DENPASAR, BALINEWS – Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali belum terurai hingga hari keempat, Kamis (15/10/2026). Di tengah sulitnya masyarakat mendapatkan Pertalite dan Pertamax, muncul laporan penjualan bensin eceran dalam botol berukuran 1,5 liter dengan harga mencapai Rp200.000. Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali menduga pembelian BBM berulang dan kemungkinan penyimpangan distribusi turut memperburuk situasi.
Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean kendaraan masih terlihat di sejumlah SPBU di Denpasar, antara lain di kawasan Hayam Wuruk, Renon, Marlboro, Sesetan, Sidakarya, Ahmad Yani, Gatot Subroto Tengah, Ubung, dan Denpasar Timur. Antrean serupa juga terjadi di wilayah Kuta Selatan, Kabupaten Badung, hingga memicu kemacetan di sejumlah ruas jalan.
Di tengah kondisi tersebut, sebagian konsumen memilih tidak mengantre karena panjangnya antrean dan sulitnya memperoleh BBM. Sementara itu, laporan mengenai penjualan bensin eceran dengan harga jauh di atas harga normal menambah keresahan masyarakat.
Ketua Pengurus Wilayah (PW) IWO Bali, Tri Widiyanti, menduga terdapat oknum yang membeli BBM berulang kali untuk kemudian menjualnya kembali dengan harga tinggi. Dugaan tersebut dinilai perlu ditelusuri karena masyarakat sedang kesulitan memperoleh bahan bakar untuk kebutuhan sehari-hari.
“Diduga ada oknum warga yang membeli berkali-kali, bahkan ada yang sampai tiga kali. Mengapa? Karena mereka bisa menjualnya dengan harga fantastis. Di Canggu, kami menerima laporan bensin satu botol ukuran 1,5 liter dijual sampai Rp150.000 hingga Rp200.000. Bahkan, katanya, ada yang dijual di marketplace sampai Rp500.000. Itu kan parah,” kata Tri Widiyanti di Denpasar, Kamis (15/10/2026).
Perempuan yang akrab disapa Widy itu mengatakan dugaan pembelian berulang untuk dijual kembali perlu diperiksa guna memastikan apakah praktik tersebut turut memengaruhi ketersediaan BBM bagi masyarakat.
IWO Soroti Dugaan Keterlibatan Oknum SPBU
Selain dugaan pembelian berulang, IWO Bali mengaku menerima informasi mengenai kemungkinan keterlibatan oknum petugas SPBU dalam penyaluran BBM kepada pihak tertentu.
Menurut Widy, informasi yang diterima menyebutkan adanya dugaan petugas SPBU yang memasok BBM dalam jumlah cukup besar kepada tempat usaha atau lokasi tertentu yang memiliki hubungan pertemanan dengan petugas tersebut.
“Kami mendapat informasi bahwa ada sejumlah oknum petugas SPBU yang bermain. Mereka menyuplai bensin dalam jumlah yang lumayan untuk diberikan kepada satu tempat dan itu adalah temannya,” ungkap Widy, yang juga merupakan jurnalis Metrobali.co.id.
Meski demikian, ia menegaskan informasi mengenai dugaan keterlibatan warga maupun petugas SPBU tersebut masih harus diverifikasi. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah benar terjadi penyimpangan dalam pembelian maupun penyaluran BBM.
IWO Bali pun mendesak PT Pertamina (Persero) menelusuri dugaan tersebut, termasuk kemungkinan adanya distribusi BBM yang tidak sesuai ketentuan.
“Kami berharap Pertamina juga mengusut, benarkah ada oknum SPBU yang bermain. Kami sudah menderita, kok bisa ada yang memanfaatkan situasi kelangkaan BBM ini untuk mendapatkan keuntungan pribadi,” ujar Widy.
Menurutnya, pengawasan distribusi perlu diperketat agar pasokan BBM dapat menjangkau masyarakat secara merata. Penelusuran juga diperlukan untuk memastikan tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi sulit tersebut demi keuntungan pribadi.
Hingga berita ini ditulis, dugaan pembelian BBM berulang, penjualan bensin eceran dengan harga tinggi, dan kemungkinan keterlibatan oknum petugas SPBU belum terverifikasi secara independen. Konfirmasi dari Pertamina dan pihak berwenang masih diperlukan untuk memastikan kebenaran informasi tersebut sekaligus menjelaskan penyebab antrean BBM yang belum terurai di Bali.

