BADUNG, BALINEWS - Selama bulan September wilayah Bali diguncang kurang lebih 58 kejadian gempabumi.
Dilihat dari kekuatan gempanya, 86 % merupakan kejadian gempabumi dengan Magnitudo M <=3, dan 14 % merupakan gempa dengan Magnitudo 3 <M<=5.
"Lebih jauh, mayoritas gempabumi terjadi selama September didominasi gempabumi dangkal," ujar PMG Muda BBMKG Wilayah III, Yogha Mahardikha Kuncoro Putra, dalam keterangan tertulisnya Minggu,(1/11/2026) di Badung.
Menurut Dirinya, Sebagian besar gempa terjadi di selat pulau Bali disebabkan,aktivitas subduksi lempeng hingga sesar aktif di bawah laut.
"Mayoritas gempabumi terjadi berada di selatan pulau Bali dengan kedalaman dangkal disebabkan oleh adanya aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia di bawah lempeng Eurasia serta sesar aktif di dasar laut," terangnya.
Dirinya menyampaikan, meskipun terjadi gempabumi per September, kondisi tersebut dalam kategori normal.
""Rata-rata per hari terjadi kurang lebih 2 kejadian gempabumi disekitar Pulau Bali selama September dari data BMKG.Meskipun demikian kondisi tersebut dinilai normal mengingat secara geografis pulau Bali berada pada zona seismik aktif," sebutnya.
Ia mengatakan, Sampai saat ini belum ada teknologi mampu memprediksi kapan dan dimana terjadinya gempa bumi.
"Namun, yang perlu dipahami Pulau Bali memiliki potensi terjadi gempabumi karena posisinya yang dekat dengan zona sumber gempabumi seperti zona subduksi (di selatan), patahan busur belakang flores (di utara), serta sesar lokal yang berada di daratan pulau Bali," bebernya.
Sembari Ia menghimbau masyarakat agar tetap tenang
"Tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, Pastikan informasi gempabumi dan tsunami selalu bersumber dari kanal resmi BMKG, dan Pahami langkah-langkah mitigasi gempabumi dan tsunami. Materi dapat diakses melalui website dan media sosial BMKG.(*)

