TABANAN, BALINEWS.ID – Ribuan pelari memadati kawasan persawahan Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, dalam ajang Bali Tourism Run 2026, Minggu (21/6/2026). Event yang digelar di kawasan Warisan Budaya Dunia UNESCO itu menjadi pembuka rangkaian peringatan 100 Tahun Pariwisata Bali.
Kegiatan yang diinisiasi Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali ini diikuti lebih dari 1.700 peserta, baik dari dalam maupun luar negeri. Selain menjadi ajang olahraga, kegiatan tersebut juga mendorong perputaran ekonomi masyarakat melalui keterlibatan pelaku UMKM lokal.
Ketua ASITA Bali, I Putu Winastra, mengatakan perputaran uang dari penyelenggaraan Bali Tourism Run diperkirakan mencapai lebih dari Rp2 miliar.
“Dalam perencanaan awal, kami mengestimasi perputaran uang sekitar Rp1,5 miliar. Namun, melihat antusiasme peserta dan keterlibatan aktif UMKM, kami yakin angkanya bisa menembus lebih dari Rp2 miliar,” ujar Winastra.
Ia menambahkan, penyelenggaraan Bali Tourism Run juga memberi dampak bagi sektor pendukung seperti penginapan dan usaha mikro di kawasan Jatiluwih, sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian destinasi warisan dunia.
Sekretaris Daerah (Sekda) Bali, Dewa Made Indra, berharap konsep sport tourism seperti ini bisa terus digelar di berbagai destinasi wisata Bali. Menurutnya, ajang berikutnya direncanakan berlangsung di Besakih.
“Ide dari Ketua ASITA, ajang berikutnya direncanakan di Besakih. Sesuai arahan Gubernur Bali, kita harus bergerak dari satu DTW ke DTW lainnya, terutama yang merepresentasikan harmoni antara manusia, budaya, dan alam,” kata Dewa Indra.
Ia menilai kegiatan seperti Bali Tourism Run menjadi cara kreatif untuk memperkenalkan destinasi wisata sekaligus menyampaikan pesan bahwa pariwisata Bali tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga budaya dan lingkungan.
Selain lomba lari sejauh 5 kilometer, peserta juga menikmati sajian kuliner dari UMKM setempat dan berkesempatan membawa pulang berbagai doorprize yang disiapkan panitia. (*)
