BADUNG, BALINEWS.ID – Asosiasi Biro Perjalanan Wisata, ASITA Bali melalui Komite Pasar Cina menggelar malam silaturahmi sekaligus dialog bertema “New Momentum, New Journey in the Year of Fire Horse” di Wanaku Seafood Restaurant, Kuta, Jumat (6/3/2026). Kegiatan ini menjadi momentum membahas strategi menghadapi perubahan signifikan di pasar wisata Tiongkok.
Ketua Komite Pasar Cina DPD ASITA Bali, Eri Tjendana, mengatakan dinamika pasar wisata global, khususnya dari Tiongkok, terus mengalami pertumbuhan sekaligus transformasi. Karena itu pelaku industri perjalanan harus berani melihat realitas pasar dan menyesuaikan strategi agar tetap relevan.
“Di Tahun Kuda Api yang melambangkan energi, keberanian, dan pergerakan maju, ini saat yang tepat untuk menyelaraskan strategi agar lebih adaptif menghadapi dinamika pasar 2026,” ujarnya.
Ia berharap peningkatan kunjungan wisatawan dari Tiongkok dapat memberi manfaat positif bagi destinasi Bali, pelaku usaha pariwisata, serta wisatawan itu sendiri.
Sementara itu, Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra, menegaskan pentingnya kolaborasi antaranggota dan sinergi dengan pemerintah dalam menyikapi perubahan dinamika industri pariwisata.
Menurutnya, asosiasi terus mendorong peningkatan kualitas hubungan dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk menyesuaikan tata kelola bisnis perjalanan wisata dan hospitality di Bali.
“Tanpa dukungan anggota, upaya yang dilakukan asosiasi tidak akan mencapai tujuan. Sikap anggota menentukan kualitas usaha, kualitas pasar yang dilayani, dan menjadi tolok ukur kualitas destinasi,” tegasnya.
Winastra juga menekankan bahwa meskipun teknologi di sektor travel dan hospitality berkembang pesat, peran sumber daya manusia tetap tidak tergantikan, terutama dalam layanan wisata budaya berbasis kearifan lokal.
Dalam dialog tersebut terungkap bahwa kunjungan wisatawan dari Republik Rakyat Tiongkok, termasuk Taiwan, menunjukkan tren pertumbuhan positif. Namun dari jumlah tersebut, baru sekitar 30 persen pasar wisatawan Cina daratan dan sekitar 20 persen pasar Taiwan yang dikelola oleh anggota ASITA Bali.
Komite Pasar Cina menilai kondisi tersebut menunjukkan masih belum stabilnya tata kelola ekosistem pariwisata Bali untuk pasar Tiongkok. Meski demikian, asosiasi mengajak anggota tetap fokus melihat peluang serta mencari strategi untuk menjaga kualitas pariwisata Bali.
Selain itu, tren wisatawan dari Tiongkok juga mengalami perubahan. Jika lima hingga sepuluh tahun lalu identik dengan wisata massal, kini pasar tersebut mulai bergeser menjadi wisatawan lebih eksklusif dan free independent traveler (FIT) dengan permintaan produk wisata yang lebih beragam.
Ketua DPD HPI Bali, Nyoman Nuarta, dalam kesempatan yang sama juga mendorong anggota ASITA untuk berperan dalam regenerasi pemandu wisata berbahasa Mandarin dengan melibatkan sumber daya manusia lokal.
Ia menilai peningkatan kompetensi SDM menjadi bagian penting dari tanggung jawab perusahaan dalam meningkatkan kualitas layanan wisata.
Dengan semangat “New Momentum, New Journey in the Year of Fire Horse”, Komite Pasar Cina ASITA Bali optimistis anggotanya mampu mengelola pasar wisata Tiongkok secara lebih adaptif, kreatif, dan kolaboratif demi mendukung pariwisata Bali dan Indonesia. (*)
