DENPASAR, BALINEWS.ID — Diskusi mengenai dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap industri energi semakin hangat, terutama dalam meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan. Banyak perusahaan mulai mengadopsi teknologi ini untuk menghadapi tantangan energi global.
Menurut laporan dari MIT Technology Review, AI saat ini menjanjikan kemampuan untuk memperbaiki dirinya sendiri dengan sedikit pengawasan manusia.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa AI belum mampu melakukan penelitian terbuka yang memerlukan penilaian dan kreativitas.
Peter Kirgis dan Sayash Kapoor dari Princeton University menemukan bahwa meskipun AI dapat menyelesaikan masalah teknik, mereka masih kurang dalam kreativitas untuk menghasilkan penelitian orisinal. Penelitian ini menyoroti bahwa AI masih memiliki jalan panjang sebelum dapat sepenuhnya mengotomatiskan penelitian energi.
