar. Kini banyak juru masak memakai oven atau alat panggang modern.
Seperti babi guling, betutu dulunya merupakan hidangan untuk upacara adat dan keagamaan, seperti otonan, odalan, dan pernikahan. Rasanya berbeda di tiap daerah. Betutu khas Gilimanuk, misalnya, dikenal lebih pedas, dan versi ini kini mudah dijumpai di rumah makan di kawasan wisata.
Tempat mencicipi: Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, untuk versi pedasnya; menu betutu juga tersedia di banyak rumah makan khas Bali. Foto di atas menampilkan ayam betutu khas Gilimanuk di sebuah rumah makan di Kuta, Kabupaten Badung.
3. Bebek Betutu

Foto: casey yancey/Wikimedia Commons (CC BY 2.0)
Jika ayam betutu adalah versi ayam, bebek betutu adalah versi bebeknya. Bebek dibalur bumbu betutu yang terdiri atas bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, lengkuas, kemiri, cabai, terasi, dan kacang tanah yang dihaluskan, lalu ditumis dengan minyak kelapa sebelum dioleskan ke daging.
Cara memasaknya beragam. Di Klungkung dan Karangasem, unggas diisi bumbu betutu, sedangkan di Gianyar betutu dimasak dengan dibungkus daun pisang. Hasilnya daging yang lembut dan bumbu yang meresap hingga ke dalam. Bebek betutu biasa disantap dengan nasi, plecing kangkung, kacang goreng, dan sambal.
Tempat mencicipi: Restoran khas Bali dan restoran hotel di berbagai kawasan wisata, yang banyak memasukkan betutu ke dalam menu.
4. Sate Lilit

Foto: Ayu Putu Yudhiari/Wikimedia Commons (CC0)
Berbeda dengan sate pada umumnya yang memakai tusuk kecil dan tajam, sate lilit dibuat dengan melilitkan daging cincang berbumbu pada batang bambu atau tebu yang pipih dan lebar. Kata lilit sendiri berarti membungkus atau melilit. Dagingnya bisa dari babi, ikan, atau ayam, dicampur kelapa parut, santan, jeruk nipis, bawang merah, dan merica, lalu dipanggang di atas bara.
Di desa-desa nelayan seperti Kusamba di Kabupaten Klungkung, yang menghadap ke arah Nusa Penida, sate lilit ikan sangat digemari. Setiap daerah punya ciri khasnya sendiri; sate lilit ala Gianyar seperti pada foto, misalnya, punya perbedaan pada jenis katik atau batang bambu yang dipakai.
Tempat mencicipi: Warung sate dan rumah makan khas Bali di seluruh pulau; sate lilit ikan banyak dijumpai di kawasan pesisir Kusamba, Kabupaten Klungkung.
5. Lawar

Foto: ちちゃ/Wikimedia Commons (CC BY 2.1 JP)
Lawar adalah campuran sayuran dan daging cincang yang dibumbui merata, ditambah kelapa parut serta bumbu seperti kunyit, kemiri, bawang merah, dan bawang putih. Pada beberapa jenis lawar ditambahkan darah dari daging itu sendiri yang diolah dengan bumbu, sehingga warnanya menjadi merah.
Namanya mengikuti bahan atau warnanya: ada lawar babi, lawar nangka, lawar merah, lawar putih, hingga lawar padamare yang merupakan campuran beberapa jenis lawar. Lawar disantap sebagai teman nasi bersama lauk lain dan paling nikmat dimakan segar, karena di udara terbuka lawar hanya bertahan sekitar setengah hari.
Tempat mencicipi: Warung nasi Bali dan warung babi guling di berbagai kabupaten. Bagi wisatawan muslim, tersedia pula lawar halal yang tidak memakai darah dan menggunakan bahan pengganti daging babi.
6. Nasi Campur Bali

Foto: Komang arie/Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
Nasi campur Bali, atau sering disebut nasi Bali saja, adalah cara paling praktis untuk mencicipi banyak rasa Bali sekaligus. Sepiring nasi putih dikelilingi beragam lauk dalam porsi kecil, misalnya ayam betutu, ayam bakar dengan sambal matah, telur, sayuran, dan plecing kacang panjang seperti pada foto.
Isinya berbeda dari satu warung ke warung lain, tetapi rasanya tetap berakar pada base genep. Hidangan ini menjadi favorit wisatawan dan termasuk versi nasi campur yang paling dikenal di dunia, berkat popularitas Bali sebagai tujuan wisata internasional.
Tempat mencicipi: Warung nasi campur dan rumah makan khas Bali di Denpasar, Badung, Gianyar, dan kabupaten lain di Bali.
7. Nasi Jinggo

Foto: Okkisafire/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Nasi jinggo adalah nasi bungkus porsi kecil khas Bali yang dikemas dengan daun pisang. Isinya nasi putih sekepalan tangan dengan lauk seperti sambal goreng tempe, serundeng, dan ayam suwir, ditambah sambal. Kini banyak penjual juga menawarkan variasi dengan nasi kuning, mi goreng, atau telur. Karena porsinya mungil, pembeli biasanya membeli lebih dari satu bungkus.
Menurut para penjualnya, nasi jinggo mulai dijual sekitar tahun 1980-an di Jalan Gajah Mada, Denpasar, dekat Pasar Kumbasari yang ramai hingga malam. Asal namanya punya beberapa versi, salah satunya dari bahasa Hokkien "cheng-go" yang berarti seribu lima ratus, merujuk pada harganya di masa lalu.
Tempat mencicipi: Lapak dan pedagang kaki lima di Denpasar, terutama pada sore hingga malam hari; nasi jinggo kini juga dijual di kota-kota lain di Bali.
8. Tipat Cantok

Foto: Kresnanta/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Tipat cantok adalah hidangan khas Denpasar berupa potongan ketupat dan sayuran rebus yang disiram bumbu kacang. Dalam bahasa Bali, tipat berarti ketupat, sedangkan cantok berarti diulek atau dihaluskan dengan cobek, merujuk pada cara membuat bumbu kacangnya.
Sayuran yang umum dipakai adalah kacang panjang, tauge, dan kangkung, kadang dilengkapi tahu dan telur seperti pada foto. Rasanya gurih dan segar, cocok bagi wisatawan yang mencari hidangan Bali tanpa daging.
Tempat mencicipi: Warung dan pedagang tipat cantok di Denpasar serta kota-kota lain di Bali.
9. Serombotan

Foto: Fitri Penyalai/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Serombotan adalah sayuran khas Kabupaten Klungkung yang mirip urap. Bahannya antara lain botor muda atau kecipir, terong bulat, pare, tauge, kubis, kangkung, dan kacang panjang yang dimasak setengah matang. Ciri khasnya adalah bumbu kalas, yaitu santan yang dimasak kental dengan kunyit, lengkuas, bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan sedikit kencur.
Serombotan biasa disajikan dengan kacang goreng dan bisa dipesan pedas. Pada 2022, pemerintah menetapkan serombotan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Seperti pada foto, hidangan ini banyak dijajakan di lapak pinggir jalan.
Tempat mencicipi: Pedagang serombotan di Kabupaten Klungkung, serta lapak-lapak di kota lain di Bali.
10. Rujak Kuah Pindang

Foto: Okkisafire/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Rujak kuah pindang adalah rujak khas Bali yang paling berani rasanya. Isinya potongan buah segar seperti mangga, bengkuang, pepaya, nanas, kedondong, mentimun, dan belimbing. Yang membuatnya berbeda adalah kuahnya: kaldu ikan pindang yang dicampur cabai, terasi, dan garam yang diulek halus.
Perpaduan asam buah, gurih kaldu ikan, dan pedas cabai inilah yang membuat rujak ini digemari warga Bali. Ada pula varian rujak kuah pindang gula yang ditambah gula pasir agar rasa amis ikannya tidak terlalu kuat. Rujak ini biasanya disajikan dalam mangkuk.
Tempat mencicipi: Pedagang rujak dan warung jajanan di berbagai kota dan desa di Bali.
Tips berburu kuliner Bali
Sejumlah hidangan di atas, seperti babi guling, lawar, dan sebagian sate lilit, berbahan daging babi. Wisatawan muslim sebaiknya menanyakan bahan kepada penjual dan memilih warung berlabel halal; versi ayam, ikan, dan sayuran seperti ayam betutu, sate lilit ikan, tipat cantok, dan serombotan mudah ditemukan. Masakan Bali umumnya pedas, jadi jangan ragu meminta sambal dipisah. Datanglah lebih awal ke warung yang terkenal karena menu favorit bisa cepat habis, dan pilih tempat yang bersih serta ramai pembeli.
Wisatawan mancanegara wajib membayar Pungutan Wisatawan Asing sebesar Rp150.000 per orang melalui lovebali.baliprov.go.id. Jam buka, menu, dan harga di tiap warung atau rumah makan dapat berubah, sehingga sebaiknya cek informasi terbaru kepada pengelola sebelum berangkat.

